Key Strategy: IPB siap bangun SPPG di Bogor Mei ini untuk dukung MBG

IPB siap bangun SPPG di Bogor Mei ini untuk dukung MBG

Key Strategy – Dari Jakarta, Institut Pertanian Bogor (IPB) University mengungkapkan kesiapan untuk memulai pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bogor pada bulan Mei mendatang sebagai bagian dari upaya mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet menyebut bahwa jumlah unit SPPG yang akan dibangun bisa melebihi dua, sesuai dengan tingkat kesiapan di lapangan. Lokasi SPPG tetap di Bogor agar lebih dekat dengan kampus, yang diperkirakan akan menjadi pusat distribusi makanan bergizi. “Kalau di IPB, Insyaallah mungkin Mei, kesatu. Dan mungkin nanti berikutnya di Juni,” kata Alim saat diwawancara wartawan usai acara “Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa” di Jakarta, Sabtu.

Pengelolaan dan Peran Kampus

SPPG yang akan dibangun oleh IPB nantinya akan menyalurkan makanan bergizi ke sejumlah sekolah di sekitar wilayah Bogor. Namun, Alim belum merinci detail teknis, seperti jumlah sekolah yang akan menjadi target, karena pengelolaannya berada di bawah naungan yayasan. “Ada (rencana membangun dapur SPPG), dari salah satu yayasan IPB,” ujar Alim. Menurutnya, keterlibatan kampus dalam program ini bukan hanya sekadar pembangunan atau pengelolaan dapur, tetapi juga bisa menjadi wadah untuk mengembangkan model ekosistem yang lebih terpadu.

Alim menekankan bahwa SPPG yang dikelola kampus diharapkan menjadi contoh inisiatif yang melibatkan petani dan rantai pasok lokal. Model ini dirancang agar mampu diadopsi oleh SPPG lainnya, khususnya untuk memastikan bahan pangan yang digunakan berasal dari dalam negeri, bukan impor. Dengan demikian, program MBG tidak hanya fokus pada distribusi makanan, tetapi juga pada pengembangan sistem logistik yang berkelanjutan.

Dorongan BGN dan Kolaborasi

Secara umum, Alim menyambut positif kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang mendorong perguruan tinggi berkontribusi dalam pembangunan SPPG. Ia menilai keterlibatan kampus tidak hanya sebatas membangun atau mengelola dapur, tetapi juga dapat menjadi pendekatan komprehensif untuk memperkuat ekosistem gizi nasional. Dalam hal ini, SPPG yang dikelola oleh IPB diharapkan menjadi contoh desain yang terintegrasi, mencakup aspek produksi, distribusi, dan konsumsi pangan.

Pembangunan SPPG oleh IPB juga sejalan dengan peran institusi tersebut sebagai center of excellence yang ditugaskan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) dalam program MBG. Rektor mengatakan bahwa IPB bekerja sama dengan berbagai kementerian dan didukung oleh UNICEF serta BGN untuk mencapai tujuan tersebut. “Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujar Dadan Hindayana, Kepala BGN, dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (29/4).

“SPPG bukan hanya sebagai dapur penyedia makanan, tetapi juga sebagai simpul ekonomi yang membutuhkan dukungan produksi pangan dalam jumlah besar,” kata Dadan.

Dadan mengingatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam keberhasilan program MBG. Ia menambahkan bahwa kampus diharapkan mampu membangun dan mengelola SPPG secara mandiri, sekaligus menjadikannya sebagai ruang belajar berbasis praktik. “Pertimbangkan untuk memiliki satu SPPG, yang menjadi titik awal dalam upaya meningkatkan gizi nasional,” ujar Dadan.

Training of Trainers dan Inovasi

Sebagai bagian dari persiapan, IPB telah menyelenggarakan pelatihan atau Training of Trainers (TOT) serta menyusun berbagai modul dan panduan pelaksanaan MBG. Program ini dirancang agar peserta pelatihan mampu menguasai metode dan standar pengelolaan SPPG secara profesional. Selain itu, IPB juga menjadi mitra BGN dalam melakukan kajian dan riset terkait kebutuhan pangan bergizi di berbagai wilayah Indonesia.

Alim menambahkan bahwa keterlibatan kampus dalam pembangunan SPPG juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar langsung melalui experiential learning. Dosen juga diberi ruang untuk melakukan riset secara real time, terutama dalam aspek efisiensi energi dapur, keamanan pangan, standar kualitas, hingga pengelolaan sampah. “Dengan model ini, kampus bisa menjadi pusat inovasi yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat,” katanya.

Program SPPG yang dikembangkan oleh IPB berpotensi mendorong model ekonomi sirkular dan ramah lingkungan. Alim menjelaskan bahwa pengelolaan limbah di dapur SPPG akan relevan dengan isu-isu lingkungan hidup, seperti pengurangan polusi dan penghematan sumber daya. “Ini bukan hanya soal pangan, tetapi juga tentang kesadaran lingkungan dan keberlanjutan,” ujar Alim.

Kemajuan IPB dalam program MBG juga diharapkan menjadi contoh bagi kampus lain di Indonesia. Dengan kesiapan yang telah terbangun, institusi ini mampu menyediakan sistem pengelolaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Alim menilai SPPG menjadi alat penting untuk menciptakan solusi gizi yang efektif dan inklusif, terutama di tengah tantangan inflasi dan ketergantungan pada bahan pangan impor.

Penekanan pada Produksi Lokal

Menurut Dadan, pengelolaan SPPG yang mandiri bisa memperkuat kemandirian pangan nasional. “Dengan memprioritaskan produksi dari dalam negeri, kita bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan daya beli masyarakat,” ujarnya. Dadan juga menyebut bahwa SPPG diharapkan mampu menjadi pusat distribusi yang mengintegrasikan kegiatan ekonomi lokal, termasuk pertanian dan perdagangan.

Pengembangan SPPG di IPB tidak hanya menguntungkan sekolah, tetapi juga mendorong pengembangan keterampilan di bidang gizi dan logistik. Alim menegaskan bahwa program ini memberikan peluang bagi civitas akademika untuk berpartisipasi dalam pemberdayaan masyarakat sekitar, sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian. “Ini menjadi bagian dari visi IPB dalam menciptakan kampus yang berkontribusi secara nyata pada kehidupan masyarakat,” katanya.

Dengan penekanan pada produksi lokal, SPPG yang dikelola oleh kampus diharap