Main Agenda: Dua warga Sulsel disandera perompak Somalia, Pemprov bergerak cepat

Dua Warga Sulawesi Selatan Disandera Perompak Somalia, Pemprov Sulsel Bergerak Cepat

Main Agenda melaporkan bahwa dua warga Sulawesi Selatan menjadi korban penyanderaan oleh perompak Somalia di perairan internasional sejak 21 April 2026. Pemerintah Provinsi Sulsel langsung merespons dengan tindakan cepat, menghubungi Kementerian P2MI dan Kementerian Luar Negeri untuk mempercepat upaya penyelamatan. Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menegaskan bahwa pihaknya terus memantau situasi dan memastikan koordinasi dengan lembaga pemerintah pusat.

Korban Penyanderaan dari Wilayah Berbeda

Kedua korban penyanderaan, Ashari Samadikun dan Faizal, berasal dari kabupaten berbeda: Ashari dari Gowa, sedangkan Faizal dari Bulukumba. Pemprov Sulsel menganggap keberadaan mereka menjadi prioritas, karena posisi mereka yang rentan dan komunikasi terputus. Dalam upaya menunjang proses pembebasan, gubernur juga meminta Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, Jayadi Nas, untuk bertemu langsung dengan keluarga korban di Desa Paccellekang, Kecamatan Pattalassang, Gowa.

Kunjungan Jayadi Nas bertujuan untuk memberikan dukungan emosional kepada keluarga serta memperkuat komunikasi dengan pemerintah pusat. “Kami ingin memastikan bahwa keluarga korban merasa didukung dalam situasi ini,” kata Jayadi, yang menekankan peran Pemprov Sulsel dalam mempercepat proses penyelamatan.

Kondisi Korban Masih Terkendali

Berdasarkan laporan terbaru, kondisi para korban dinyatakan selamat, meskipun tetap terpantau oleh perompak. “Komunikasi dari korban masih berlangsung, meski terbatas karena bahasa yang digunakan berbeda,” jelas Jayadi. Pemprov Sulsel mengungkapkan bahwa tim sudah melakukan koordinasi intensif dengan lembaga diplomatik dan otoritas setempat.

Perompak Somalia diberitakan masih menuntut negosiasi, namun kondisi di kapal tidak selalu memburuk. “Para awak kapal bisa makan dan beribadah, meskipun harus menghadapi tekanan sehari-hari,” tambah Santi Sanaya, isteri Ashari Samadikun. Ia menuturkan bahwa suaminya sempat mengirim pesan melalui telepon sebelum situasi memburuk, namun komunikasi terhambat karena perompak menggunakan bahasa asing.

Keluarga Korban Berharap Penyelesaian Cepat

Kedatangan tim Pemprov Sulsel di Gowa disambut antusias oleh keluarga korban. Mereka menyampaikan apresiasi terhadap langkah pemerintah daerah yang terus berupaya mempercepat pembebasan. “Keluarga merasa tidak terlupakan dalam situasi kritis ini,” kata salah satu anggota keluarga.

Pemprov Sulsel juga menyatakan dukungan untuk seluruh awak kapal yang disandera, termasuk empat warga negara Indonesia. “Kami berharap proses penyelamatan dapat selesai dalam waktu dekat, agar semua korban bisa kembali ke keluarga dengan selamat,” ujar Jayadi Nas. Main Agenda menyebutkan bahwa pemerintah daerah berperan aktif dalam memastikan hubungan yang stabil dengan lembaga pemerintah pusat.

Main Agenda dan Upaya Nasional untuk Pembebasan

Dalam upaya menyelamatkan para korban, Main Agenda menekankan pentingnya koordinasi antar-instansi, baik dari tingkat daerah maupun nasional. Pemprov Sulsel berkomitmen untuk terus berpartisipasi dalam proses tersebut, dengan harapan bahwa kemenangan diplomatik bisa segera tercapai. “Pemprov Sulsel bersama pemerintah pusat akan melakukan langkah-langkah yang diperlukan,” kata Jayadi Nas.

Kementerian P2MI dan Kementerian Luar Negeri terus bekerja sama untuk menyelesaikan kasus ini. Main Agenda menyatakan bahwa keterlibatan aktif pemerintah daerah menjadi salah satu faktor kunci dalam menunjang keberhasilan diplomasi. “Kami tidak hanya memberikan dukungan logistik, tetapi juga melibatkan keluarga korban dalam proses komunikasi,” jelas gubernur Sulsel.

Kondisi Kapal dan Tantangan Perompak

Kapal yang menjadi lokasi penyanderaan masih dalam pengawasan perompak, yang menuntut tekanan terus-menerus. “Ada momen ketika korban ditodong senjata dan diharuskan berbicara dalam bahasa yang tidak familiar,” ujar Santi Sanaya. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa kondisi para korban tetap stabil.

Pemprov Sulsel berharap bahwa Main Agenda akan menjadi wadah untuk menyampaikan kebutuhan dan informasi terkini dari keluarga korban. “Dengan mendukung tindakan cepat, kami yakin proses penyelamatan bisa segera terealisasi,” tambah Jayadi Nas. Main Agenda juga mengingatkan bahwa kasus penyanderaan ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menjaga keamanan bagi warga negara di luar negeri.