INA Pegang Saham BRI dan Mandiri Meski Nilainya Sedang Turun
Pemegang Saham Perbankan Nasional Tunggu Pemulihan Pasar Kinerja Saham BRI dan Mandiri Dinilai Masih Berpotensi INA Pegang Saham BRI dan Mandiri - Sebagai

Pemegang Saham Perbankan Nasional Tunggu Pemulihan Pasar
Kinerja Saham BRI dan Mandiri Dinilai Masih Berpotensi
Tempatdonasi.com – Sebagai badan investasi strategis pemerintah, Indonesia Investment Authority (INA) tetap mempertahankan kepemilikan pada dua bank besar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, meskipun nilai saham keduanya mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. CFO INA, Eddy Porwanto, mengungkapkan bahwa keduanya masih memberikan imbal hasil yang menarik, terutama melalui pendapatan yang dianggap signifikan.
“Sejak kami menerima saham tersebut hingga saat ini dan masa depan, kami percaya bahwa return dari dividen Bank Mandiri dan BRI tetap menarik,” ujarnya dalam acara temu media di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Dalam laporan tahunan 2025, INA mencatat bahwa nilai saham Bank BRI dan Bank Mandiri mengalami penurunan sekitar 10,4 persen dibandingkan akhir tahun 2024. Hal ini menyebabkan nilai investasi pada instrumen ekuitas yang dimiliki turun menjadi Rp 58,2 triliun dari Rp 65 triliun pada tahun sebelumnya. Meski demikian, Eddy Porwanto menegaskan bahwa penurunan ini tidak mengurangi kepercayaannya pada kinerja kedua institusi.
Saham Bank BRI, khususnya, mengalami penurunan signifikan sebesar 30,54 persen dari 1 Juli 2021 hingga 1 Juli 2026. Harga saham saat ini berada di level Rp 2.670 per lembar, dibandingkan Rp 3.844 per lembar pada periode lima tahun lalu. Seiring waktu, nilai tukar saham ini juga mengalami penurunan 27,05 persen sepanjang tahun ini. Meski nilai jualnya terus mengalami tekanan, INA tetap menganggap pendapatan dari bank tersebut tetap relevan.
Di sisi lain, saham Bank Mandiri mengalami peningkatan 29,15 persen dalam rentang waktu yang sama. Harga saham akhir pekan ini mencapai Rp 3.810 per lembar, dibandingkan Rp 2.950 per lembar lima tahun silam. Namun, terjadi penurunan 25,29 persen sepanjang tahun ini, yang menjadi tantangan bagi pemegang saham. Eddy Porwanto menuturkan bahwa volatilitas pasar selama beberapa bulan terakhir adalah hal sementara, dan ia optimis akan ada pemulihan.
Penurunan nilai saham tersebut juga dipengaruhi oleh perubahan kondisi ekonomi domestik dan global. Meski pasar modal Indonesia masih menghadapi tekanan, kedua bank tersebut tetap menjadi pilihan utama karena konsistensi pertumbuhan sektor keuangan. Berdasarkan data dari laporan tahunan, INA mempertahankan kepemilikan 3,63 persen di Bank BRI dan 8 persen di Bank Mandiri, dengan total penyertaan modal negara sebesar Rp 45 triliun pada 2021.
Banyak analis menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan perbankan yang memiliki fondasi kuat dan pengalaman panjang tetap menjadi aset aman di tengah ketidakpastian pasar. Eddy Porwanto menambahkan bahwa keputusan INA untuk tetap memegang saham ini berdasarkan strategi jangka panjang, yang mencakup penilaian terhadap kemampuan operasional dan proyeksi pertumbuhan ke depan.
Sementara itu, tren penurunan saham Bank BRI menjadi perhatian pasar. Meski kinerjanya terlihat stagnan, bank ini masih mampu mempertahankan rasio profitabilitas yang baik. Hal ini didukung oleh jumlah nasabah yang stabil dan pengelolaan risiko yang teruji. Sementara Bank Mandiri, meski mengalami penurunan harga saham tahunan, menunjukkan indikasi peningkatan volume transaksi dan strategi ekspansi baru.
Dalam beberapa bulan terakhir, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mengalami fluktuasi yang cukup signifikan, dengan saham perbankan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Namun, Eddy Porwanto meyakinkan bahwa perusahaan-perusahaan yang dikelola INA mampu menghadapi tantangan ini. Ia menekankan bahwa pendapatan yang diperoleh dari kedua bank masih menguntungkan dan memenuhi target yang telah ditetapkan.
Menurut penelitian terkini, kebijakan moneter yang lebih ketat dan inflasi yang naik berkontribusi terhadap tekanan pada sektor perbankan. Meski demikian, beberapa faktor seperti pertumbuhan ekonomi dan kebijakan pemerintah bisa menjadi peluang untuk pemulihan. Eddy Porwanto menyoroti bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk memperkuat sektor keuangan, seperti subsidi bunga dan stimulan investasi.
Selain itu, ekspansi digital dan peningkatan transaksi non-tunai menjadi faktor utama yang mendukung pertumbuhan bisnis kedua bank tersebut. Bank BRI, misalnya, telah mengembangkan layanan digital yang semakin populer, sementara Bank Mandiri fokus pada pengembangan infrastruktur keuangan di daerah terpencil. Ini menunjukkan bahwa keduanya masih memiliki potensi untuk menarik investasi dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Keputusan INA untuk tetap memegang saham kedua bank ini tidak hanya berdasarkan kinerja historis, tetapi juga potensi pertumbuhan di masa depan. Meskipun nilai pasar mengalami penurunan, kepercayaan pada manajemen dan struktur bisnis kedua perusahaan membuatnya tetap menjadi pilihan utama. Eddy Porwanto berharap bahwa kondisi pasar akan stabil dalam waktu dekat, sehingga memungkinkan investasi tersebut menghasilkan return yang memadai.
Analisis terhadap saham Bank BRI dan Mandiri menunjukkan bahwa keuntungan jangka panjang lebih penting dibandingkan fluktuasi jangka pendek. Meski harga jual terus mengalami tekanan, pendapatan tahunan dari kedua bank masih terjaga dengan baik. Eddy Porwanto menegaskan bahwa strategi INA berfokus pada keberlanjutan, bukan hanya keuntungan saat ini.
Menurutnya, volatilitas pasar dalam beberapa bulan terakhir adalah bagian dari siklus pasar yang normal. “Kami melihat volatilitas yang terjadi saat itu adalah untuk sementara waktu saja,” katanya. Dengan menunggu waktu, ia yakin bahwa nilai saham kedua bank tersebut akan kembali naik dan mencapai tingkat yang lebih baik.
