Anggota DPR Soroti Asesmen Kesehatan Calon Manajer Kopdes
Anggota DPR Soroti Kesehatan Calon Manajer Kopdes Sebelum Latsarmil Key Discussion - Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengkritik proses

Anggota DPR Soroti Kesehatan Calon Manajer Kopdes Sebelum Latsarmil
Tempatdonasi.com – Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengkritik proses pemilihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) dan Koperasi Nelayan Merah Putih yang diduga kurang memadai. Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, mengungkapkan kekhawatiran terhadap standar penilaian kesehatan yang diterapkan sebelum peserta mengikuti pelatihan dasar kemiliteran (latsarmil). Menurutnya, kegagalan memastikan kesehatan calon manajer secara optimal berpotensi menyebabkan risiko fatal yang bisa dihindari.
Kritik terhadap Proses Seleksi
Hasanuddin menyoroti bahwa prosedur asesmen kesehatan para peserta latsarmil tidak sepenuhnya memadai. Ia menegaskan, jika seluruh langkah penilaian telah dilakukan dengan baik, maka tidak akan ada korban jiwa akibat kegiatan tersebut. “Dalam kasus yang henti jantung, ini harusnya bisa terdeteksi jika asesmen kesehatan berjalan efektif,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu, 27 Juni 2026.
“Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial di Kopdes, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara relevan,” kata Hasanuddin, politikus PDIP.
Menurut Hasanuddin, asesmen kesehatan yang kurang intensif bisa menjadi penyebab utama insiden fatal. Ia meminta pihak terkait untuk melakukan evaluasi lebih ketat terhadap skrining kesehatan. “Tujuannya adalah agar pengujian bisa lebih objektif dan mendalam, sehingga tidak ada peserta yang tidak siap secara fisik mengikuti pelatihan,” tambahnya.
Empat Peserta Meninggal Dunia
Insiden tersebut menewaskan empat calon manajer Kopdes dan Koperasi Nelayan Merah Putih selama kegiatan latsarmil. Mereka adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan. Dari keempatnya, dua peserta meninggal pada hari pertama pelatihan, sementara dua lainnya wafat dalam hari-hari berikutnya.
Novia, yang mengikuti latsarmil di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara di Jakarta, meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026. Ia adalah peserta keenam sejak pelatihan dimulai pada 17 Juni 2026. Anisa, di sisi lain, meninggal sehari setelah pelatihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Komando Daerah Militer Mulawarman Balikpapan, Kalimantan Timur, akibat serangan panas (heat stroke).
Yonanda, peserta latsarmil di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Kota Baturaja, Sumatera Selatan, wafat pada hari pertama kegiatan, 17 Juni 2026, karena henti jantung. Rifki, yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Batalyon Pasukan Para Komando atau Parako 465 di Jakarta Timur, mengeluhkan sesak napas sebelum menghembuskan napas terakhir.
Dalam kejadian tersebut, dua peserta meninggal segera setelah mengikuti latsarmil, sementara dua lainnya wafat beberapa hari kemudian. Kesemuanya menunjukkan kegagalan dalam memastikan kesiapan fisik peserta sebelum melangkah ke program pendidikan militer.
Respon dari Kementerian Pertahanan
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Sirait, mengatakan instansinya menyampaikan duka cita atas kejadian yang menewaskan empat peserta. Ia menjelaskan bahwa seluruh peserta telah menjalani proses penyeleksian kesehatan sebelum diizinkan mengikuti latsarmil.
“Berdasarkan hasil seleksi, yang bersangkutan dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti program pendidikan,” kata Rico dalam keterangan tertulis, Jumat, 26 Juni 2026.
Tetapi Rico menambahkan bahwa evaluasi menyeluruh akan dilakukan terhadap seluruh aspek pelaksanaan Program SPPI (Sekolah Pemuda Pemersatu Indonesia). “Evaluasi mencakup penguatan proses seleksi kesehatan, deteksi dini kondisi medis peserta, peningkatan pengawasan oleh tenaga kesehatan selama pendidikan, serta investigasi terhadap peserta yang mengalami keluhan serupa di berbagai satuan pendidikan,” jelasnya.
Dalam konteks ini, Kementerian Pertahanan mengakui adanya kekurangan dalam program yang bertujuan mengembangkan kapasitas manajerial calon pengelola koperasi. Meski demikian, pihaknya berjanji memperbaiki mekanisme evaluasi agar risiko serupa tidak terulang. Rico menyebutkan bahwa seluruh peserta telah menjalani skrining yang disebut-sebut lengkap, tetapi perlu diperiksa kembali apakah proses tersebut benar-benar mampu mengidentifikasi kondisi kesehatan mereka.
Konteks dan Dampak Insiden
Koperasi Desa dan Koperasi Nelayan Merah Putih adalah lembaga ekonomi mikro yang berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan dan nelayan. Pelatihan latsarmil dianggap sebagai bagian dari upaya membangun kebugaran fisik dan disiplin peserta. Namun, insiden keempat korban meninggal menimbulkan pertanyaan tentang relevansi kegiatan tersebut dengan tujuan pendidikan.
Hasanuddin menekankan bahwa pelatihan kemiliteran seharusnya tidak mengganggu fokus utama peserta, yaitu pengembangan keterampilan manajerial dan penguatan kapasitas organisasi. “Jika fokus pelatihan hanya pada latihan fisik seperti lari dan push up, maka mungkin tidak relevan dengan kebutuhan calon manajer,” ujarnya.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, Kementerian Pertahanan dan Panitia Seleksi Nasional akan meninjau ulang prosedur seleksi. Evaluasi ini diharapkan dapat mengidentifikasi celah dalam sistem asesmen kesehatan, termasuk kurangnya pemantauan medis intensif selama pelatihan. Rico menegaskan bahwa perbaikan akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap awal seleksi hingga akhir pelatihan.
Insiden ini juga memicu diskusi lebih luas mengenai keselamatan peserta latsarmil, terutama bagi individu yang memiliki kondisi kesehatan spesifik. Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa pengujian fisik dalam lingkungan yang ekstrem, seperti suhu tinggi, memerlukan persiapan lebih matang. Dengan demikian, rencana pelatihan yang dirancang perlu disesuaikan dengan kebutuhan peserta, terutama mereka yang baru masuk ke program.
Langkah-Langkah untuk Mencegah Serupa
Sebagai respons atas kritik, Kementerian Pertahanan berencana menyempurnakan proses seleksi kesehatan. Hal ini mencakup revisi standar pemeriksaan medis dan penerapan metode penilaian yang lebih komprehensif. Selain itu, pihaknya juga akan memperketat pengawasan kesehatan selama pelatihan, termasuk memast
