Bagaimana Pertumbuhan Ekonomi Jika Konflik AS-Iran Berlanjut
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dalam Konflik AS-Iran Berlanjut Latest Program - Badan Riset dan Kebijakan Ekonomi (Indef) mengungkapkan bahwa

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dalam Konflik AS-Iran Berlanjut
Tempatdonasi.com – Badan Riset dan Kebijakan Ekonomi (Indef) mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melambat jika konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terus berlangsung hingga akhir 2026. Proyeksi ini berdasarkan simulasi model computable general equilibrium (CGE) yang dibuat oleh tim Indef untuk mengevaluasi dampak krisis ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia. Menurut lembaga tersebut, perlambatan pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 0,21 persen.
Analisis Skenario Pertama: Kenaikan Harga Energi
Dalam skenario pertama, Indef memproyeksikan kenaikan harga minyak dunia sebesar 30 persen dibandingkan baseline 70 dolar AS per barel. Faktor ini diprediksi memicu peningkatan indeks harga konsumen (IHK) hingga 0,28 persen. Sementara itu, daya beli masyarakat akan terpengaruh karena upah riil diprediksi turun 0,26 persen. Ekspor juga mengalami penurunan hingga 2,44 persen, sementara impor meningkat signifikan, yaitu 7,80 persen, akibat kebutuhan bahan bakar dan biaya energi yang naik.
“Karena ketika harga minyak bumi naik maka daya beli akan tergerus, inflasi naik, sehingga upah riil juga turun. Ekspor juga akan turun karena impornya akan semakin banyak. Walaupun kita juga memiliki komoditas ekspor yang naik, tetapi ada kontraksi dari impor pembelian BBM yang sangat tinggi,” jelas Eisha M. Rachbini, Direktur Program Indef, seperti dilansir Antara pada Kamis, 25 Juni 2026.
Di sisi lain, investasi diperkirakan mengalami peningkatan 1,20 persen, meski pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tetap melambat. Eisha menjelaskan bahwa kenaikan harga energi akan mengurangi daya beli konsumen, yang berdampak pada penurunan permintaan dalam negeri. Hal ini juga menyebabkan lonjakan impor terutama bahan bakar, yang berkontribusi pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Analisis Skenario Kedua: Penurunan Permintaan Ekspor
Skenario kedua menunjukkan perlambatan ekonomi yang lebih dalam akibat penurunan permintaan impor dari negara-negara mitra utama Indonesia. Dengan asumsi permintaan ekspor tersebut menurun sebesar 5 persen, Indef memperkirakan IHK naik 0,11 persen. Upah riil juga terpuruk sebanyak 0,29 persen, sementara investasi hanya meningkat 0,36 persen.
Ekspor diprediksi mengalami kontraksi paling tajam, mencapai 5,05 persen. Sementara impor menurun sekitar 0,23 persen. Penurunan impor ini dipengaruhi oleh efisiensi biaya produksi yang lebih baik di sektor tertentu. Namun, kondisi tersebut hanya mampu mengoreksi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,24 persen. Perekonomian Indonesia tetap mengalami penurunan, meski tidak setajam skenario pertama.
Analisis Skenario Ketiga: Fragmentasi Rantai Pasok Global
Dalam skenario ketiga, Indef memproyeksikan dampak fragmentasi perdagangan dan gangguan rantai pasok akibat kenaikan tarif serta hambatan non-tarif. Faktor ini memicu kenaikan IHK sebesar 0,18 persen dan penurunan upah riil 0,23 persen. Investasi terlihat hampir stagnan, hanya naik 0,07 persen.
Ekspor dan impor masing-masing mengalami penurunan 1,16 persen dan 0,30 persen. Pertumbuhan ekonomi dalam skenario ini diperkirakan melambat 0,17 persen. Eisha menekankan bahwa kombinasi risiko geopolitik, gangguan rantai pasok, serta perubahan iklim yang tidak diantisipasi akan menjadi faktor utama yang mengancam stabilitas ekonomi Indonesia.
Ketiga skenario tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi ekonomi global. Meski kenaikan harga energi dan komoditas lainnya menjadi faktor utama, kondisi eksternal seperti penurunan permintaan ekspor dan fragmentasi perdagangan juga berkontribusi signifikan. Dengan demikian, Indef memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 akan melambat ke kisaran 5 persen secara tahunan (year on year), di tengah normalisasi konsumsi setelah Lebaran, tekanan harga energi dan pangan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan biaya produksi.
Kebijakan pemerintah dan respons pasar akan menjadi penentu dalam mengurangi dampak dari skenario-skenario tersebut. Eisha menyoroti bahwa jika risiko-risiko ini tidak diatasi secara efektif, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi terkontraksi. Ia menambahkan bahwa indikator seperti IHK, upah riil, dan volume perdagangan akan menjadi parameter utama dalam mengukur tingkat tekanan yang dihadapi oleh perekonomian nasional.
Konsekuensi Ekonomi Global pada Indonesia
Kenaikan harga energi yang terjadi akibat konflik AS-Iran tidak hanya memengaruhi inflasi dalam negeri, tetapi juga mengubah struktur perdagangan global. Skenario pertama menunjukkan bahwa biaya produksi meningkat, sehingga daya beli konsumen terkikis. Hal ini berpotensi mengurangi konsumsi dalam negeri dan memperkuat tekanan pada sektor ekspor.
Skenario kedua menggambarkan dampak dari krisis ekonomi mitra utama Indonesia. Penurunan permintaan impor dari negara-negara tujuan ekspor akan berdampak pada keuntungan perdagangan dan pertumbuhan pendapatan. Meski penurunan ini lebih kecil dibandingkan skenario pertama, upah riil tetap terkena imbas dari kebijakan fiskal dan moneter yang diambil oleh mitra ekonomi tersebut.
Skenario ketiga menyoroti fragmentasi rantai pasok global, yang memperumit distribusi barang dan jasa. Tarif yang meningkat serta hambatan non-tarif seperti regulasi lingkungan dan standar produksi akan memperbesar biaya ekspor. Impor juga terpengaruh, terutama komoditas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Dalam skenario ini, inflasi dan penurunan daya beli konsumen lebih terbatas dibandingkan skenario pertama.
Indef menekankan bahwa kebijakan yang tepat serta antisipasi terhadap risiko eksternal sangat penting untuk menjaga stabilitas perekonomian. Jika ada kemampuan untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan bakar dan meningkatkan daya saing komoditas, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tetap stabil meski terdampak oleh konflik Timur Tengah.
Editor: Celah Pencucian Uang lewat Surat Utang Danantara
