Solusi untuk: Teka-teki Penyiram Air Keras Aktivis KontraS

Teka-teki Penyiram Air Keras Aktivis KontraS

Seorang wakil koordinator dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban serangan penyiraman cairan keras oleh pihak tak dikenal di wilayah Jakarta Pusat pada malam hari Kamis (12/3). Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 23.00 WIB, saat Andrie sedang menghadiri acara podcast bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor YLBHI.

Keterangan dari Koordinator KontraS

Dimas Bagus Arya, koordinator KontraS, menyampaikan bahwa Andrie mengalami luka serius di berbagai bagian tubuh, termasuk tangan kiri dan kanan, wajah, dada, serta mata. Menurutnya, serangan ini dilakukan oleh dua orang laki-laki yang menggunakan satu kendaraan motor matik, diduga Honda Beat, datang dari arah berlawanan saat Andrie sedang berkendara di Jalan Salemba I–Talang.

“Salah satu pelaku menyiramkan cairan keras ke arah korban hingga menyentuh sebagian tubuh. Akibatnya, korban langsung berteriak kesakitan dan terjatuh dari motornya,”

Menurut Dimas, pelaku pertama mengenakan kaus kombinasi putih-biru, celana gelap yang diduga jeans, serta helm hitam. Sementara pelaku kedua menggunakan masker hitam, kaus biru tua, dan celana panjang jeans yang dilipat pendek.

Respons dari Polri

Kadiv Humas Polri, Irjen Johnny Eddizon Isir, menyatakan bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini. “Bapak Kapolri telah memberikan atensi khusus terhadap penanganan dan pengungkapan kejadian ini,”

Johnny menambahkan bahwa penyidik sudah mengambil langkah-langkah seperti olah tempat kejadian perkara dan membuat laporan model A, karena belum ada laporan resmi dari korban. Laporan model A merupakan bentuk laporan awal yang dibuat polisi sebelum penyidikan lebih lanjut.

Kasus ini ditangani oleh Polres Jakarta Pusat dengan bantuan Polda Metro Jaya. Bareskrim Mabes Polri juga memberikan dukungan dalam proses investigasi. Johnny meminta warga yang memiliki informasi terkait peristiwa ini untuk segera memberikan keterangan kepada penyidik, dengan menjamin perlindungan bagi pemberi informasi.

Penolakan dari DPR

Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni, mengkritik terjadinya insiden serupa di tahun 2026. Menurutnya, hal ini merugikan lingkungan demokrasi. “Teror seperti ini sangat tidak baik bagi iklim demokrasi kita, apalagi jika motifnya berkaitan dengan aktivitas korban,”

Sahroni menekankan perlunya Polri segera mengungkap dalang dan motif penyerangan. Sementara itu, anggota Komisi III Soedeson Tandra menyetujui perlunya investigasi lebih lanjut. “Kami minta pihak kepolisian mengusut siapa pun yang terlibat, bukan hanya masalah aktivis KontraS, tetapi juga mengenai keselamatan warga negara,”