Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Usai Serangan AS
New Policy – Pada hari Kamis, 11 Juni 2026, militer Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup sepenuhnya untuk aktivitas pelayaran. Pengumuman ini dilakukan setelah ketegangan dengan Amerika Serikat mencapai puncaknya, terutama setelah serangan terbaru yang dilancarkan oleh pasukan AS terhadap wilayah Provinsi Hormozgan di Iran selatan. Tindakan penguncian jalur laut ini dianggap sebagai respons terhadap kebijakan agresif AS, yang menurut pihak Iran, telah mengganggu kestabilan regional selama beberapa bulan terakhir.
Kesepakatan dan Penegasan Militer
Dilaporkan oleh Anadolu, siaran televisi nasional Iran menyatakan bahwa Markas Besar Khatam Al-Anbiya, organisasi militer Iran, telah mengambil keputusan untuk menutup Selat Hormuz. Tindakan ini berlaku untuk semua kapal, baik yang berupa tanker minyak maupun kapal dagang. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai bentuk kekhawatiran terhadap “ketidakamanan” di kawasan tersebut, yang disebut sebagai akibat dari ancaman yang terus-menerus dari pihak AS.
Dalam pernyataan resmi, militer Iran memperingatkan bahwa setiap pergerakan di Selat Hormuz bisa menjadi target serangan. “Jalur laut ini akan dijaga secara ketat,” kata perwakilan Markas Besar, seperti dilansir dari berbagai sumber media. “Kapal yang melintas tanpa izin akan terkena serangan tembak.” Tindakan ini mencerminkan sikap defensif dan siap berperang militer Iran terhadap langkah-langkah agresif AS.
Perang Tiga Bulan dan Pernyataan AS
Kebijakan penguncian Selat Hormuz diumumkan setelah serangan AS yang berulang kali terjadi sejak gencatan senjata sementara ditandatangani pada 8 April 2026. Dalam pernyataan terbaru, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebutkan bahwa serangan terhadap provinsi Iran selatan adalah bagian dari upaya “membela diri” yang dilakukan pihak AS. “Kami mengambil langkah ini karena Iran terus melakukan agresi yang tidak beralasan,” kata CENTCOM dalam sebuah unggahan di X, menambahkan bahwa serangan dimulai pada pukul 17.15 EDT, yang setara dengan pukul 00.45 di Teheran.
“Serangan ini sebagai tanggapan atas agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan,”
menurut pernyataan resmi militer AS. Serangan tersebut dianggap sebagai upaya memperkuat posisi diplomatik AS di tengah kesengketaan perjanjian damai yang belum terealisasi. Sebelumnya, Trump telah menyatakan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, pihaknya akan melanjutkan operasi serangan.
Berdasarkan laporan, beberapa jam setelah serangan AS di Selat Hormuz, Iran merespons dengan menutup jalur laut. Hal ini memicu kekhawatiran global terhadap ketergantungan perdagangan minyak, karena Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak ke luar negeri. Pernyataan ini menunjukkan bahwa perang skala penuh kembali terancam, setelah sebelumnya sempat dihentikan selama tiga bulan oleh gencatan senjata yang tidak stabil.
Klaim dan Penolakan Pihak Iran
Markas Besar Khatam Al-Anbiya membantah klaim AS bahwa kapal-kapal masih dapat melewati Selat Hormuz. “Kapal yang melewati jalur ini akan terkena risiko besar,” kata perwakilan militer Iran dalam konferensi pers. “Kami tidak memperbolehkan lalu lintas bebas di kawasan yang menjadi sasaran serangan AS.”
Dalam beberapa hari terakhir, media Iran melaporkan ledakan dan aktivasi sistem pertahanan udara di sejumlah titik strategis di selatan negara, seperti Bandar Abbas, Minab, Jask, Qeshm, dan Sirik. Ledakan di Sirik, kota pelabuhan utama, disebut-sebut sebagai respons terhadap serangan AS yang dianggap merusak infrastruktur vital. Sementara itu, pertahanan udara diaktifkan di Teheran barat sebagai tanda siap siaga.
Proses Negosiasi dan Ancaman Trump
Presiden Donald Trump, sebelumnya, mengklaim bahwa kesepakatan damai hampir tercapai. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya akan melanjutkan pengeboman jika perundingan gagal. “Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras,” katanya kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Rabu. Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik antara Iran dan AS bisa kembali memanas.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam kunjungannya ke Komando Pusat di Florida, mengungkapkan bahwa serangan terhadap Iran adalah bagian dari strategi untuk “memajukan kepentingan militer dan meningkatkan posisi diplomatik.” “Jika diperlukan, kami akan bernegosiasi dengan bom,” ujarnya. Penegasan ini menunjukkan bahwa AS bersikeras pada kebijakan militer yang dianggapnya sebagai cara menghadapi ancaman dari Iran.
Baku Tembak dan Keterlibatan Negara Lain
Sebagai respons atas serangan AS di Selat Hormuz, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke beberapa pangkalan militer di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Menurut pejabat AS, tidak ada kerusakan signifikan yang terjadi akibat tindakan ini. Namun, Iran menuduh bahwa AS menyerang waduk yang menyuplai air minum ke sepuluh desa, menurutnya sebagai pelanggaran hukum internasional.
“Ini bukan kerusakan tambahan – ini adalah kejahatan perang yang direncanakan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terang-terangan,”
ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghei. Penolakan ini memperkuat argumen Iran bahwa AS melakukan tindakan provokatif yang tidak hanya mengancam keamanan militer, tetapi juga kepentingan ekonomi warga sipil.
Sejak gencatan senjata sementara diberlakukan, Amerika Serikat dan Iran telah berkali-kali saling menembak. Meskipun para negosiator berupaya mencapai kesepakatan, konflik ini tetap berlanjut, bahkan ketika pendekatan diplomatik dilakukan. Pernyataan Trump yang menegaskan kesepakatan sudah dekat, tetapi belum ada tanda-tanda terobosan, memperlihatkan ketegangan yang masih terjalin.
Implikasi Ekonomi dan Global
Tindakan menutup Selat Hormuz berdampak besar terhadap aliran minyak dan komoditas penting lainnya ke pasar internasional. Pasalnya, jalur ini menjadi penghubung utama antara Iran dan negara-negara lain, termasuk Eropa dan Timur Tengah. Pemutusan akses laut ini bisa mengganggu pasokan minyak, yang mengancam kestabilan harga global.
Kebijakan blokade yang ditegaskan oleh AS menunjukkan bahwa mereka ber
