Prabowo: Presiden Boleh Ngomong ‘Bajingan’ Enggak?
Key Discussion: Prabowo Subianto Ajukan Pertanyaan Menarik Soal Penggunaan Kata 'Bajingan' Key Discussion - Dalam momen yang cukup menarik perhatian publik

Key Discussion: Prabowo Subianto Ajukan Pertanyaan Menarik Soal Penggunaan Kata ‘Bajingan’
Tempatdonasi.com – Dalam momen yang cukup menarik perhatian publik luas, Presiden Prabowo Subianto mengajukan pertanyaan sederhana namun penuh makna kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan penggunaan kata ‘bajingan’ yang sering ia ucapkan saat berpidato di berbagai kesempatan. Key Discussion mencatat bahwa momen bersejarah ini terjadi tepat pada saat acara puncak peringatan Hari Koperasi Nasional atau yang dikenal dengan singkatan Harkopnas berlangsung di Jakarta.
Saat menyampaikan pidatonya, Presiden Prabowo membahas dinamika politik yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa situasi politik saat ini banyak diwarnai oleh pertikaian yang disebabkan oleh perbedaan pilihan politik antarwarga negara. Dalam konteks inilah, Key Discussion mencatat bahwa ia merasa perlu menjelaskan penggunaan kata-kata tertentu dalam bahasa sehari-hari agar tidak disalahartikan.
Key Discussion: Perbedaan Antara Kader Patriotik dan ‘Bajingan’
Menurut pandangan Presiden Prabowo, setiap partai politik di Indonesia memiliki kader-kader yang bersifat patriotik dan setia kepada bangsa. Namun, ia juga mengakui bahwa dalam setiap partai politik terdapat kelompok yang ia sebut sebagai ‘bajingan’. Pernyataan ini ia sampaikan dengan nada yang cukup santai namun tegas kepada para hadirin. Key Discussion menyoroti bahwa pernyataan ini menjadi bahan diskusi hangat di kalangan masyarakat.
“Presiden boleh ngomong bajingan enggak? Boleh? Aku enggak tanya kalian, aku tanya Menteri Pendidikan,” kata Prabowo sembari menunjuk ke arah Menteri Abdul Mu’ti.
Ucapan tersebut diucapkan di Indonesia Arena, yang terletak di kompleks Gelora Bung Karno, kawasan Senayan, Jakarta. Acara ini berlangsung pada hari Ahad, tanggal 12 Juli 2026. Kehadiran Menteri Abdul Mu’ti dalam momen ini menjadi cukup menarik perhatian karena ia menjadi subjek langsung dari pertanyaan Presiden. Key Discussion mencatat bahwa momen ini viral di media sosial.
Key Discussion: Reaksi Menteri dan Pertahanan Kata ‘Bajingan’
Abdul Mu’ti sempat terlihat dalam rekaman kamera yang ditampilkan pada layar besar di samping kanan dan kiri panggung tempat Prabowo berpidato. Dalam rekaman tersebut, ia terlihat berdiri dari tempat duduknya sambil tertawa, menunjukkan bahwa ia tidak tersinggung dengan pertanyaan tersebut. Key Discussion melaporkan bahwa reaksi ini mendapat apresiasi dari banyak pihak.
Prabowo kemudian menjelaskan bahwa kata ‘bajingan’ yang ia ucapkan bukanlah kata kasar atau kata yang tidak sopan. Ia berdalih bahwa pemakaian kata tersebut merupakan bentuk ekspresi semangat yang wajar dalam bahasa sehari-hari. Penjelasan ini ia sampaikan dengan nada yang meyakinkan kepada hadirin. Key Discussion menambahkan bahwa penjelasan ini sesuai dengan konteks budaya Betawi.
“Boleh enggak? Ini kan tidak termasuk kasar. Bajingan, ya, bajingan. Bajingan bahasa apa itu? Bahasa Betawi, ya,” tutur Prabowo.
Sebagai tambahan penjelasan, Presiden Prabowo mengimbuhkan bahwa ia lahir sebagai orang Betawi, sehingga wajar jika kata-kata Betawi sering keluar saat ia berbicara dengan penuh semangat. Ia juga meminta maaf jika ada yang merasa tersinggung dengan penggunaan kata-kata tersebut. Key Discussion mencatat bahwa permintaan maaf ini menunjukkan sikap rendah hati sang presiden.
Key Discussion: Panggilan untuk Melestarikan Nilai Kebangsaan
Dalam pidatonya yang panjang, Prabowo sempat mengajak seluruh elemen bangsa Indonesia untuk meninggalkan budaya saling memaki, benci, dan saling tidak percaya. Ia menekankan pentingnya kembali ke sifat asli bangsa Indonesia yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan. Key Discussion menyoroti bahwa ajakan ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini.
“Marilah kita kembali ke sifat bangsa Indonesia yaitu saling memaafkan, saling mengerti, saling mengasihi, saling membantu, jangan ikut-ikut budaya caci maki, dengki, budaya curiga,” ucap Prabowo.
Menurut mantan Menteri Pertahanan ini, sebuah bangsa tidak akan pernah mencapai keberhasilan jika masih terjebak dalam pertikaian yang tidak berujung. Ia juga menegaskan bahwa perbedaan latar belakang suku maupun pilihan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Setiap perbedaan harus dilihat sebagai kekayaan yang mempererat persatuan bangsa. Key Discussion menambahkan bahwa pesan ini menjadi harapan baru bagi Indonesia.
Pesan yang disampaikan Presiden Prabowo ini menjadi sangat relevan di tengah situasi politik Indonesia yang semakin kompleks. Dengan mengajak seluruh rakyat untuk saling menghormati dan memahami, ia berharap Indonesia dapat terus maju tanpa terganggu oleh konflik internal yang tidak perlu. Key Discussion menyimpulkan bahwa momen ini menjadi catatan penting dalam sejarah politik Indonesia modern.
