Skip to content
Tekno

Solo Mulai Uji Kelola Sampah Sungai Berbasis Data

Wahyu Santoso - tempatdonasi.com 4 mins read

Menggunakan Pendekatan Data Special Plan - Pemerintah Kota Surakarta bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia telah resmi

Solo Mulai Uji Kelola Sampah Sungai Berbasis Data

Solo Memulai Uji Coba Pengelolaan Limbah Sungai Menggunakan Pendekatan Data

Tempatdonasi.com – Pemerintah Kota Surakarta bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia telah resmi meluncurkan Program #SungaiLestari Surakarta. Inisiatif ini melampaui sekadar pembersihan sungai biasa, karena juga mencakup pemetaan menyeluruh terhadap sumber, volume, serta pola kebocoran sampah plastik yang akan mengalir menuju Bengawan Solo dan akhirnya ke laut.

Kali Premulung ditetapkan sebagai lokasi penelitian pertama. Sungai yang mengalir melewati Kecamatan Laweyan hingga Serengan ini akan menjadi proyek percontohan dengan target penanganan mencapai seribu ton limbah padat hingga tahun dua ribu dua puluh tujuh.

Peluncuran program yang bertajuk “Transformasi Kolaboratif Menuju Sungai yang Lebih Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan” dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, pada hari Jumat tanggal sepuluh Juli dua ribu dua puluh enam. Selain UNDP Indonesia, program ini juga melibatkan berbagai pihak seperti Clean Rivers, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, Yayasan Bina Karta Lestari atau BINTARI, Veritas Edukasi Lingkungan atau VEL, komunitas lokal, akademisi, serta masyarakat umum.

Ahmad Bahri Ramli, National Project Manager UNDP Indonesia dan Koordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, menjelaskan bahwa lima wilayah dipilih sebagai lokasi percontohan, yaitu Surakarta, Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, dan Bali. Menurut beliau, program ini dirancang untuk menghasilkan model pengelolaan sampah sungai yang dapat diterapkan di daerah lainnya di Indonesia.

“Kita memiliki 514 kota, sehingga nanti bisa menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah yang lebih baik,” kata Ahmad seusai peluncuran pada Jumat, 10 Juli 2026.

Berbeda dari kegiatan pembersihan sungai pada umumnya, Program #SungaiLestari menggunakan pendekatan berbasis data. Sampah yang masuk ke sungai akan dipantau, diukur, kemudian menjadi dasar penyusunan strategi pengurangan sampah.

Ahmad mengatakan program akan melihat seluruh rantai persoalan sampah, mulai dari sampah yang sudah berada di sungai hingga sampah dari daratan yang berpotensi terbawa aliran air. “Program ini komprehensif. Sampah di sungai akan dikelola, dipilah, dan diolah sehingga seminimal mungkin masuk ke TPA. Kita juga mencegah sampah dari darat masuk ke sungai yang akhirnya menuju laut,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta Herwin Tri Nugroho Adi mengatakan fokus program di Solo karena dilewati beberapa sungai, “dan Kali Premulung menjadi fokus utama.” Target penanganan mencapai 1.000 ton sampah yang dibagi dalam dua area, yakni kawasan hulu di Kecamatan Laweyan dan kawasan hilir di Kecamatan Serengan.

Herwin mengatakan lokasi tersebut dipilih karena masih ditemukan banyak sampah rumah tangga yang masuk ke badan sungai. Sebelumnya, pemerintah kota setempat telah melakukan rintisan penanganan sampah di wilayah Laweyan, tetapi program kali ini diakui akan dilakukan dengan cakupan yang lebih terukur.

“Di sana memang banyak sekali sampah yang masuk ke sungai. Kali ini kita ingin mencoba melihat lebih dalam seperti apa kondisi sampahnya,” katanya.

Salah satu langkah awal program adalah pemasangan trash boom atau jaring penahan sampah. Selain menangkap sampah, alat tersebut digunakan untuk mengukur jumlah sampah yang masuk ke sungai. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar penyusunan edukasi kepada masyarakat agar perubahan perilaku dapat dilakukan secara lebih terarah.

“Teman-teman mitra lokal dan UNDP nanti bisa memberikan sosialisasi maupun edukasi yang lebih terukur, terarah, dan terstruktur agar sungai tidak lagi menjadi tempat sampah,” katanya.

Herwin mengatakan sampah yang berhasil diangkat dari sungai dalam program ini tidak akan langsung dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA Putri Cempo. Sampah akan diolah oleh mitra pelaksana melalui skema ekonomi sirkular. Menurut dia, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi beban TPA sekaligus meningkatkan nilai guna sampah.

Saat ini, pengelolaan sampah di Kota Solo mencapai sekitar sepuluh persen. Melalui program percontohan di Kali Premulung, Pemkot Solo berharap ada tambahan sekitar lima persen sampah yang dapat tertangani.

Ia juga mengatakan perbaikan kualitas sungai juga memiliki dampak terhadap kesehatan masyarakat. Sungai yang lebih bersih dan kualitas air yang meningkat dapat mengurangi risiko penyakit akibat lingkungan yang buruk.

Selain mengukur sampah fisik, program ini juga menempatkan masyarakat sebagai bagian dari proses perubahan. Relawan, komunitas sungai, dan warga sekitar akan terlibat dalam pengumpulan data dan monitoring harian. Keterlibatan aktif masyarakat ini diharapkan dapat menciptakan rasa kepemilikan bersama terhadap kebersihan sungai. Program ini juga akan menghasilkan laporan berkala yang dapat diakses oleh publik, sehingga transparansi pengelolaan limbah menjadi lebih terbuka. Dengan pendekatan holistik seperti ini, Solo berharap dapat menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam pengelolaan sungai dan limbah padat.

Join the discussion