Dunia

New Policy: Diserang AS, Iran Balas Bidik Pangkalan AS di Kuwait-Bahrain

Iran Serang Pangkalan AS, Balas Serangan Terhadap Negara Ini New Policy - Iran mengklaim bahwa serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain

Desk Dunia
Published Juni 11, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Iran Serang Pangkalan AS, Balas Serangan Terhadap Negara Ini

New Policy – Iran mengklaim bahwa serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait, serta serangan terhadap dua kapal di Selat Hormuz, merupakan respons atas serangan AS yang kembali dilancarkan. Tindakan ini dilakukan sebagai balasan atas keputusan Washington untuk menyerang wilayah Iran, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang diumumkan pada 8 April lalu.

Korps Garda Revolusi Iran Serang Target di Timur Tengah

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah meluncurkan serangan drone terhadap beberapa lokasi strategis di Timur Tengah. Pada Kamis pagi, 11 Juni 2026, mereka menargetkan Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain dan dua pangkalan udara di Kuwait, yaitu Ali Al Salem serta Ahmad Al-Jaber. Serangan tersebut dilakukan secara bersamaan dengan upaya menyerang dua kapal tanker minyak yang mencoba “melewati Selat Hormuz secara ilegal,” menurut laporan Al Jazeera.

Ancaman AS dan Reaksi Iran

IRGC menuduh AS melakukan pelanggaran berulang terhadap perjanjian gencatan senjata 8 April. Mereka juga mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut, dengan menyatakan bahwa seluruh lalu lintas di jalur air tersebut—termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial—akan terkena pengaruhnya. Pernyataan ini menjadi bagian dari upaya Iran untuk membalas tindakan militer AS yang, menurut mereka, tidak berhenti meskipun telah berlangsung gencatan senjata.

“Kami melihat apa yang terjadi dengan kesepakatan tersebut. Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan, tapi mereka terus mempermainat kami,” ujar Presiden Donald Trump kepada para wartawan di Gedung Putih.

Sebelumnya, Trump menulis di platform Truth Social bahwa Iran memperlambat proses negosiasi untuk kesepakatan perdamaian. Ia mengancam bahwa negara ini akan membayar harganya dengan serangan yang “sangat keras” jika tidak memenuhi syarat. Ancaman ini juga ditujukan ke pembangkit listrik dan jembatan di Iran, yang akan menjadi sasaran jika negosiasi tidak mencapai titik temu.

Iran Memperkuat Posisi dengan Pernyataan Nasional

Dalam unggahan di media sosial X, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membalas serangan AS dengan menegaskan bahwa infrastruktur penting adalah denyut nadi rakyat. Ia menyatakan bahwa ancaman untuk menargetkan jaringan transportasi, industri listrik, dan sistem air tidak menunjukkan kekuatan, melainkan tanda keputusasaan dalam menghadapi tekad bangsa Iran.

“Dengan mengandalkan pengetahuan dan kemampuan para spesialis, persatuan nasional, serta solidaritas, Iran akan tetap teguh menghadapi tekanan atau ancaman apa pun,” tambahnya.

Serangan Iran terjadi setelah Komando Pusat AS mengumumkan operasi baru terhadap “berbagai target” di Iran. Tindakan ini, menurut militer AS, dilakukan atas perintah Trump sebagai tanggapan terhadap agresi Iran yang dianggap “tidak beralasan dan berkelanjutan.” Pada saat yang sama, Iran juga menargetkan Armada Kelima AS di Bahrain, pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait, serta pangkalan udara Azraq di Yordania pada Rabu, 10 Juni 2026. Sementara itu, AS membom Pulau Qeshm, pelabuhan Sirik, Jask, dan Bandar Abbas sebagai bentuk balasan.

Kedua Negara Terlibat dalam Pertukaran Serangan

Pertukaran serangan AS-Iran ini terjadi beberapa hari setelah kedua pihak saling membalas tindakan dalam bentrokan terparah sejak gencatan senjata April. Sebelumnya, Iran menghancurkan dua waduk air dan menara telekomunikasi di daerah Qeshm, Bandar Abbas, serta Sirik. Ledakan tersebut juga mengenai kota Kargan di selatan, menyebabkan minimal dua korban cedera.

Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur utama distribusi energi global, kembali menjadi sasaran utama. Jumlah pasokan minyak yang melalui area ini mencapai seperlima dari total dunia, sehingga tindakan Iran menutup jalur ini berpotensi mengganggu pasokan internasional. Kebijakan penutupan ini, yang pertama kali diberlakukan pada awal konflik, sempat dicabut oleh Iran sebelum diberlakukan kembali setelah AS memblokir pelabuhan-pelabuhan Iran.

Konteks Perang Panjang AS-Israel-Iran

Kontroversi antara AS, Israel, dan Iran telah memanas dalam beberapa minggu terakhir. Serangan AS-Israel terhadap Iran selama berminggu-minggu berujung pada perang terbuka antara Israel dan Iran, yang mencapai titik puncaknya dalam bentrokan terparah sejak gencatan senjata 8 April. Konflik ini mengakibatkan gangguan lalu lintas melalui Selat Hormuz, yang memicu kenaikan harga minyak dan pangan di seluruh dunia.

Iran menekankan bahwa setiap kesepakatan perdamaian dengan Washington harus mencakup penghentian pertempuran di Libanon. Namun, Israel bersikeras bahwa operasi militer mereka di sana adalah konflik terpisah dari tindakan Iran. Penyerangan Israel terhadap Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, semakin intensif, sehingga menambah kompleksitas dalam upaya mencapai kesepakatan.

Proses Negosiasi Masih Banyak Hambatan

Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan AS terus berlangsung, dengan tujuan menghasilkan kesepakatan sementara untuk menghentikan permusuhan sementara menunda program nuklir Iran. Namun, beberapa poin masih menjadi kendala utama. Iran meminta pencairan aset miliaran dolar yang dibekukan oleh AS, serta pencabutan sanksi yang diberlakukan terhadap negara ini.

Kebutuhan Iran untuk menyelesaikan masalah ekonomi menjadi faktor penting dalam negosiasi. Mereka menuntut bahwa perjanjian damai harus mencakup pembebasan dana yang telah dibekukan, sebagai bentuk keadilan terhadap tindakan ekonomi Washington. Di sisi lain, AS tetap mempertahankan ancaman serangan terhadap Iran, menurut pernyataan Trump yang menekankan keputusan politik dan militer untuk melindungi kepentingan nasional.

Sejak konflik di Selat Hormuz memicu ketegangan, lalu lintas perdagangan energi tetap terbatas. Faktor ini memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak global, yang meningkat drastis

Leave a Comment