Skip to content
Metro

Historic Moment: Temuan Komnas HAM Papua Soal Ibu Hamil Kena Tembak

Joko Purnama - tempatdonasi.com 4 mins read

Temuan Komnas HAM Papua Soal Ibu Hamil Kena Tembak Historic Moment - Komando Operasional TNI Habema dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi

Historic Moment: Temuan Komnas HAM Papua Soal Ibu Hamil Kena Tembak

Temuan Komnas HAM Papua Soal Ibu Hamil Kena Tembak

Tempatdonasi.com – Komando Operasional TNI Habema dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) terlibat dalam kontak tembak yang berujung pada kematian seorang ibu hamil dan janinnya. Peristiwa ini terjadi pada malam hari Kamis, 2 Juli 2026, di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Melkiana Duwitau, seorang ibu yang tengah mengandung sekitar 7-8 bulan, tewas bersama bayinya akibat peluru yang mengenai mereka saat kerusuhan berlangsung.

Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Bernard Ramandey, melakukan investigasi langsung ke lokasi kejadian untuk memastikan kebenaran laporan. Ia mengatakan, saat mengunjungi TKP, jenazah Melkiana masih dalam kondisi utuh sebelum dikuburkan. “Saya ke TKP, saya lihat jenazah sebelum dikubur, saya lihat ibunya, lihat bayinya,” ujarnya kepada Tempo pada Selasa, 7 Juli 2026. Menurut Frits, situasi yang terjadi di rumah adat Melkiana mengungkapkan kejadian yang memprihatinkan.

Peristiwa dan Saksi

Melkiana ditemukan tewas di dalam honai, atau rumah adatnya, setelah kontak tembak berlangsung. Dalam penyelidikan, Frits menyebutkan bahwa suaminya, BS, serta sejumlah warga lainnya memberikan kesaksian. “Suaminya dan beberapa warga di situ memberi kesaksian kepada kami,” terang Frits. Namun, ia menambahkan bahwa suara tembakan tidak hanya terdengar sekali, melainkan dua kali. “Dua kali bunyi tembakan di sekitar rumah almarhum,” lanjut Frits.

Kondisi Melkiana dan janinnya menggambarkan keparahan akibat peluru yang mengenai tubuh mereka. Setelah penembakan, warga setempat mengalami kesulitan mengirimkan korban ke rumah sakit. Frits menjelaskan bahwa janin yang terluka tidak bisa diselamatkan karena kekurangan oksigen. “Kuat dugaan karena tidak ada oksigen untuk bayinya sehingga bayinya juga meninggal dunia,” tegasnya.

Respons Komnas HAM dan Institusi Terkait

Komnas HAM Papua bersama Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah setempat turut mengambil peran dalam penanganan kejadian. Frits menyebutkan bahwa polisi maupun tentara tidak langsung datang ke lokasi setelah peristiwa terjadi. “Karena situasinya begitu, warga dan keluarga belum menerima kehadiran dua institusi itu,” ujarnya. Hal ini menunjukkan ketegangan yang mungkin terjadi antara masyarakat dan pihak berwenang.

Sebagai langkah lanjutan, Perwakilan Komnas HAM Papua telah menyelesaikan verifikasi terhadap kejadian tersebut. Mereka bertemu dengan warga yang menjadi saksi, serta instansi terkait di lokasi. Frits menyatakan bahwa temuan mereka akan diungkapkan pada 8 Juli 2026. “Hasil ini kami akan umumkan kemungkinan hari Rabu,” katanya. Ini menandai upaya untuk memberikan jawaban atas peristiwa yang memicu pertanyaan tentang kesesuaian tindakan penembakan dalam kondisi tertentu.

Konteks Konflik dan Pertanyaan Etika

Kontak tembak antara TNI dan TPNPB-OPM sering kali terjadi di wilayah Papua, yang merupakan zona perang antara pemerintah dan kelompok separatis. Kejadian ini menambah daftar korban yang diduga mengalami kekerasan akibat konflik tersebut. Frits menyoroti bahwa situasi di lapangan memperlihatkan kesulitan warga dalam memastikan kemanan saat penembakan terjadi. “Warga dan keluarga merasa tidak nyaman dengan kehadiran polisi dan TNI di lokasi,” tambahnya.

Menurut saksi, peluru yang mengenai Melkiana Duwitau tidak hanya menyebabkan kematian segera, tetapi juga mengancam kehidupan janinnya. Frits menjelaskan bahwa keterlambatan dalam pengangkatan korban ke rumah sakit berdampak pada kesempatan menyelamatkan bayi. “Mereka mengatakan ada tembakan awal di sekitar rumah almarhum, tetapi penembakan berlangsung terus-menerus,” ujarnya. Hal ini memicu pertanyaan apakah tindakan penembakan yang dilakukan di tengah keadaan darurat benar-benar sesuai dengan protokol keselamatan.

Perspektif Masyarakat dan Upaya Pemantauan

Ketua Komnas HAM Papua menekankan pentingnya transparansi dalam menangani kasus kemanusiaan. “Kami mencoba memverifikasi setiap detail untuk melindungi hak korban dan menemukan kebenaran,” ujarnya. Meski warga setempat belum sepenuhnya menerima kehadiran institusi seperti polisi dan TNI, mereka tetap mengizinkan verifikasi oleh Komnas HAM. Frits mengungkapkan bahwa upaya ini dilakukan untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan kekuasaan dalam operasi militer.

Dalam perjalanan pengecekan, Frits juga menyoroti kebutuhan medis yang terabaikan. “Janin yang terluka tidak bisa diselamatkan karena kondisi di lapangan yang tidak memungkinkan bantuan segera,” katanya. Ini menunjukkan bagaimana konflik di Papua tidak hanya memengaruhi keamanan, tetapi juga menyebabkan kerusakan yang serius terhadap kehidupan manusia. Frits berharap temuan Komnas HAM akan menjadi bahan pertimbangan bagi pihak-pihak terkait dalam meminimalkan risiko serupa di masa depan.

Langkah Selanjutnya dan Harapan Masyarakat

Setelah menyelesaikan investigasi, Komnas HAM Papua berencana mengungkapkan hasilnya pada 8 Juli 2026. “Hasil ini kami akan umumkan kemungkinan hari Rabu,” jelas Frits. Dalam wawancara tersebut, ia menekankan bahwa laporan dari saksi-saksi dan dokumentasi di lapangan menjadi dasar penilaian. Pertanyaan etika tentang kepatuhan dalam menembak di tempat, terutama saat sasaran adalah ibu hamil, menjadi sorotan utama.

Melkiana Duwitau dan janinnya adalah salah satu dari sekian banyak korban konflik yang berdampak pada kehidupan masyarakat Papua. Frits berharap temuan Komnas HAM akan memicu refleksi tentang kebijakan keselamatan dan perlindungan terhadap korban yang tidak terlibat langsung dalam konflik. “Kita perlu mengevaluasi apakah tindakan penembakan dilakukan secara tepat dan tidak merugikan pihak yang tidak bersalah,” pungkasnya. Ini menjadi isu penting yang perlu diperhatikan oleh semua pihak terlibat dalam perang melawan separatis di wilayah tersebut.

Dalam upaya memperkuat proses investigasi, Komnas HAM Papua berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah setempat. Meski awalnya warga enggan menerima kehadiran institusi, mereka akhirnya memberikan akses untuk mengecek kondisi jenazah dan mengumpulkan bukti. Frits menilai bahwa verifikasi ini penting untuk mengungkap fakta, baik dari perspektif militer maupun masyarakat sipil.

Peristiwa kematian Melkiana dan bayinya menjadi contoh nyata dari konflik yang berlangsung di Papua. Frits meng

Join the discussion