BEI: Penurunan IPO Tak Cerminkan Kepercayaan Investor Turun
an Tanda Kepercayaan Investor Turun Meeting Results - Perkembangan terbaru di Bursa Efek Indonesia menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam jumlah

Meeting Results: Penurunan IPO Bukan Tanda Kepercayaan Investor Turun
Tempatdonasi.com – Perkembangan terbaru di Bursa Efek Indonesia menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana. Namun, pihak manajemen bursa menegaskan bahwa fenomena ini tidak serta-merta mengindikasikan adanya penurunan kepercayaan dari para investor maupun calon emiten terhadap instrumen pasar modal nasional.
Saidu Solihin, yang menjabat sebagai Direktur Penilaian Perusahaan di BEI, memberikan penjelasan komprehensif mengenai situasi terkini. Menurutnya, volume permohonan pernyataan pendaftaran saham secara keseluruhan justru tidak menunjukkan tren penurunan. Yang terjadi adalah sebagian calon emiten memilih untuk membatalkan atau menunda rencana pencatatan saham mereka ke bursa. Sementara itu, kelompok lain belum berhasil memperoleh persetujuan resmi dari pihak bursa untuk melanjutkan proses pencatatan.
Alasan di Balik Penundaan dan Pembatalan IPO
Terdapat berbagai alasan mendasar yang melatarbelakangi keputusan-keputusan tersebut. Mulai dari pertimbangan kondisi keuangan perusahaan, aspek operasional, hingga kepatuhan terhadap regulasi hukum. Faktor keberlangsungan usaha atau going concern juga menjadi pertimbangan utama bagi banyak perusahaan dalam menentukan timing pencatatan saham mereka.
Meski demikian, aktivitas penerbitan obligasi dan atau sukuk serta instrumen efek lainnya di Bursa mengalami peningkatan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Saidu kepada media Tempo pada hari Senin, tanggal 13 Juli 2026. Ia menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas penerbitan obligasi, sukuk, dan berbagai instrumen efek lainnya merupakan indikasi positif. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan masih terus memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaan utama, meskipun mereka memilih instrumen yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Keputusan untuk menjadi perusahaan terbuka sebenarnya merupakan langkah strategis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Dari perspektif internal, perusahaan harus memastikan kesiapan dari aspek kinerja keuangan, struktur organisasi, serta pemenuhan seluruh persyaratan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan BEI. Sementara dari sisi eksternal, keputusan IPO sangat dipengaruhi oleh kondisi industri, perkembangan ekonomi global dan domestik, tingkat suku bunga, inflasi, kebijakan pemerintah, hingga dinamika geopolitik yang terjadi.
Nilai IPO Meningkat Meski Jumlah Perusahaan Menurun
Meskipun jumlah IPO menurun secara kuantitatif, nilai dana yang berhasil dihimpun justru mengalami peningkatan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sebanyak 26 perusahaan berhasil menghimpun dana sekitar Rp 18,1 triliun melalui IPO. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan Rp 14,3 triliun yang diperoleh oleh 41 perusahaan pada tahun 2024. Menurut Saidu, kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan yang melantai memiliki skala pendanaan yang lebih besar.
BEI menilai bahwa keberhasilan pasar modal tidak hanya diukur dari jumlah perusahaan yang melakukan IPO, tetapi juga kualitas emiten yang masuk ke bursa. Hal terpenting bukan hanya jumlah perusahaan yang mencatatkan saham, tetapi juga bagaimana perusahaan tersebut memiliki fundamental yang baik, tata kelola yang kuat, dan mampu tumbuh secara berkelanjutan setelah menjadi perusahaan terbuka.
Untuk meningkatkan kualitas emiten, BEI telah memperbarui Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham pada Maret 2026. Regulasi tersebut ditujukan untuk memperkuat tata kelola perusahaan tercatat sekaligus meningkatkan perlindungan investor.
Selain penguatan regulasi, BEI juga terus memberikan edukasi dan pendampingan kepada perusahaan potensial melalui berbagai program, seperti Go Public Seminar, coaching clinic, masterclass, dan one-on-one meeting. Bursa juga menyediakan laman khusus bagi calon emiten sebagai sumber informasi mengenai proses dan persiapan IPO serta fasilitas diskusi awal dengan BEI untuk membahas kesiapan pencatatan saham.
Sebelumnya, ekonom sekaligus Capital Market Specialist and Founder LBP Enterprises, Lucky Bayu Purnomo, menilai keberlanjutan penawaran umum perdana saham menjadi indikator positif iklim investasi, benar secara kualitatif. Dengan masih adanya perusahaan berskala besar yang berani melantai di bursa di tengah tekanan ekonomi menunjukkan kepercayaan terhadap pasar modal.
Secara prinsip benar, namun perlu dilihat secara proporsional. Data menunjukkan hingga 9 Juli 2026 realisasi IPO baru mencapai enam perusahaan dari target 50 perusahaan dalam RKAB 2026 BEI.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Lucky kepada Tempo pada hari Ahad, tanggal 12 Juli 2026. Angka itu, menurut dia, justru melanjutkan tren pelambatan struktural, yaitu jumlah emiten IPO terus menyusut dari 79 emiten pada 2023, menjadi 41 emiten pada 2024. Tren ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sedang mengalami konsolidasi kualitas, bukan penurunan minat investor secara keseluruhan.
