Dunia

Meeting Results: Europe on Screen 2026 Dibuka dengan Film The Baronesses

creen 2026 Hadir di Delapan Kota Indonesia Meeting Results - Festival film yang diinisiasi oleh Uni Eropa, Europe on Screen (EoS), kembali menyapa penikmat

Desk Dunia
Published Juni 7, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Festival Film Europe on Screen 2026 Hadir di Delapan Kota Indonesia

Meeting Results – Festival film yang diinisiasi oleh Uni Eropa, Europe on Screen (EoS), kembali menyapa penikmat film di Indonesia pada 4 hingga 14 Juni 2026. Kali ini, acara ini akan berlangsung di delapan lokasi strategis, termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Medan, Sidoarjo, dan Semarang. Selama sebelas hari, pengunjung dapat menikmati serangkaian tayangan film gratis yang berasal dari 28 negara anggota Uni Eropa, total 55 judul yang akan memperkaya pengalaman cinematic lokal.

Program Pembukaan di Jakarta Menjadi Fokus Perhatian

Upacara pembukaan EoS 2026 secara resmi diadakan pada Jumat, 5 Juni 2026, di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Acara ini menandai dimulainya edisi ke-26 festival, yang menjadi platform penting untuk memperkuat hubungan budaya antara Eropa dan Indonesia. Salah satu film yang diputar dalam pembukaan adalah The Baronesses atau Les Baronnes, karya sutradara Belgia Mokhtaria Badaoui dan Nabil Ben Yadir. Film ini menjadi penanda kreativitas yang menggambarkan keberanian manusia, terutama perempuan lanjut usia, dalam memperjuangkan impian melalui seni teater.

“Banyak penonton datang ke EoS bukan hanya untuk menikmati film-film Eropa, namun juga menemukan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan mereka,” kata Stephane Mechati, Kuasa Usaha Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dalam keterangan resmi.

Dalam perayaan tersebut, hadir sejumlah Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, termasuk Frank Felix, Duta Besar Belgia, yang menyampaikan harapan agar penonton bisa merasakan kehangatan dan relevansi kisah yang disampaikan dalam film. Felix menjelaskan bahwa The Baronesses bukan hanya sekadar tontonan, tetapi juga alat untuk membangkitkan empati dan perasaan keterhubungan dengan isu-isu kehidupan nyata.

“Kami bangga The Baronesses terpilih sebagai film pembuka EoS 2026. Cerita ini menyajikan keberanian untuk terus bermimpi dan menemukan kembali diri sendiri tanpa dibatasi oleh usia,” ujar Felix.

European Cinema Menjadi Cermin Budaya dan Kreativitas

Sejak 2005, Europe on Screen telah menjadi jembatan utama dalam pertukaran budaya antara Eropa dan Indonesia. Dengan durasi lebih dari dua dekade, festival ini tetap memperkuat posisinya sebagai ajang film Eropa terlama yang berlangsung di tanah air. Berbagai film yang dipilih tidak hanya menawarkan kualitas produksi, tetapi juga menyampaikan pesan sosial dan emosional yang relevan bagi berbagai kalangan.

The Baronesses sendiri telah menorehkan prestasi dalam beberapa festival internasional. Karya drama komedi ini dirilis pada 2025 dan telah ditampilkan di berbagai acara film di seluruh dunia. Salah satunya, film ini meraih penghargaan Film Terbaik kategori Rebels with a Cause di Tallinn Black Night Film Festival 2025, Estonia. Penghargaan ini menunjukkan nilai kreativitas yang diakui secara global.

Platform untuk Sineas Muda Indonesia

Di samping menampilkan film-film Eropa, EoS 2026 juga menjadi ruang bagi sineas muda Tanah Air untuk memperkenalkan karyanya. Terutama melalui program Short Film Pitching Project (SFPP) 2025, tiga film terbaik akan ditampilkan dalam acara ini di Galeri Nasional Indonesia. Penayangan perdana karya-karya SFPP selalu dinantikan oleh komunitas film karena menjadi cerminan kemajuan kreatif para sineas lokal.

“Pemutaran perdana film-film pemenang SFPP selalu menjadi momen spesial di EoS karena kita bisa melihat perkembangan sineas muda Indonesia dan menghadirkan cerita-cerita yang berani serta personal,” ucap Nauval Yazid, Ko-Direktur EoS 2026.

Nauval menekankan bahwa kehadiran tiga film terbaik kali ini membuktikan dukungan festival terhadap pengembangan ekosistem perfilman nasional. Dua dari karya tersebut adalah Echoes of The Unseen (Sang Penjaga) oleh Sesarini dan Lyza Anggraheni dari Yogyakarta, serta Pool Party karya Aisyah Aulia dan Adrian Fauzi dari Sumedang. Film ketiga, In The Name of Me, dibuat oleh Teresa Katarina dan Jonathan Gradiyan dari Jakarta. Ketiganya tidak hanya memenuhi standar kreativitas, tetapi juga mencerminkan keberagaman isu yang relevan dengan masyarakat Indonesia.

Tamu Internasional Memperkaya Interaksi Budaya

Kehadiran tamu dari industri perfilman Eropa menjadi bagian penting dari EoS 2026. Dua tokoh utama yang hadir adalah Damian McCann, sutradara film Aontas 2025 dari Irlandia, serta Zar Donato, aktris utama film Marciel 2025 produksi Siprus. Mereka tidak hanya menjadi bagian dari acara, tetapi juga membuka peluang dialog antara komunitas film Indonesia dengan profesional dari Eropa.

“Setiap tahun kami ingin agar penonton EoS bisa mengakses proses kreatif serta lanskap perkembangan sinema Eropa saat ini,” kata McCann, yang diundang untuk berbagi pengalaman profesionalnya.

Zar Donato, sementara itu, menjelaskan bahwa partisipasi dalam festival ini memperkaya perspektif penonton terhadap kisah-kisah yang berbeda dan gaya kreatif yang unik. Dengan kehadiran mereka, penonton di Indonesia bisa menikmati film-film yang dianggap sebagai representasi seni dan budaya Eropa, sekaligus memperluas wawasan tentang industri perfilman internasional.

Pemutaran film dalam EoS 2026 tidak hanya menampilkan karya-karya yang telah terbukti sukses, tetapi juga menjadi forum untuk mengeksplorasi potensi baru. Dengan kombinasi film-film Eropa dan karya sineas muda Indonesia, festival ini menggabungkan dua arus kreativitas yang saling melengkapi. Tujuan utama EoS adalah menumbuhkan minat penonton terhadap film dari Eropa, sekaligus memberikan ruang bagi seniman lokal untuk bersinar di panggung internasional.

Endah T.D Retnoastuti, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan RI, menambahkan bahwa EoS berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan talenta muda. “Dukungan ini merupakan upaya kami untuk mendorong lahirnya talenta baru di industri perfilman Indonesia karena memberi kesempatan bagi sineas muda untuk berjejaring dan memperluas akses ke komunitas perfilman internasional,” jelas Endah.

Sebagai bagian dari perayaan, EoS 2026 juga menyoroti keberagaman alur cerita yang diberikan oleh film-film dipilih. Mulai dari kisah keberanian perempuan tua di Brussels hingga kisah-kisah kecil dari sineas muda Indonesia, setiap tayangan dirancang untuk menyentuh hati dan pikiran penonton. Dengan menghadirkan konten yang bermacam-macam, festival ini ingin menunjukkan bahwa sinema adalah medium universal yang mampu menggambarkan realitas sekaligus menginspirasi.

Selama 2026, acara ini tidak hanya memperkaya katalog film, tetapi juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai global yang diterapkan dalam karya seni. Dengan dukungan pemerintah dan komunitas, EoS terus berkembang menjadi acara yang mampu menyatukan penikmat film

Leave a Comment