Skip to content
Bisnis

LNG Plant di Tuban Siap Produksi 55 Ribu Ton Gas per Tahun

Sari Setiawan - tempatdonasi.com 4 mins read

duksi 55 Ribu Ton Gas per Tahun Latest Program - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja meresmikan Mini LNG Plant yang dikelola oleh PT

LNG Plant di Tuban Siap Produksi 55 Ribu Ton Gas per Tahun

LNG Plant di Tuban Siap Produksi 55 Ribu Ton Gas per Tahun

Tempatdonasi.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja meresmikan Mini LNG Plant yang dikelola oleh PT Sumber Aneka Gas (SAG) di Tuban, Jawa Timur. Acara peresmian ini dilakukan oleh Menteri Bahlil Lahadalia, yang menegaskan bahwa fasilitas ini menjadi bagian penting dalam mencapai tujuan ketahanan energi nasional. Sebagai bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto, keberadaan LNG Plant ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor energi, khususnya produk bumi seperti LPG.

Langkah Strategis untuk Energi Domestik

Menurut Bahlil, Mini LNG Plant SAG bukan hanya sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga tindakan nyata yang bertujuan meningkatkan nilai tambah dari gas bumi dalam negeri. “Ini adalah bukti komitmen perusahaan dalam memenuhi kebutuhan energi lokal,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 25 Juni 2026. Menurutnya, dengan adanya produksi LNG, LPG, kondensat, dan compressed natural gas (CNG), fasilitas ini dapat memperkuat rantai pasok energi yang lebih mandiri.

“Kehadiran Mini LNG Plant ini memberikan kontribusi signifikan terhadap keberlanjutan energi nasional. Dengan menghasilkan berbagai bentuk energi, kita tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga mendorong pengembangan industri lokal,” kata Bahlil.

Kapasitas Produksi dan Infrastruktur

Fasilitas Mini LNG Plant SAG dirancang untuk beroperasi secara maksimal dengan kapasitas produksi LNG mencapai 55.300 ton per tahun. Selain itu, kapasitas penyimpanannya mencapai 1.600 meter kubik, yang cukup untuk menjamin pasokan stabil. Proyek ini juga memiliki potensi menghasilkan LPG hingga 9.800 ton per tahun, kondensat sekitar 19.600 barel per tahun, serta liquid CO2 sebanyak 21.000 ton per tahun. Produksi ini diharapkan dapat menunjang kebutuhan berbagai sektor, seperti industri, ritel, dan pembangkit listrik di Jawa, Bali, hingga Sulawesi.

Gas yang digunakan untuk proses produksi berasal dari Lapangan Sumber, yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java. Lapangan ini memiliki alokasi pasokan hingga 15 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) hingga tahun 2035. Dengan penyaluran gas dari sumber lokal, Bahlil berharap dapat mengurangi tekanan pada pasokan dari daerah lain yang kini mengalami penyesuaian harga.

Perbandingan Harga di Berbagai Wilayah

Bahlil menjelaskan bahwa harga gas di Jawa Timur masih tergolong stabil. Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah seperti Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta, yang melalui penyesuaian harga akibat penurunan produksi dari lapangan-lapangan eksisting. “Wilayah-wilayah tersebut perlu penyesuaian harga, karena pasokan mulai menurun,” tuturnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pasokan gas menjadi tantangan utama di sejumlah daerah, sementara Tuban bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Kita harus memastikan bahwa pasokan tetap terjaga hingga 2035. Tanpa kepastian ini, investasi yang dilakukan pengembang proyek bisa terganggu,” kata Bahlil.

Menteri ESDM juga menekankan pentingnya dukungan terus-menerus dari PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java sebagai pemasok gas. “Kami meminta mereka menjaga konsistensi pasokan, karena keberlanjutan ini sangat krusial untuk memastikan proyek bisa berjalan optimal,” imbuhnya. Menurut Bahlil, ketidakstabilan pasokan bisa berdampak besar pada keberlanjutan investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan pengembang.

Manfaat Ekonomi dan Rencana Masa Depan

Kehadiran Mini LNG Plant di Tuban tidak hanya bermanfaat bagi sektor energi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal. Proyek ini akan menciptakan peluang kerja baru, mendorong pertumbuhan industri pengolahan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Selain itu, infrastruktur yang dibangun juga dirancang untuk mendukung transportasi darat LNG, yang menjadi strategi baru dalam mengoptimalkan distribusi energi.

Bahlil menyebutkan bahwa fasilitas ini akan menjadi model yang bisa diikuti oleh daerah lain. “Dengan investasi yang telah ditanamkan, kita perlu menjaga keberlanjutan agar hasilnya bisa dirasakan secara berkelanjutan,” katanya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan proyek ini bisa menjadi langkah awal dalam mengembangkan ekosistem energi nasional yang lebih mandiri.

Komitmen untuk Keberlanjutan

Sebagai bentuk dukungan, Bahlil meminta perusahaan pemasok gas menjaga kontrak pasokan hingga masa berlakunya 2035. “Orang sudah berinvestasi besar, jadi harus tetap didukung. Jangan sampai ada gangguan, karena mereka butuh kepastian untuk menjalankan rencana bisnis jangka panjang,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pasokan energi adalah prioritas utama dalam mengembangkan sektor ini.

Pengelolaan gas di Tuban juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri energi dalam negeri. Dengan menghasilkan berbagai produk seperti LNG, LPG, kondensat, dan CO2 cair, Mini LNG Plant ini berpotensi menjadi pusat distribusi energi yang lebih efisien. Selain itu, Bahlil yakin bahwa dengan adanya fasilitas ini, Jawa Timur bisa menjadi basis utama bagi kebutuhan energi daerah lain, termasuk kota-kota besar di pulau Jawa.

Menurut Bahlil, keberadaan Mini LNG Plant di Tuban juga membantu menstabilkan harga gas di sejumlah wilayah. “Dengan penyaluran dari sumber lokal, kita bisa mengurangi risiko kenaikan harga yang sering terjadi akibat fluktuasi global,” terangnya. Ia menegaskan bahwa proyek ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan ekosistem energi yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Editor: Bagi-bagi Kepemilikan Bursa Saham

Dalam upaya meningkatkan keterlibatan publik, PT SAG juga berencana mengajak investor dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kepemilikan saham perusahaan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat komitmen terhadap pengembangan energi bersih dan berkelanjutan. Dengan keberhasilan Mini LNG Plant di Tuban, sektor energi nasional bisa menjadi lebih stabil, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti kenaikan harga bahan bakar dan ketidakpastian pasokan.

Bahlil juga memprediksi bahwa proyek ini akan menjadi penggerak utama dalam transformasi energi Indonesia. “Ini bukan hanya untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga sebagai investasi untuk masa depan. Kita perlu menciptakan sistem yang bisa bertahan hingga 2035 dan bahkan lebih jauh,” katanya. Dengan demikian, Mini LNG Plant di Tuban menjadi salah satu titik penting dalam upaya mewujudkan energi yang lebih mandiri dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Join the discussion