Gus Ipul: Prabowo Tak Akan Ikut Campur dalam Muktamar NU
Gus Ipul Yakin Prabowo Tidak Akan Campur Tangan dalam Muktamar NU Gus Ipul - Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf, atau yang

Gus Ipul Yakin Prabowo Tidak Akan Campur Tangan dalam Muktamar NU
Tempatdonasi.com – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Ipul, telah menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak akan melakukan intervensi dalam penyelenggaraan muktamar yang akan menentukan arah kepemimpinan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut. Muktamar ini dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan Agustus tahun depan dan akan menjadi momen krusial bagi penentuan struktur kekuasaan di tubuh NU selama periode lima tahun mendatang.
Pernyataan tegas dari Gus Ipul ini disampaikan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat yang terletak di kawasan Senayan, Jakarta, pada hari Rabu, 15 Juli 2026. Dalam pernyataannya, ia menyatakan bahwa dirinya yakin sekali bahwa Presiden Republik Indonesia tidak akan turut serta dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan muktamar tersebut. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan yang kuat antara pemerintah dan organisasi keagamaan dalam menjaga otonomi masing-masing.
Alasan Prabowo Tidak Akan Berintervensi
Gus Ipul menjelaskan bahwa alasan utama tidak adanya intervensi dari Presiden adalah karena Prabowo memiliki pemahaman yang mendalam tentang NU serta mengenal hampir semua tokoh-tokoh penting di dalamnya. Menurut Sekretaris Jenderal PBNU ini, Presiden memberikan kepercayaan penuh kepada para muktamirin untuk melaksanakan musyawarah sesuai dengan tradisi yang telah lama dianut oleh Nahdlatul Ulama. Kepercayaan ini mencerminkan hubungan harmonis antara negara dan organisasi keagamaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
“Tentu Presiden memberikan kepercayaan kepada Muktamirin untuk melakukan musyawarah, untuk melakukan suatu proses sebagaimana yang ada di dalam tradisi Nahdlatul Ulama,” ujarnya dengan tegas.
Bursa Calon Ketua Umum PBNU 2026-2031
Menteri Sosial ini juga mengungkapkan bahwa persaingan untuk merebut kursi Ketua Umum PBNU dalam muktamar ke-35 semakin memanas. Sejumlah nama telah muncul sebagai kandidat potensial untuk memimpin organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini. Lima nama utama yang telah disebutkan antara lain adalah petahana Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustofa, pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Abdussalam Shohib, pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Muhammad Yusuf Chudlori, serta Ketua Pengurus Wilayah NU Abdul Hakim Mahfudz atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kikin.
Melengkapi daftar calon tersebut, muncul pula nama Menteri Agama Nasaruddin Umar yang diyakini memiliki peluang untuk memimpin NU di masa depan. Kehadirannya dalam bursa calon menambah variasi dan dinamika persaingan yang akan terjadi dalam muktamar nanti.
Aturan Baru dan Lokasi Muktamar
Ketua Organizing Committee Muktamar ke-35 NU ini juga menyebutkan bahwa adanya aturan yang melarang pimpinan PBNU merangkap jabatan di pemerintah akan disepakati lebih lanjut oleh para peserta muktamar. Aturan ini sebenarnya sudah tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PBNU yang dihasilkan dalam Muktamar NU ke-34 di Lampung pada tahun 2021 silam.
“Ke depan seperti apa ya kita belum tahu persis, tetapi Jam’iyah Nahdlatul Ulama memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk bisa memimpin NU di masa yang akan datang,” kata Gus Ipul.
PBNU telah menetapkan Pesantren Tambakberas di Jombang, Jawa Timur sebagai lokasi resmi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Keputusan strategis ini diambil setelah adanya rapat gabungan antara Syuriyah dan Tanfidziah PBNU di Jakarta pada hari Selasa, 7 Juli 2026. Rapat gabungan tersebut juga memutuskan adanya perubahan waktu pelaksanaan muktamar yang semula dijadwalkan pada tanggal 1-5 Agustus, namun kini akan berlangsung pada tanggal 27-30 Agustus 2026.
Perubahan jadwal ini memberikan waktu yang lebih luang bagi persiapan dan memastikan bahwa seluruh persiapan teknis maupun non-teknis dapat berjalan dengan optimal. Muktamar yang merupakan forum lima tahunan PBNU ini diharapkan dapat menghasilkan keputusan-keputusan penting yang akan menentukan arah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini dalam lima tahun ke depan.
Pentingnya Muktamar bagi NU
Muktamar merupakan momen paling penting bagi Nahdlatul Ulama karena merupakan forum tertinggi tempat seluruh keputusan strategis organisasi diambil. Dalam konteks ini, ketiadaan intervensi dari Presiden Prabowo menjadi hal yang sangat diharapkan oleh seluruh elemen NU. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi keagamaan ini mampu menjaga otonominya dan tidak terpengaruh oleh kepentingan politik eksternal.
Dengan adanya aturan yang melarang pimpinan PBNU merangkap jabatan di pemerintah, diharapkan kepemimpinan NU akan lebih fokus pada pengembangan organisasi dan pelayanan kepada masyarakat. Aturan ini juga membuka peluang bagi tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang untuk memimpin NU tanpa terbebani oleh tanggung jawab pemerintahan.
Secara keseluruhan, muktamar ke-35 NU ini akan menjadi momen bersejarah yang tidak hanya menentukan kepemimpinan organisasi, tetapi juga menunjukkan kematangan hubungan antara negara dan organisasi keagamaan di Indonesia. Dengan lokasi yang strategis dan jadwal yang telah disesuaikan, muktamar ini diharapkan dapat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
