Skip to content
Metro

Polisi Geledah Cafe de’Clan, Ada Mobil Jaksa dan Anggota TNI

Intan Kurniawan - tempatdonasi.com 3 mins read

aksaan dan Anggota TNI Terdeteksi Special Plan - Sebuah operasi penggeledahan besar-besaran dilakukan di Cafe de'Clan Signature yang berlokasi di Jalan

Polisi Geledah Cafe de’Clan, Ada Mobil Jaksa dan Anggota TNI

Operasi Penggeledahan Cafe de’Clan: Mobil Kejaksaan dan Anggota TNI Terdeteksi

Tempatdonasi.com – Sebuah operasi penggeledahan besar-besaran dilakukan di Cafe de’Clan Signature yang berlokasi di Jalan Cilandak Tengah, kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu, tanggal 8 Juli 2026. Tim penyidik dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kepolisian RI atau yang dikenal sebagai Kortastipidkor Polri bekerja sama dengan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya dalam melaksanakan aksi tersebut.

Untuk mengamankan jalannya penggeledahan, sekitar lima belas personel dari Korps Brigade Mobil dikerahkan. Mereka hadir dengan seragam lengkap dan membawa senjata laras panjang sebagai bentuk antisipasi. Kehadiran mereka memberikan rasa aman selama proses pencarian dan penelusuran di area kafe berlangsung.

Temuan Kendaraan Penting di Lokasi

Selama proses penggeledahan berlangsung, terungkap adanya beberapa kendaraan yang terparkir di halaman kafe. Salah satunya adalah mobil Hilux milik kejaksaan dengan pelat merah bernomor B 9254 SSC. Selain itu, terdapat juga sebuah mobil lain yang dikemudikan oleh empat orang dan diduga kuat berasal dari kejaksaan dengan nomor polisi B2275K.

“Iya ini mobilnya orang kejaksaan,” demikian pernyataan salah seorang personel Brimob yang berdiri di dekat mobil bernomor B2275K tersebut saat dikonfirmasi pada hari Rabu.

Yang menarik perhatian dari kejadian ini adalah kehadiran seorang anggota Tentara Nasional Indonesia yang terlihat keluar dari kafe. Kondisi ini cukup mencengangkan mengingat polisi tidak meminta bantuan dari pihak TNI dalam agenda penggeledahan kali ini.

Tiga Kasus Utama yang Terkait

Inspektur Jenderal Totok Suharyanto sebagai Kepala Kortastipidkor Polri menjelaskan bahwa perkara ini memiliki keterkaitan dengan tiga kasus penting. Pertama adalah tindak pidana pencucian uang atau TPPU serta suap yang terjadi dalam perkara PT Asabri. Kedua, kasus korupsi pasokan batu bara yang sempat menyebabkan blackout di wilayah Sumatera. Ketiga, kasus yang melibatkan PT Krakatau Steel.

“Kami terus melakukan upaya penegakan hukum, saat ini dengan skema join investigasi dalam penanganan perkara korupsi dan pencucian uang pada proses penanganan hukum PT Asabri dan PT Krakatau Steel,” ujar Totok Suharyanto pada hari Rabu.

Latar Belakang Cafe de’Clan

Cafe de’Clan bukanlah tempat pertama yang menjadi sasaran penggeledahan oleh aparat penegak hukum. Pada tahun 2025, polisi juga sudah berencana untuk melakukan penggeledahan di lokasi yang sama. Kafe ini dikelola oleh Ferry Yanto Hongkiriwang yang diduga memiliki hubungan erat dengan Agung Febrie Adiansyah, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan.

Ferry Yanto Hongkiriwang sebelumnya pernah ditangkap oleh polisi pada Senin, 28 Juli 2025. Penangkapan tersebut dilakukan atas dugaan penculikan, penganiayaan, dan juga perintangan penyidikan. Ferry dituduh telah menganiaya dan menculik personel dari Detesemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI.

Insiden tersebut bermula ketika Ferry dibuntuti oleh anggota Densus 88, Brigadir Satu Faisal Faizurrahman saat sedang bersantap siang di Bogor Cafe, Hotel Borobudur, Jakarta pada Jumat, 25 Juli 2025. Setelah itu, Ferry segera menghubungi seorang perwira tinggi TNI. Tak lama kemudian, beberapa prajurit yang diduga berasal dari Bais datang ke lokasi dan menahan Briptu Faisal.

Laporan Majalah Tempo edisi 24 Agustus 2025 menyebutkan bahwa penegak hukum yang ikut menyidik kasus penculikan anggota Densus 88 tersebut mengungkapkan bahwa Briptu Faisal berasal dari tim yang sama dengan personel Densus 88 yang pernah membuntuti Jampidsus Febrie.

Sejarah Cafe de’Clan

Sebelum berganti nama menjadi Cafe de’Clan, tempat ini dikenal dengan nama Gontran Cherrier. Lokasi ini juga menjadi saksi peristiwa penguntitan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah oleh anggota Densus 88 pada 19 Mei 2024 lalu. Febrie dikabarkan sering makan di kafe tersebut sebelum akhirnya berganti nama.

Seorang polisi yang turut serta dalam penggeledahan hari ini mengakui bahwa ia memang mendengar adanya nama Febrie dalam kasus ini. “Iya kami dengar tapi kan itu harus dibuktikan dengan dokumen ya,” kata dia saat dikonfirmasi mengenai keterkaitan Cafe de’Clan dengan kasus tersebut.

Operasi penggeledahan ini menunjukkan betapa kompleksnya jaringan yang terlibat dalam berbagai kasus korupsi dan pencucian uang di Indonesia. Kehadiran berbagai pihak, mulai dari jaksa, anggota TNI, hingga tersangka utama, menambah dimensi baru dalam penyelidikan yang sedang berlangsung.

Join the discussion