Terduga Pembunuh Balita di Bekasi Punya Gangguan Kejiwaan
Pilihan Editor: Apa Sebenarnya Latar dan Motif Pembunuhan Nus Kei
Terduga Pembunuh Balita di Bekasi Punya – Kasus pembunuhan balita berusia dua tahun di sebuah kontrakan di Jalan Cekrok, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bekasi, Rabu, 28 Mei 2026, masih dalam proses penyelidikan. Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi Kota Komisaris Andi Muhammad Iqbal, tim investigasi sedang mempelajari detail lebih lanjut terkait kejadian tersebut. Dalam wawancara dengan wartawan, Iqbal mengungkapkan bahwa pelaku utama yang diduga melakukan tindakan kekerasan adalah paman korban, G, yang berusia 18 tahun.
Korban yang meninggal ditemukan dalam kondisi terluka parah oleh neneknya setelah pulang ke kontrakan sekitar pukul 22.00 WIB. Saat membuka pintu, ia melihat cucunya sudah tidak bernyawa, sementara G ditemukan berada di lokasi yang sama dengan tubuhnya penuh darah. Informasi ini disampaikan oleh Iqbal, yang juga menjelaskan bahwa G memiliki riwayat gangguan mental yang diperkuat oleh laporan saksi dan catatan medis.
Kasus ini memperoleh perhatian karena G, yang berada dalam kondisi tidak stabil, tidak bisa diperiksa secara langsung saat kejadian. Ia dirawat di rumah sakit akibat menyiksa dirinya sendiri selama peristiwa tersebut. Iqbal menyatakan bahwa pihak kepolisian masih menunggu kondisi G membaik sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Kami menunggu hasil pemeriksaan medis agar dapat memastikan kejelasan kondisi mental pelaku,” tutur Iqbal.
Pembunuhan terjadi dalam kontrakan yang ditempati oleh keluarga korban. Berdasarkan pengakuan saksi, G diketahui mengalami gangguan kejiwaan yang berdampak pada perilakunya. Selain itu, ia juga terbiasa mengonsumsi obat psikotropika secara rutin. Namun, dalam penyelidikan awal, polisi menemukan bahwa obat tersebut sudah tidak diminum selama dua hari sebelum kejadian. “Penggunaan obat tergantung pada keadaan kesehatan mental G, yang sekarang tampak mengalami perubahan drastis,” ujar Iqbal.
Sebagai bagian dari investigasi, polisi mengamankan dua bilah pisau yang ditemukan di lokasi kejadian. Salah satu dari pisau tersebut dalam kondisi sudah dicuci, yang menimbulkan kecurigaan awal. Iqbal memastikan bahwa nenek korban tidak terlibat dalam tindakan tersebut meski ia sempat menyucikan pisau setelah melihat kondisi korban. “Tindakan mencuci pisau dilakukan secara spontan, sebagai reaksi alami nenek ketika melihat anak dan cucunya bersimbah darah,” jelas Iqbal.
Korban yang tewas mengalami luka akibat senjata tajam. Sementara G juga mengalami cedera serupa, termasuk luka sayatan dan tusukan di bagian tubuhnya. “Korban yang masih hidup juga terluka di area mulut, dada, serta beberapa luka gores di tubuhnya,” tambah Iqbal. Kondisi fisik korban menjadi fokus pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebab kematian dan alur peristiwa yang terjadi.
Di sisi lain, polisi menyatakan tidak ada barang berharga yang hilang di kontrakan usai kejadian. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan pembunuhan mungkin berlangsung secara impulsif atau terkait dengan konflik pribadi dalam keluarga. “Semua barang di lokasi masih lengkap, yang menegaskan bahwa motivasi pelaku mungkin berasal dari sumber internal,” kata Iqbal.
Pengungkapan kasus ini memicu berbagai pertanyaan mengenai latar belakang G dan hubungannya dengan korban. Sebagai paman, ia memiliki akses langsung ke keluarga korban, yang bisa menjadi faktor dalam terjadinya kekerasan. Iqbal menyebutkan bahwa penyelidikan sedang berjalan untuk memastikan apakah ada pengaruh luar atau konflik internal yang memicu tindakan G.
Jenazah korban masih dalam proses autopsi di RS Polri Kramat Jati untuk memperjelas penyebab kematian dan kondisi saat kejadian. “Autopsi dilakukan untuk menemukan bukti lebih lanjut, termasuk bagaimana korban mengalami luka sebelum meninggal,” terang Iqbal. Proses ini memakan waktu namun penting untuk mengungkap fakta secara akurat.
Polisi juga memeriksa keadaan psikologis G lebih lanjut, termasuk kemungkinan gangguan kejiwaan yang memicu tindakan ekstrem. “G memiliki riwayat mental yang tidak stabil, sehingga bisa saja faktor tersebut memengaruhi keputusannya untuk melakukan pembunuhan,” tambah Iqbal. Dalam kasus ini, tim investigasi berupaya menggabungkan hasil pemeriksaan medis dan psikologis untuk membangun pola kejadian yang jelas.
Dalam situasi yang mengerikan tersebut, nenek korban menjadi saksi mata yang memberikan informasi awal. Meski ia tidak terlibat langsung, tindakan mencuci pisau dianggap sebagai bukti bahwa ia hanya ingin membersihkan lingkungan sekitar dari darah dan memperjelas kondisi korban. “Nenek memperlihatkan reaksi spontan, tetapi tidak ada indikasi bahwa ia terlibat dalam pembunuhan,” pungkas Iqbal.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan anak-anak yang menjadi korban. Polisi berharap dapat mengungkap motif dan latar belakang G secara cepat, agar masyarakat dapat merasa lebih tenang. “Kami berusaha menyelidiki semua kemungkinan, termasuk hubungan antara pelaku dan korban,” jelas Iqbal. Penyelidikan terus berlangsung, dengan harapan dapat menemukan jawaban yang memuaskan terkait pembunuhan tragis ini.
Sementara itu, keluarga korban sedang mengalami trauma berat. Nenek korban, yang menjadi saksi pertama, mengungkapkan bahwa ia tidak menyangka akan terjadi peristiwa mengerikan tersebut. “Saya hanya ingin membantu, tetapi tidak tahu apa yang terjadi,” kata nenek korban dalam wawancara terpisah. Kejadian ini memicu diskusi mengenai perlindungan anak-anak dan kewaspadaan terhadap kondisi mental anggota keluarga.
