YLBHI: Pelacak di Mobil Aktivis Bentuk Intimidasi
Pernyataan YLBHI tentang Pelacak di Mobil Tiyo Ardianto
YLBHI – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) memberikan pernyataan tajam terhadap kejadian pelacak yang ditemukan di kendaraan milik mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. Pelacak ini, menurut YLBHI, dianggap sebagai bentuk tekanan terhadap para aktivis yang berperan dalam membela hak asasi manusia. Ketua Umum YLBHI, M. Isnur, menegaskan bahwa tindakan ini merugikan kebebasan warga negara untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Isi Pernyataan M. Isnur tentang Ancaman terhadap Aktivis
Isnur menyampaikan bahwa perangkat pelacak yang terinstal di mobil Tiyo Ardianto menunjukkan sikap tidak percaya terhadap warga sipil yang berani bersuara. Dalam pernyataannya, ia mengingatkan bahwa rakyat memiliki hak untuk kritik dan dialog terbuka dengan pemerintah. “Ini adalah ancaman berat yang menunjukkan bagaimana kekuasaan saat ini berusaha menekan suara-suara kritis,” kata Isnur saat dihubungi pada Ahad, 14 Juni 2026.
Temuan Pelacak oleh Tiyo Ardianto
Tiyo Ardianto mengungkapkan bahwa alat pelacak ditemukan di bawah bodi mobil yang ia gunakan setelah mengikuti aksi demonstrasi di kawasan Gejayan, Yogyakarta, pada Sabtu, 13 Juni 2026. Ia mengatakan bahwa perangkat tersebut tersembunyi dan baru terdeteksi setelah ia merasa waspada terhadap pengawasan yang semakin intens. Tiyo menilai kejadian ini adalah contoh nyata dari cara pihak tertentu menciptakan suasana ketakutan di tengah masyarakat.
Konteks Aksi Demonstrasi di Yogyakarta
Aksi demonstrasi yang diikuti Tiyo Ardianto terjadi di kawasan Gejayan, Yogyakarta, beberapa hari sebelum pelacak ditemukan. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai kelompok aktivis dan organisasi kemanusiaan yang berjuang untuk keadilan dan keterbukaan pemerintahan. Tiyo meminjam mobil saudaranya sebagai sarana transportasi setelah merasa keamanan dirinya terganggu. Ia menjelaskan bahwa ditemukannya pelacak menunjukkan bahwa pengawasan bisa terjadi kapan saja, bahkan dalam ruang yang dianggap aman.
Respons Tiyo terhadap Penemuan Pelacak
Dalam postingan Instagram-nya, @tiyoardianto_, Tiyo Ardianto membagikan video yang menunjukkan alat pelacak berwarna hitam. Ia mengatakan bahwa perangkat ini dikenal sebagai PBX Finder, yang biasa digunakan untuk melacak lokasi seseorang secara real-time. “Notifikasi yang saya terima mengatakan bahwa PBX Finder sedang bergerak bersama saya, dan pemiliknya bisa mengetahui posisi saya kapan saja,” jelas Tiyo.
Detail Notifikasi dan Keterlibatan Pihak Lain
Tiyo menambahkan bahwa notifikasi di ponselnya memperlihatkan kemampuan alat pelacak untuk mengawasi gerak-gerik aktivis. Ia mengungkapkan bahwa setelah berkomunikasi dengan sejumlah orang terdekat, saran diberikan untuk mengganti perangkat tersebut dengan yang lebih aman. Tindakan ini dianggap sebagai langkah pencegahan sebelum kejadian lebih serius terjadi.
Analisis YLBHI terhadap Kebijakan Pengawasan
Isnur menekankan bahwa penggunaan pelacak oleh pihak berkuasa merupakan bentuk represi terhadap suara kritis masyarakat. Ia mengkritik kebijakan ini karena mengancam kebebasan berekspresi dan berperan dalam menekan partisipasi warga sipil dalam proses demokrasi. “Para aktivis seharusnya menjadi pilar dalam mengawasi kebijakan pemerintah, bukan korban tekanan,” tegas Isnur.
Kesimpulan dan Komentar YLBHI
Dalam pernyataannya, YLBHI meminta pihak berwenang untuk transparan dalam mengungkap alasan penggunaan pelacak tersebut. Isnur menegaskan bahwa tindakan serupa tidak boleh terulang, terutama terhadap aktivis yang bekerja untuk kepentingan rakyat. “Semakin keras tekanan, semakin kuat keinginan untuk melawan. Kritik dari masyarakat sipil justru menjadi alat penting untuk memperbaiki sistem pemerintahan,” kata Isnur.
Signifikansi Peristiwa ini dalam Konteks Hak Asasi Manusia
Peristiwa pelacak di mobil Tiyo Ardianto dianggap sebagai indikator bahwa kebebasan bersuara di Indonesia masih rentan terhadap intervensi dari pihak berkuasa. YLBHI mengingatkan bahwa penggunaan teknologi pemantauan bisa menjadi alat untuk mengontrol opini publik dan menghentikan dialog terbuka. Isnur menambahkan bahwa aktivis seperti Tiyo adalah bagian dari kekuatan masyarakat yang harus dilindungi, bukan dijadikan target.
Perspektif Aktivis terhadap Intimidasi
Tiyo Ardianto menyampaikan bahwa kejadian ini menunjukkan bagaimana aktivis bisa diintimidasi hanya karena menyuarakan pendapat. “Kita yang berusaha memperbaiki bangsa dengan hati tulus, justru dibalas dengan ancaman dan kekhawatiran,” ujar Tiyo. Ia menilai bahwa penggunaan pelacak adalah cara yang efektif untuk menciptakan rasa takut di kalangan warga sipil.
Kesimpulan
YLBHI dan Tiyo Ardianto sepakat bahwa pelacak di mobil aktivis adalah bentuk kekuasaan yang mengintimidasi. Kritik terhadap pemerintah, menurut mereka, justru menjadi keharusan untuk mendorong perbaikan. Dengan adanya perangkat seperti PBX Finder, kebebasan berbicara bisa terancam. M. Isnur berharap adanya pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan bahwa kejadian ini bukanlah satu-satunya contoh dari pengawasan yang berlebihan.
Proses Pencarian dan Penanganan Pelacak
Setelah menemukan pelacak, Tiyo Ardianto memutuskan untuk membagikan temuan tersebut kepada publik. Ia berharap masyarakat bisa terlibat dalam memantau kebijakan pemerintah. “Masyarakat sipil harus saling melindungi, karena satu suara bisa mengubah arah kebijakan,” ujar Isnur. Ia menambahkan bahwa pelacak ini bukan hanya ancaman terhadap Tiyo, tetapi juga simbol dari kontrol yang semakin ketat terhadap kebebasan.
Perspektif Masa Depan dalam Perjuangan Hak Asasi Manusia
Menurut Isnur, kejadian ini memberikan pelajaran bahwa kebebasan hak asasi manusia perlu dijaga secara konsisten. Ia menegaskan bahwa aktivis yang kritis adalah bagian dari sistem demokrasi, dan mereka harus diakui. “D
