Bripda Nopandri Ditemukan Tewas usai Gerebek Kampung Narkoba
Bripda Nopandri Ditemukan Tewas Usai Gerebek Kampung Narkoba Bripda Nopandri Ditemukan Tewas usai Gerebek - Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, menjadi

Bripda Nopandri Ditemukan Tewas Usai Gerebek Kampung Narkoba
Tempatdonasi.com – Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, menjadi sorotan setelah Brigadir Polisi Dua (Bripda) Nopandri Ramadhana ditemukan dalam kondisi meninggal usai melakukan operasi penyergapan terhadap kawasan peredaran narkoba di Desa Tumbang Kalemei. Pria berusia 24 tahun itu hilang sejak Rabu malam, 1 Juli 2026, saat tim kepolisian membongkar aktivitas penggunaan narkotika di wilayah tersebut. Hingga Sabtu, 4 Juli 2026, polisi akhirnya menemukan jasad Nopandri, yang kini menjadi perhatian serius dalam upaya penyelidikan lebih lanjut.
Pengungkapan Kasus
Menurut Kepala Kepolisian Resor Katingan, Ajun Komisaris Besar Polisi Dodik Hartono, jenazah Nopandri ditemukan oleh dua anggota polisi, Briptu Rangga dan Bripda Ryan, di daerah aliran sungai Desa Tumbang Kalemei. “Korban ditemukan dalam kondisi kaku, terapung di air, dan tersangkut di ranting pohon,” jelas Dodik dalam keterangan tertulis. Pencarian terhadap Nopandri sempat memakan waktu hingga berhari-hari, mengingat keberadaannya tidak diketahui setelah operasi dimulai.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Nopandri gugur saat menjalankan tugas, dan kami berharap ia diberi tempat terbaik di sisi Tuhan,” ujar Direktur Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Brigadir Jenderal Eko Hadi Santoso, dalam pernyataannya yang sama.
Bareskrim Polri berkomitmen mengungkap peristiwa ini secara tuntas. Eko menegaskan bahwa tim investigasi masih fokus pada pemeriksaan para pelaku yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. “Setiap informasi dari masyarakat akan kami tindaklanjuti, dan kami tidak akan berhenti sampai semua pelaku ditemukan dan diproses sesuai hukum,” tambahnya.
Situasi Operasi
Operasi penyergapan kampung narkoba di Desa Tumbang Kalemei berawal dari laporan warga yang menyoroti aktivitas peredaran sabu di wilayah tersebut. Setelah penyelidikan intensif, penyidik menemukan keterlibatan residivis narkoba berinisial BIO. Sebagai tindak lanjut, Satuan Reserse Narkoba Polres Katingan mengirimkan 12 personel untuk melakukan penyergapan. Tim dibagi menjadi dua bagian: satu bertugas menangkap target di rumah pelaku, sementara tim kedua siaga di area lain untuk memberi dukungan.
Saat proses penangkapan berlangsung, situasi tiba-tiba memanas. Sejumlah orang di dalam rumah, termasuk warga sekitar, melakukan perlawanan dengan senjata tajam seperti parang. Tidak hanya itu, massa juga menggunakan senjata api rakitan untuk menyerang petugas. Dalam kekacauan tersebut, beberapa anggota polisi terpaksa berlari dan berenang menyeberangi sungai untuk menghindari ancaman. Sejumlah petugas berlindung di kawasan hutan sambil menunggu bantuan.
Peristiwa Sebelumnya
Ini bukan kali pertama anggota polisi gugur dalam operasi penyergapan kampung narkoba di Katingan. Sebelumnya, Ajun Inspektur Satu Sumaryanto dan Ajun Inspektur Dua Yudhie Perdana Putra sempat dinyatakan hilang dalam penggerebekan serupa. Yudhie meninggal karena luka senjata tajam, sementara Sumaryanto selamat setelah dicari selama beberapa hari. Kini, Nopandri menjadi anggota keempat yang gugur dalam operasi serupa di wilayah tersebut, menurut catatan kepolisian.
“Kami berkoordinasi dengan Polda Kalimantan Tengah dan Polres Katingan untuk mengejar pelaku hingga keberhasilan operasi ini tercapai,” kata Eko, yang menekankan pentingnya kerja sama antarinstansi dalam menangani kasus narkoba. Ia juga meminta masyarakat yang mengetahui keberadaan pelaku segera melapor ke kepolisian, dengan harapan bisa mempercepat proses penegakan hukum.
Setelah menemukan jenazah Nopandri, polisi langsung membawa korban ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani autopsi. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar penyelidikan lebih lanjut, termasuk mengungkap motif perlawanan massa saat operasi berlangsung. Eko menuturkan, tim penyelidik terus memperketat investigasi untuk mengetahui seluruh detail kejadian, termasuk bagaimana Nopandri terjebak dalam situasi berbahaya.
Dalam proses penyergapan, polisi menghadapi tantangan fisik dan psikologis. Kondisi yang tidak terkendali memaksa anggota untuk berkampung di alam terbuka sambil menunggu kondisi stabil. Meski demikian, operasi tetap berjalan lancar, dengan target berhasil ditangkap dan barang bukti diperoleh. Namun, korban jiwa menjadi harga yang terpaksa dibayar.
Eko menyoroti peran kepolisian dalam menghadapi peredaran narkoba di daerah terpencil. “Kampung narkoba sering kali menjadi tempat yang berpotensi menyulitkan operasi, terutama jika massa melawan petugas dengan agresif,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya telah memperkuat strategi operasi, termasuk meningkatkan kesiapan tim dan persiapan medis untuk situasi darurat.
Kasus ini semakin memperlihatkan risiko yang dihadapi petugas dalam mengungkap jaringan narkoba. Dengan ketatnya penegakan hukum, polisi terus berupaya memberikan rasa aman kepada masyarakat, meskipun beberapa kali menghadapi ancaman dari pelaku. Nopandri, sebagai anggota yang gugur, menjadi simbol komitmen kepolisian untuk melawan kejahatan narkoba di berbagai tingkat.
Sebagai respons terhadap kejadian ini, Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah memberikan dukungan penuh dalam operasi penyelidikan. Dengan koordinasi yang intens, pihak berwenang berharap bisa menemukan pelaku utama dan memastikan keadilan tercapai. Eko berkomitmen untuk memberikan pelaporan lengkap kepada publik, termasuk penyebab kematian Nopandri dan peran residivis BIO dalam operasi tersebut.
Peristiwa ini juga memicu refleksi terhadap kebutuhan pelatihan dan persiapan lebih matang untuk operasi di wilayah rawan. Polisi terus mengevaluasi prosedur, termasuk penggunaan alat pelindung dan taktik penangkapan, agar kejadian serupa tidak terulang. Seiring dengan itu, masyarakat diminta aktif memberikan informasi untuk mendukung upaya penegakan hukum.
