Gaya

Latest Program: Mendorong Orang Tua Bangun Kebiasaan Digital Sehat bagi Anak

Mendorong Orang Tua Bangun Kebiasaan Digital Sehat bagi Anak Latest Program - Dalam dunia modern yang semakin dihiasi oleh kemajuan teknologi, peran orang tua

Desk Gaya
Published Juni 10, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Mendorong Orang Tua Bangun Kebiasaan Digital Sehat bagi Anak

Latest Program – Dalam dunia modern yang semakin dihiasi oleh kemajuan teknologi, peran orang tua dalam membentuk kebiasaan digital anak bukan lagi sekadar membatasi akses mereka ke layar perangkat. Perubahan ini mengharuskan para orang tua untuk lebih fokus pada pengawasan dan pendampingan agar anak mampu memanfaatkan dunia maya secara bijak. Kebiasaan digital sehat, menurut para ahli, tidak hanya tentang batasan waktu, tetapi juga tentang kemampuan anak untuk mengatur diri dan memahami dampak dari penggunaan teknologi.

Self-Regulation sebagai Kunci Kebiasaan Digital yang Baik

Psikolog Marsha Tengker, yang juga dikenal sebagai content creator parenting, menjelaskan bahwa kebiasaan digital yang sehat ditentukan oleh kemampuan anak untuk melakukan self-regulation. Ini berarti anak perlu mampu memahami kebutuhan dan tujuan penggunaan teknologi, serta memutuskan kapan dan bagaimana cara menggunakannya secara tepat. “Tujuan utamanya adalah agar anak bisa mengatur diri sendiri, bukan hanya menghitung berapa lama mereka menggunakan gadget,” kata Marsha dalam acara #AksiDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia yang diadakan Google dan YouTube di Jakarta Selatan, Kamis, 4 Juni 2026.

Menurut Marsha, internet bisa menjadi alat pembelajaran, eksplorasi, dan pengembangan kreativitas. Namun, kebutuhan emosional seperti rasa aman, kedekatan, dan interaksi langsung tetap penting untuk dipenuhi di dunia nyata. Jika anak merasa cukup didukung secara emosional di rumah, mereka cenderung tidak tergantung sepenuhnya pada dunia digital untuk memenuhi kebutuhan psikologis.

Keseimbangan Perlindungan dan Kepercayaan

Mendorong anak untuk menjadi mandiri di usia muda adalah bagian dari pengembangan keterampilan mereka. Marsha menekankan bahwa keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan dari orang tua sangat krusial. “Tanpa perlindungan, anak rentan terhadap risiko di internet. Namun, tanpa kepercayaan, mereka bisa tumbuh dengan rasa takut,” ujarnya. Ia menyarankan orang tua memberikan ruang bagi anak untuk belajar mengambil keputusan, sekaligus memastikan mereka memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

Dalam konteks ini, Marsha memperkenalkan pendekatan THINK yang membimbing anak untuk mengkaji informasi sebelum mengikutinya. Cara ini meminta anak bertanya: Apakah informasi tersebut benar, bermanfaat, menginspirasi, penting, dan baik? Dengan metode ini, anak diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga kritis terhadap konten yang dilihat dan diakses.

Pandangan Nanda Yurani: Generasi Digital yang Tangguh

Nanda Yurani, educator dan content creator (educreator), setuju bahwa anak-anak kini tumbuh sebagai generasi digital. Mereka sudah akrab dengan teknologi sejak kecil, sehingga kekhawatiran tentang ketidakmampuan mereka beradaptasi tidak lagi menjadi isu utama. “Kemampuan beradaptasi dengan teknologi sangat cepat berkembang pada anak, tetapi yang perlu diperhatikan adalah kematangan emosional dan kemampuan berpikir kritis mereka,” kata Nanda.

Dalam proses pembelajaran, Nanda melihat banyak anak mudah terbawa tren tanpa mempertimbangkan dampaknya. Misalnya, mereka mungkin mengikuti kebiasaan penggunaan media sosial atau aplikasi tertentu karena kepopulerannya, tanpa memahami nilai informasi yang diterima. Peran orang tua dan guru menjadi semakin kritis untuk membantu anak membedakan mana informasi yang relevan dan mana yang bisa diabaikan.

Sementara itu, Nanda menyoroti potensi teknologi dalam meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Dalam kelas, ia kerap menggunakan platform digital untuk memperkaya materi pembelajaran, seperti meminta siswa mencari sumber tambahan atau berdiskusi tentang konten yang mereka temukan. “Internet harus menjadi sarana yang membuat anak lebih kreatif, lebih mandiri, dan lebih produktif, bukan membuat mereka hanya pasif mengikuti apa yang dilihat,” tambahnya.

Langkah Google dan YouTube: Membangun Lingkungan Digital yang Aman

Sebagai respons terhadap tantangan ini, Google dan YouTube terus mengembangkan berbagai fitur yang memudahkan keluarga menciptakan pengalaman digital yang lebih aman. Dora Songco, Product Marketing Manager Brand & Reputation Google Indonesia, menjelaskan bahwa fitur seperti YouTube Kids dan Supervised Experience dirancang untuk membantu orang tua menyesuaikan akses anak sesuai usia dan kebutuhan. “Kita perlu memastikan teknologi berkembang seiring waktu, tetapi tetap didampingi edukasi yang memadai agar orang tua bisa memberikan pendampingan yang tepat,” ujarnya.

Dora juga menekankan pentingnya program literasi digital. Berbagai inisiatif ini tidak hanya membantu orang tua memahami perkembangan teknologi, tetapi juga mendorong mereka membangun kebiasaan digital sehat di rumah. Dengan kombinasi edukasi dan alat bantu, harapan adalah anak bisa menggunakan teknologi secara efektif dan emosional.

Dalam perspektif Nanda, kekhawatiran tentang anak yang tergantung pada internet bisa diatasi dengan memperkenalkan konsep jejak digital sejak dini. Menurutnya, setiap aktivitas online meninggalkan jejak, baik berupa data, keterampilan, maupun pengaruh psikologis. “Anak perlu memahami bahwa setiap tindakan mereka di dunia digital memiliki dampak, dan itu harus dikelola dengan baik,” jelas Nanda.

Perkembangan teknologi yang pesat menuntut pendekatan yang lebih holistik. Dengan mendampingi anak sejak kecil, orang tua tidak hanya mengurangi risiko, tetapi juga membangun fondasi kebiasaan digital yang kuat. Marsha dan Nanda sepakat bahwa keseimbangan antara kebebasan dan perlindungan adalah kunci untuk membentuk generasi yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kekuatan emosional dan kritisnya.

Leave a Comment