Skip to content
Metro

Sindikat Judi Online Hayam Wuruk Libatkan 4 WNI

Sinta Kurniawan - tempatdonasi.com 4 mins read

yam Wuruk Buka Jaringan yang Melibatkan 4 WNI Special Plan - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri berhasil mengungkap sindikat judi online yang beroperasi

Sindikat Judi Online Hayam Wuruk Libatkan 4 WNI

Sindikat Judi Online Hayam Wuruk Buka Jaringan yang Melibatkan 4 WNI

Tempatdonasi.com – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri berhasil mengungkap sindikat judi online yang beroperasi di Hayam Wuruk Tower Plaza, Jakarta Barat. Selama dua bulan, jaringan ini diduga mengelola 145 situs atau domain perjudian daring dan mengantongi dana deposit senilai Rp13,9 triliun. Selain itu, penyidik juga menyita uang tunai Rp8,5 miliar serta mata uang asing seperti dolar, baht, dan ringgit yang bernilai sekitar Rp245 juta.

Empat WNI Terlibat dalam Operasi Perjudian Daring

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Wira Satya Triputra mengungkapkan bahwa keempat warga negara Indonesia (WNI) memiliki peran yang berbeda dalam menjalankan operasi sindikat tersebut. “Tim penyidik mengembangkan kasus dan menetapkan empat orang WNI sebagai tersangka,” jelas Wira di Gedung Bareskrim Polri, Jumat, 26 Juni 2026.

“Kasus ini terus dikembangkan hingga menemukan empat orang WNI yang terlibat langsung dalam operasi,” ujar Wira.

Kedua tersangka, MAP dan DA, terlibat dalam pengelolaan keuangan. MAP bertindak sebagai admin keuangan, sementara DA juga membantu menukar dana ke aset kripto. MAP ditangkap saat penyidik menggerebek lantai 20 dan 21 gedung Hayam Wuruk Tower Plaza pada Kamis, 7 Mei 2026. Sementara itu, DA ditemukan sedang menangani dokumen keimigrasian para warga negara asing (WNA) yang terlibat dalam jaringan judi tersebut.

Berdasarkan penyelidikan, MAP memiliki hubungan langsung dengan Lio Hongyu alias Leo alias LTH, seorang warga negara Cina yang diduga menjadi koordinator utama sindikat. Lio sempat menghindar setelah operasi penyitaan dan kini diperkirakan berada di Cina. “Kami memperkirakan Lio adalah pusat pengambilan keputusan di balik operasi ini,” tambah Wira.

Tersangka Berperan sebagai Penyewa dan Penyuplai Dana

Tersangka BT berperan sebagai penyewa lantai 20 dan 21 di gedung yang digunakan sebagai basis operasi. Sementara itu, DFA bertugas menyiapkan rekening dan kartu ATM yang digunakan untuk mengalirkan dana ke dalam jaringan. Dana yang masuk ke rekening tersebut berfungsi sebagai pendanaan untuk aktivitas perjudian daring. “Dana itu digunakan untuk menjalankan operasi dan memperbesar skala bisnis,” terang Wira.

Selain itu, penyidik juga menemukan bahwa sindikat ini terdiri dari 287 dari 321 WNA yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk 76 warga negara Cina, tiga warga negara Laos, dua warga negara Malaysia, 15 warga negara Myanmar, enam warga negara Thailand, dan 185 warga negara Vietnam. Peran mereka mencakup customer service, programmer, admin marketing, admin keuangan, serta peserta pelatihan pengoperasian situs judi.

Penyelidikan terus berlanjut hingga menyita 145 domain judi online. Sebelumnya, pihak kepolisian hanya memperkirakan sindikat tersebut mengendalikan 75 situs. “Kini kita mengungkap jumlah yang jauh lebih besar,” ungkap Wira.

Jaringan Beroperasi Selama Dua Bulan

Operasi perjudian daring ini berlangsung selama sekitar dua bulan, sejak awal April hingga akhir Mei 2026. Selama periode tersebut, diperkirakan sindikat ini mengumpulkan keuntungan sebesar Rp1,69 triliun dari total dana deposit Rp13,9 triliun. Analisis digital forensik dari perangkat telepon genggam, komputer, dan laptop menjadi dasar untuk mengungkap besaran dana yang terlibat.

Terlepas dari dana yang disita, penyidik juga menemukan bahwa perusahaan sponsor menjadi faktor penting dalam membantu kelancaran operasi. Dua perusahaan tercatat sebagai penjamin pengurusan visa para WNA: PT Klitz Tour and Travel dan PT 1688 Prima. Tempo mengunjungi kantor kedua perusahaan tersebut di Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan Taman Sari, Jakarta Barat. Saat kunjungan dilakukan pada Rabu, 10 Juni 2026, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah menggeledah PT Klitz dalam rangka menelusuri dugaan pemerasan yang melibatkan pejabat Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Keberadaan WNA Jadi Fokus Penyelidikan

Pegawai dari kedua perusahaan mengakui bahwa mereka membantu pengurusan dokumen keimigrasian bagi sebagian anggota sindikat. Namun, mereka membantah terlibat langsung dalam kegiatan perjudian. Tempo telah mengirimkan surat permohonan wawancara kepada perusahaan-perusahaan tersebut, tetapi hingga kini belum mendapatkan respons resmi.

Para WNA yang terlibat dijaring dalam beberapa peran kunci. Sebagian besar di antaranya menjadi customer service, programmer, dan admin, sementara sekitar 185 orang berperan sebagai peserta pelatihan untuk operasi situs judi. Tersangka lain seperti LTH diduga bertindak sebagai penghubung antara lantai operasional dengan pihak eksternal.

Operasi Jaringan Berhasil Dilakukan

Bareskrim Polri melalui penyelidikan intensif telah mengidentifikasi semua anggota sindikat. Penyitaan dilakukan dengan memblokir akses ke dana dan alat keuangan yang digunakan untuk operasional. “Kami telah mengamankan semua anggota yang terlibat, termasuk keempat WNI,” kata Wira.

Dalam penyelidikan, pihak kepolisian menemukan bahwa jaringan ini tidak hanya beroperasi di Jakarta, tetapi juga memiliki jaringan kecil di kota-kota lain. Beberapa WNA terlibat dalam kegiatan di luar Jakarta, seperti pemasaran dan penerimaan pembayaran. “Ini menunjukkan tingkat komunikasi dan keterlibatan yang luas,” jelas Wira.

Besarnya dana yang terlibat membuat kasus ini menjadi salah satu yang paling signifikan dalam sejarah penyidikan perjudian daring di Indonesia. Angka Rp13,9 triliun mencerminkan skala kegiatan yang terorganisir dan terencana. “Kami yakin sindikat ini telah merencanakan seluruh aktivitas secara rapi untuk memaksimalkan keuntungan,” tambah Wira.

Kasus Masih Terus Berkembang

Kepolisian akan melanjutkan penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan para sponsor. Selain itu, mereka juga menginvestigasi kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam operasi. “

Join the discussion