Gara-Gara Wawancara, Trump Kembali Marah ke Netanyahu
Trump Kembali Menunjukkan Kemarahan Terhadap Netanyahu Akibat Wawancara yang Kontroversial Gara Gara Wawancara Trump Kembali Marah - Menurut laporan yang

Trump Kembali Menunjukkan Kemarahan Terhadap Netanyahu Akibat Wawancara yang Kontroversial
Tempatdonasi.com – Menurut laporan yang dihimpun oleh Axios pada hari Kamis, tanggal 16 Juli 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan kemarahannya kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Keprihatinan ini muncul karena Trump merasa pemimpin Israel tersebut meremehkan posisinya dan mencoba mengendalikan jalannya hubungan diplomatik antara kedua negara. Informasi ini kemudian diulas lebih lanjut oleh media Raw Story dalam pemberitaannya.
Ketegangan yang Berlarut-Larut di Antara Dua Pemimpin
Perselisihan yang terjadi antara Trump dan Netanyahu bukanlah hal yang baru. Selama bertahun-tahun, kedua tokoh ini dikenal sebagai sekutu dekat yang memimpin koalisi sayap kanan di masing-masing negara mereka. Namun, belakangan ini sejumlah insiden telah memicu ketegangan baru dalam hubungan mereka. Salah satu momen yang menarik perhatian adalah ketika para staf Gedung Putih merasa terkejut setelah membaca pemberitaan di media Israel beberapa hari sebelumnya.
Kabar tersebut menyebutkan bahwa Presiden Trump akan menerima kunjungan resmi dari Perdana Menteri Netanyahu pada hari Senin, tanggal 13 Juli. Namun, keheranan muncul karena sebenarnya tidak ada pertemuan yang telah dijadwalkan sebelumnya antara kedua pemimpin dunia tersebut. Seorang sumber internal yang berbicara kepada Axios menjelaskan situasi ini dengan lebih rinci.
“Saat itu Trump memang mengatakan bahwa Netanyahu bisa berkunjung segera setelah presiden kembali dari KTT NATO di Ankara, tetapi rencana tersebut tidak terealisasi,” ungkap sumber tersebut.
Sumber yang sama menambahkan bahwa kesan yang muncul di kalangan staf Gedung Putih adalah Netanyahu, yang akrab dipanggil “Bibi”, berusaha memaksakan agar pertemuan tersebut benar-benar terjadi meskipun belum ada kesepakatan resmi.
Wawancara Fox News Menjadi Pemicu Kemarahan Baru
Kemarahan Trump tidak berhenti hanya pada masalah jadwal kunjungan saja. Menurut laporan yang sama, kemarahan tersebut sudah muncul lebih awal, tepatnya setelah Netanyahu tampil dalam sebuah wawancara di stasiun televisi Fox News. Wawancara ini berlangsung tepat sebelum Trump bertolak menuju Ankara untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi.
Dalam wawancara tersebut, Netanyahu secara terbuka mengkritik rencana Presiden Trump untuk menjual jet tempur F-35 kepada Turki. Langkah yang dianggap kontroversial ini mendapat penolakan dari Netanyahu. Salah satu pejabat Gedung Putih kemudian menyampaikan kepada Axios bahwa Trump “sangat marah” akibat komentar-komentar yang dilontarkan oleh pemimpin Israel tersebut.
Akar Masalah yang Sudah Berlangsung Lama
Sebenarnya, hubungan antara Trump dan Netanyahu sudah mulai memburuk beberapa bulan sebelum insiden-insiden terbaru ini terjadi. Salah satu faktor utama yang memicu ketidakpuasan Trump adalah belum terselesaikannya secara tuntas masalah invasi ke Gaza yang dimulai sejak Oktober 2023.
Invasi tersebut memicu konflik besar yang mengakibatkan Israel menewaskan sedikitnya 73.000 warga Palestina. Mayoritas korban yang meninggal dunia adalah perempuan dan anak-anak. Frustrasi Trump terhadap lambatnya proses penyelesaian konflik ini semakin memperlebar jurang pemisah antara kedua pemimpin.
Beberapa pekan yang lalu, Trump dilaporkan membentak Netanyahu dalam sebuah percakapan telepon yang berlangsung dengan penuh emosi. Dalam percakapan tersebut, Trump menggunakan kata-kata kasar dan menyampaikan pesan tegas kepada pemimpin Israel, yaitu bahwa “semua orang membencimu.” Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya ketidakpuasan yang dirasakan Trump.
Perkembangan Terbaru dalam Kasus Netanyahu
Sementara ketegangan antara Trump dan Netanyahu terus berlanjut, ada perkembangan menarik dari sisi lain. Pengadilan Turki baru-baru ini memutuskan untuk memasukkan nama Netanyahu ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Interpol. Keputusan ini menambah kompleksitas posisi Netanyahu di kancah internasional.
Kedua peristiwa ini, yaitu kemarahan Trump dan keputusan pengadilan Turki, menunjukkan bahwa Netanyahu sedang menghadapi tantangan besar dari berbagai pihak. Hubungan diplomatik yang selama ini dianggap kuat antara Amerika Serikat dan Israel tampaknya sedang diuji oleh serangkaian peristiwa yang terjadi belakangan ini.
Dengan demikian, masa depan hubungan antara Trump dan Netanyahu akan sangat bergantung pada bagaimana kedua pihak mampu menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada. Apakah kemarahan ini akan mereda atau justru semakin memperdalam keretakan, hanya waktu yang akan menjawabnya.
