Skip to content
Bisnis

Kamar Dagang ASEAN-Hong Kong Terbentuk, RI Bidik Investasi

Wahyu Santoso - tempatdonasi.com 4 mins read

ng ASEAN-Hong Kong Diluncurkan, Indonesia Fokus Bangun Kerja Sama Investasi Topics Covered - Pada hari Selasa, 30 Juni 2026, organisasi kamar dagang baru

Kamar Dagang ASEAN-Hong Kong Terbentuk, RI Bidik Investasi

Kamar Dagang ASEAN-Hong Kong Diluncurkan, Indonesia Fokus Bangun Kerja Sama Investasi

Tempatdonasi.com – Pada hari Selasa, 30 Juni 2026, organisasi kamar dagang baru antara ASEAN dan Hong Kong secara resmi dibuka. Inisiatif ini bertujuan memperkuat interaksi ekonomi dan investasi antara Hong Kong, Greater Bay Area (GBA), serta negara-negara Asia Tenggara. Sebagai bagian dari upaya membangun jaringan ekonomi yang lebih erat, kamar dagang ini berperan sebagai platform untuk mendorong kerja sama lintas kawasan, termasuk pengembangan industri dan peningkatan pertukaran perdagangan.

Kawasan Ekonomi Greater Bay Area: Pilar Strategis dalam Hubungan ASEAN

Kawasan ekonomi Greater Bay Area terdiri dari tiga wilayah utama, yaitu Hong Kong, Makau, dan sembilan kota utama di Provinsi Guangdong. Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global, GBA memiliki kapasitas besar dalam menarik investasi dan berkontribusi pada hubungan bilateral dengan kawasan Asia Tenggara. Peluncuran kamar dagang ini menandai langkah strategis Hong Kong untuk mempererat hubungan ekonomi dengan negara-negara anggota ASEAN.

Manfaat bagi Indonesia: Kunci Membuka Akses ke Pasar Besar

Suwito, ketua komite bilateral Hong Kong-Makau Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menjelaskan bahwa organisasi ini memberi peluang baru bagi Indonesia untuk memperdalam kemitraan ekonomi dengan Hong Kong. “Hong Kong berperan sebagai pelaku bisnis yang menghubungkan Indonesia dengan pasar Cina,” kata Suwito saat diwawancara Tempo di tengah acara SCMP GBA-ASEAN Summit 2026 di Hong Kong.

“Saat ini, Hong Kong juga menjadi sumber investasi asing terbesar kedua bagi Indonesia,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kamar dagang ini membuka ruang bagi negara-negara ASEAN untuk mengakses pasar yang lebih luas, terutama melalui jaringan ekonomi Greater Bay Area yang memiliki nilai ekonomi mencapai lebih dari RMB 15 triliun pada tahun lalu.

Suwito menambahkan bahwa pihaknya berharap kerja sama ini tidak hanya terbatas pada sektor manufaktur seperti kendaraan listrik dan baterai, tetapi juga mencakup sektor digital yang berkembang pesat. “Investasi digital menawarkan potensi yang berbeda, karena perusahaan teknologi bisa beroperasi dengan skala kecil, bahkan dari pusat mereka di Shenzhen,” jelasnya. Hal ini menunjukkan kebutuhan Indonesia untuk mengakomodasi keberagaman jenis investasi dari berbagai wilayah.

Pertemuan Global: Mendiskusikan Potensi Kolaborasi

Peluncuran kamar dagang tersebut diadakan dalam acara SCMP GBA-ASEAN Summit 2026 yang dihadiri lebih dari 300 peserta, termasuk pejabat pemerintah, tokoh bisnis, dan akademisi dari Hong Kong, Greater Bay Area, serta negara-negara ASEAN. Forum ini menjadi ajang untuk mengupas peluang kolaborasi dalam teknologi, pengembangan talenta, komputasi awan, dan investasi.

“Kami tengah menyusun rencana pembangunan lima tahun pertama untuk menentukan arah pengembangan Greater Bay Area,” kata John Lee, Chief Executive Hong Kong. Ia menjelaskan bahwa rencana ini menyasar perkuatan hubungan regional dengan ASEAN serta negara-negara yang terlibat dalam Inisiatif Jalur Sutra (Belt and Road Initiative).

Lee menekankan bahwa kerja sama dengan ASEAN menjadi fokus utama. “Kamar dagang ini akan menjadi penggerak dalam memperdalam integrasi ekonomi antara Hong Kong dan negara-negara Asia Tenggara,” tambahnya. Sebagai penghubung, Hong Kong diperhitungkan sebagai mediator yang mampu memfasilitasi pertukaran modal dan teknologi antara dua kawasan.

Peran Hong Kong sebagai Jembatan Ekonomi

Daryl Ng, ketua HK-ASEAN Foundation dan pendiri Kamar Dagang ASEAN Hong Kong, menyatakan bahwa Hong Kong berfungsi sebagai jembatan penting yang menghubungkan lebih dari 700 juta penduduk ASEAN dengan Greater Bay Area. “Kehadiran kamar dagang ini menjawab kebutuhan kawasan Asia Tenggara untuk memperluas akses ke pasar global,” katanya. Ng menyoroti bahwa nilai perdagangan ekspor antara ASEAN dan Greater Bay Area melalui Hong Kong mencapai HK$ 680 miliar pada 2025, menunjukkan keterlibatan yang signifikan.

Menurut data yang disebutkan, total perdagangan ASEAN dengan Provinsi Guangdong mencapai RMB 1,5 triliun, menegaskan bahwa hubungan ekonomi kedua kawasan tetap kuat. “Kami melihat tren pertumbuhan yang positif, dan kamar dagang ini akan mempercepat proses tersebut,” tutur Ng. Ia menambahkan bahwa kerja sama ini juga menjadi langkah awal menuju integrasi ekonomi yang lebih dalam antara Indonesia dan GBA.

Strategi Berkelanjutan: Membangun Ekosistem Investasi yang Inklusif

Menurut Suwito, potensi kerja sama dengan GBA tidak hanya terletak pada jumlah investasi yang masuk, tetapi juga pada jenis industri yang terlibat. “Sektor digital memiliki keunikan karena tidak memerlukan pembangunan pabrik besar, sehingga lebih fleksibel untuk beroperasi di Indonesia,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa kamar dagang akan menjadi penghubung yang membantu pemerintah dan pelaku usaha lokal mengakses segala jenis modal, baik dari sektor tradisional maupun inovatif.

Dalam konteks ini, Kadin Indonesia berupaya memastikan bahwa investasi digital dari Greater Bay Area dapat didorong dengan kebijakan yang mendukung pengembangan teknologi dan inovasi. “Kami ingin membuat Indonesia menjadi destinasi yang menarik bagi berbagai jenis investasi, terutama yang berbasis IT,” tambah Suwito. Ia juga menyebutkan bahwa kamar dagang ini akan membantu mempercepat proses digitalisasi perekonomian Indonesia.

Kerja Sama di Era Globalisasi: Harapan untuk Pertumbuhan Ekonomi

Kamar dagang ASEAN-Hong Kong diharapkan menjadi bentuk kerja sama yang lebih dinamis, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Dengan menggabungkan kekuatan pasar Cina dan akses ke ek

Join the discussion