Skip to content
Metro

Polisi Bongkar 112 Vape Isi Narkoba di Bandara Kualanamu

Andi Permata - tempatdonasi.com 4 mins read

Polisi Bongkar 112 Vape Isi Narkoba di Bandara Kualanamu Polisi Bongkar 112 Vape Isi Narkoba - Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Ditipidnarkoba)

Polisi Bongkar 112 Vape Isi Narkoba di Bandara Kualanamu

Polisi Bongkar 112 Vape Isi Narkoba di Bandara Kualanamu

Tempatdonasi.com – Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Ditipidnarkoba) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri berhasil mengungkap kasus peredaran narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya di Bandar Udara Internasional Kualanamu (KNO), Sumatera Utara. Narkoba jenis etomidate, yang dikemas secara tersembunyi dalam cartridge vape, telah ditemukan dalam jumlah 112 unit. Penyelidikan ini memperlihatkan strategi penggelapan yang canggih, dengan barang ilegal disembunyikan dalam perangkat elektrik yang digunakan oleh konsumen modern.

Kasus tersebut terungkap pada 20 Juni 2026, saat Tim Subdirektorat IV Ditipidnarkoba Bareskrim Polri bersama Satgas NIC sedang melakukan pemeriksaan di Bandara Kualanamu. Saat itu, petugas Avsec menangkap seorang individu yang berlari keluar dari area pemeriksaan bagasi. Menurut keterangan yang diberikan oleh Brigadir Jenderal Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, kejadian ini berlangsung tepat sebelum penerbangan ke Jakarta.

“Ketika itu, tim melihat seseorang berlari meninggalkan area pemeriksaan bagasi sambil dikejar oleh petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Internasional Kualanamu,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Ahad, 28 Juni 2026.

Individu yang tertangkap tersebut dikenal sebagai Samuel Roynald Sihaan. Dalam penyelidikan awal, diketahui bahwa Samuel menerima dana sebesar Rp 250 juta untuk mengirimkan barang tersebut. Tim yang diutus langsung membantu Avsec mengejar pihak yang bersangkutan, hingga akhirnya berhasil menangkapnya. Dalam pemeriksaan, terungkap bahwa Samuel membawa vape Batman yang diduga mengandung zat etomidate, dengan alat penyimpanan tersembunyi dalam kotak styrofoam yang berisi kopi durian dan es batu.

Beberapa jam setelah penangkapan Samuel, petugas Subdirektorat IV Ditipidnarkoba Bareskrim Polri menemukan rekannya, Willy Raja Pande Turnip, di area keberangkatan Bandara Kualanamu pada 20 Juni 2026. Dalam wawancara, Willy mengungkap bahwa vape yang dibawa Samuel berasal dari Deddy Pratama Putra. “Hasil pemeriksaan Willy, diperoleh keterangan bahwa vape yang dibawa Samuel diperoleh dari Deddy Pratama Putra,” jelas Eko.

Di hari berikutnya, Tim Subdirektorat IV yang dipimpin Komisaris Besar Handik Zusen melakukan operasi serupa di gerai Indomaret, Jalan Tuasan, Kota Medan. Deddy dan istrinya, Wiwin Pradina, ditangkap di rumah mereka di daerah Supratman, Lorong Family Nomor 34. Safrizal, suami Widya Siregar, juga turut diamankan. Pihak kepolisian menyebut bahwa Widya dan suaminya berperan dalam penyimpanan dan pengemasan narkoba, sementara Wiwin dikenal sebagai penyalur di tingkat lokal.

Dari keterangan Deddy, petugas menyimpulkan bahwa narkoba tersebut berasal dari Akbar Bodamer. Akbar juga telah ditangkap dan mengungkap bahwa barang tersebut diperoleh dari Teddy Hamdani, yang diduga menjadi koordinator distribusi dalam jaringan peredaran vape. Dengan pengetahuan ini, polisi kini fokus mengejar Teddy serta Ahmad, yang dianggap sebagai bos dari jaringan tersebut.

Keterlibatan Akbar dalam kasus ini menunjukkan adanya rantai distribusi yang terstruktur. Narkoba jenis etomidate, yang memiliki efek anestesi pada manusia, dibawa dalam bentuk vape untuk memudahkan peredaran. Modus ini memanfaatkan kepopuleran perangkat elektrik sebagai cara sembunyi-sembunyi dari pemeriksaan rutin. Berdasarkan pengakuan Teddy, keterlibatan jaringan ini mencakup beberapa titik, mulai dari produsen hingga pengirim ke bandara.

Pola penyebaran narkoba ini menunjukkan kebutuhan akan strategi adaptasi. Dengan menyelipkan zat aktif ke dalam vape, pelaku bisa menghindari deteksi awal di bandara, yang biasanya lebih fokus pada barang berbentuk fisik. Tindakan ini menggarisbawahi kecanggihan cara penggelapan oleh para pelaku, yang memanfaatkan teknologi modern untuk melanggar regulasi keamanan.

Sebagai langkah pencegahan, Bareskrim Polri berencana memperkuat pemeriksaan bagasi dan perangkat elektrik di area keberangkatan. Penangkapan Samuel, Willy, Deddy, dan keluarga mereka menunjukkan bahwa jaringan ini sudah aktif cukup lama, dengan pelaku yang menyebar di beberapa wilayah. Di sisi lain, tindakan cepat petugas Avsec membantu mengungkap keberadaan narkoba sebelum mereka terbang ke Jakarta.

Kasus ini juga menjadi bahan evaluasi bagi kepolisian daerah, terutama terkait koordinasi antara satuan tugas dan petugas keamanan bandara. Dengan menemukan jejak keterlibatan Akbar dan Teddy, tim penyidik mulai menggali lebih dalam tentang keberadaan jaringan yang mungkin beroperasi di luar area bandara. Selain itu, polisi masih berupaya mengungkap rekan-rekan lain yang berperan dalam rantai distribusi.

Penemuan 112 unit vape di Bandara Kualanamu menjadi contoh nyata tentang bagaimana narkoba dapat diselipkan dalam barang bawaan yang sehari-hari digunakan oleh masyarakat. Etomidate, yang biasanya digunakan dalam medis, diproduksi dalam skala besar dan disalurkan ke konsumen secara ilegal. Keterlibatan pelaku seperti Deddy dan Akbar membuktikan bahwa jaringan ini tidak hanya berfokus pada pengiriman tetapi juga distribusi lokal, yang berpotensi mengancam keamanan masyarakat sekitar.

Dalam proses penyelidikan, petugas Avsec juga menemukan bukti bahwa narkoba ini diperoleh dari pihak-pihak yang berada di tingkat produsen. Akbar Bodamer, sebagai penghubung, menjadi kunci dalam mengungkap jalur distribusi yang tersembunyi. Polisi kini mengerahkan sumber daya untuk melacak lebih lanjut, termasuk menelusuri keterlibatan individu yang mungkin terlewat dalam investigasi awal.

Keberhasilan operasi di Kualanamu menunjukkan pentingnya pengawasan ketat terhadap barang bawaan pengguna bandara. Meski demikian, kasus ini juga mengingatkan bahwa modus baru peredaran narkoba terus berkembang, memanfaatkan tren teknologi untuk menyebar lebih cepat. Dengan menangkap para pelaku di berbagai titik, Bareskrim Polri mencoba mematahkan rantai distribusi ini sebelum lebih banyak korban terlibat.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, polisi juga memperkenalkan strategi baru dalam pemeriksaan keamanan. Salah satu langkah

Join the discussion