Skip to content
Bisnis

Survei Kadin: Pelemahan Rupiah Tekan Prospek Bisnis

Tegar Ananda - tempatdonasi.com 3 mins read

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Memberatkan Prospek Bisnis: Temuan Survei Kadin Indonesia Survei Kadin - Hasil pengumpulan data terbaru dari Kadin Indonesia

Survei Kadin: Pelemahan Rupiah Tekan Prospek Bisnis

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Memberatkan Prospek Bisnis: Temuan Survei Kadin Indonesia

Tempatdonasi.com – Hasil pengumpulan data terbaru dari Kadin Indonesia Business Pulse pada kuartal kedua menunjukkan adanya kekhawatiran signifikan di kalangan pelaku usaha terkait kondisi mata uang domestik. Sebanyak 65,2 persen responden menyatakan bahwa penurunan nilai rupiah memberikan dampak buruk terhadap prospek bisnis mereka dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Angka ini mencerminkan sentimen negatif yang cukup dominan di sektor usaha nasional.

Fahrul Flufian, Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, menjelaskan bahwa survei ini dirancang untuk menangkap berbagai situasi yang dihadapi dunia usaha berdasarkan sentimen dan persepsi mereka. Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Menara Kadin, Jakarta, pada Rabu, 15 Juli 2026, ia menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kondisi ini.

Ini menjadi hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah karena ini menjadi hal pemberat dunia usaha.

Metodologi survei ini menggunakan teknik random sampling dengan melibatkan 276 anggota Kamar Dagang dan Industri dari 27 provinsi di seluruh Indonesia. Kuesioner disebar melalui platform WhatsApp serta formulir survei daring untuk memastikan jangkauan yang luas. Margin of error survei ini tercatat sebesar 5,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen, memberikan validitas statistik yang kuat terhadap temuan yang dihasilkan.

Dari sisi komposisi demografis, responden laki-laki mendominasi dengan persentase 76,1 persen, sementara perempuan berkontribusi sebesar 23,9 persen. Secara geografis, Jakarta menjadi wilayah asal responden terbanyak dengan 31 persen, diikuti oleh Jawa Timur sebesar 10,9 persen dan Jawa Barat 10,1 persen. Data ini menunjukkan representasi yang cukup merata dari berbagai wilayah ekonomi utama Indonesia.

Mengenai persepsi terhadap pelemahan rupiah, Fahrul menguraikan bahwa 35,1 persen responden menilai dampaknya cukup negatif, sedangkan 30,1 persen lainnya merasa dampaknya sangat negatif. Sebanyak 26,4 persen responden memberikan respons netral, sementara hanya 8,3 persen yang menganggap kondisi ini berdampak positif bagi bisnis mereka. Kombinasi kedua kategori negatif mencapai 65,2 persen, sesuai dengan temuan utama survei.

Dampak operasional yang dirasakan pelaku usaha juga bervariasi. Sebanyak 23,1 persen responden menyebutkan bahwa pelemahan rupiah langsung memengaruhi biaya operasional mereka. Selain itu, 17,9 persen merasa margin keuntungan mereka tertekan, dan 14,2 persen lainnya terdampak oleh kenaikan biaya bahan baku impor. Ketiga faktor ini menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar memiliki efek berantai terhadap berbagai aspek operasional bisnis.

Selain isu mata uang, survei ini juga mengidentifikasi tantangan struktural yang dihadapi pelaku usaha. Birokrasi menjadi hambatan utama dengan persentase 16,4 persen, diikuti oleh kebijakan dan program pemerintah sebesar 14,8 persen. Meskipun demikian, Fahrul mencatat bahwa masih ada optimisme di kalangan responden.

Namun tetap optimistis untuk kondisi bisnis akan membaik kalau ada perbaikan dari kebijakan pemerintah pusat dan pulihnya pasar internasional.

Untuk memulihkan kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap perekonomian Indonesia, stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi prioritas utama bagi 26,1 persen responden. Pada posisi kedua, 19 persen responden menganggap perlunya kepastian regulasi dan investasi, sementara 18,8 persen lainnya membutuhkan kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah. Faktor-faktor lain seperti perbaikan daya beli masyarakat, stabilitas politik, dan penyesuaian proyek strategis berada di posisi lebih rendah, dengan penurunan suku bunga menjadi prioritas paling bawah.

Kadin Indonesia Institute memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah serta kepastian arah kebijakan dan penyederhanaan birokrasi. Kedua hal ini diidentifikasi sebagai sumber tekanan sekaligus harapan utama pelaku usaha di tengah pelemahan bisnis yang terus berlanjut.

Kesimpulan dari survei ini menunjukkan bahwa persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis pada kuartal II 2026 masih terus melemah. Hal ini diikuti dengan sikap hati-hati melalui penurunan rencana investasi untuk enam bulan ke depan, mencerminkan kehati-hatian sektor usaha dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi domestik dan global.

Pilihan Editor:  Publik Makin Pesimistis Lapangan Kerja Bertambah

Join the discussion