Skip to content
Dunia

Wapres AS: Israel Berupaya Perpanjang Konflik dengan Iran

Andi Permata - tempatdonasi.com 3 mins read

ngan Iran Tanpa Batas Waktu Wapres AS - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, pada hari Rabu tanggal 15 Juli 2026, menyampaikan pernyataan penting

Wapres AS: Israel Berupaya Perpanjang Konflik dengan Iran

Vance Ungkap Upaya Israel Memperpanjang Perang dengan Iran Tanpa Batas Waktu

Tempatdonasi.com – Wapres AS – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, pada hari Rabu tanggal 15 Juli 2026, menyampaikan pernyataan penting mengenai dinamika hubungan antara Israel dan Iran. Menurut Wapres AS, terdapat sejumlah pejabat di dalam pemerintahan Israel yang secara aktif berupaya untuk memperpanjang konflik dengan Teheran tanpa adanya batas waktu tertentu. Langkah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Wapres AS, dilakukan melalui manipulasi opini publik di Amerika Serikat agar dukungan terhadap perang terus berlanjut.

Pernyataan Vance dalam Podcast Joe Rogan

Dalam sebuah wawancara podcast bersama Joe Rogan, Wapres AS mengungkapkan keyakinannya terhadap tindakan segelintir orang di dalam sistem pemerintahan Israel. Ia menyatakan bahwa kelompok tersebut tanpa sedikit pun keraguan sedang memanipulasi dan berusaha mengubah pandangan publik Amerika Serikat agar perang dengan Iran terus berlanjut tanpa batas waktu.

“Ada segelintir orang di sistem [pemerintahan Israel] yang kami yakini tanpa sedikit pun keraguan sedang memanipulasi dan berusaha mengubah opini publik Amerika agar perang [dengan Iran] terus berlanjut tanpa batas waktu,” kata Wapres AS selama podcast dengan Joe Rogan seperti dilansir Antara.

Pernyataan ini memberikan gambaran jelas mengenai dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat terkait kebijakan luar negerinya terhadap Iran. Wapres AS tampaknya ingin menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan dari Israel, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintahan Trump.

Komitmen Trump terhadap Iran

Wapres AS menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump akan tetap melanjutkan kampanye militer terhadap Iran, terlepas dari pengaruh yang diberikan oleh Israel. Hal ini disebabkan oleh keyakinan kuat Trump bahwa Teheran tidak boleh diizinkan memiliki senjata nuklir. Komitmen ini menunjukkan bahwa kebijakan AS terhadap Iran tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh aliansi dengan Israel.

Al-Monitor, yang mengutip sumber keamanan Israel, melaporkan bahwa Israel khawatir pemerintahan Trump kehilangan tekadnya untuk melenyapkan persenjataan nuklir Iran dan mengalihkan fokusnya ke keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Kekhawatiran ini menjadi alasan utama mengapa Israel berupaya keras untuk mempertahankan perhatian AS terhadap ancaman nuklir Iran.

Eskalasi Militer dan Respons Iran

Militer AS beberapa kali meluncurkan serangan terhadap Iran sejak tanggal 8 Juli. Pusat Komando AS (CENTCOM) mengklaim rentetan serangan tersebut sebagai balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Serangan-serangan ini merupakan bagian dari upaya AS untuk menekan Iran dan memastikan keamanan jalur pelayaran internasional.

Militer Iran kemudian merespons aksi AS tersebut, dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di beberapa negara Timur Tengah. Eskalasi ini menunjukkan bahwa konflik antara kedua negara semakin serius dan berpotensi meluas ke wilayah-wilayah lain di Timur Tengah.

Sebelumnya pada hari Ahad, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga berakhirnya intervensi AS di kawasan tersebut menyusul gelombang aksi saling serang kedua negara. Pengumuman ini merupakan langkah strategis Iran untuk menekan AS secara ekonomi dan politik.

Pada tanggal 13 Juli, Trump mengatakan Amerika Serikat akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz dan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pernyataan ini menegaskan posisi AS sebagai kekuatan dominan di kawasan tersebut.

Analisis Kebijakan Luar Negeri

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa Wapres AS memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan Israel dan tujuan strategis AS di Timur Tengah. Dengan pernyataan-pernyataan yang jelas, Wapres AS mencoba memastikan bahwa kebijakan luar negeri AS tetap independen dari tekanan eksternal.

Para pengamat internasional mencatat bahwa situasi di Selat Hormuz akan terus menjadi titik fokus perhatian dunia. Wapres AS telah menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mundur dari komitmen untuk menjaga stabilitas kawasan, meskipun menghadapi berbagai tantangan dari berbagai pihak.

Pilihan Editor: JD Vance: AS Ingin Memulai Ulang Hubungan dengan Iran

Join the discussion