Koster Paparkan Pengembangan Ekonomi Kreatif Bali di Hadapan Megawati
Koster Paparkan Pengembangan Ekonomi Kreatif Bali di Hadapan Megawati Key Strategy - Di Bali Beach Convention Center, The Meru, Sanur, pada Ahad, 28 Juni

Koster Paparkan Pengembangan Ekonomi Kreatif Bali di Hadapan Megawati
Tempatdonasi.com – Di Bali Beach Convention Center, The Meru, Sanur, pada Ahad, 28 Juni 2026, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, Wayan Koster, memaparkan hasil kegiatan Bulan Bung Karno 2026 yang berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Laporan ini disampaikan di hadapan Megawati Soekarnoputri, Presiden kelima Republik Indonesia dan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, yang didampingi oleh M. Prananda Prabowo, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital.
Implementasi Ajaran Trisakti Bung Karno
Koster menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara Bulan Bung Karno di Bali merupakan bentuk konkret dari ajaran Trisakti yang dipelopori Soekarno. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi dan membangun identitas budaya daerah. “Bulan Bung Karno ini menggambarkan upaya mempraktikkan tiga prinsip Trisakti: politik, ekonomi, dan budaya,” kata Koster dalam pidatonya.
“Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan implementasi konkret Trisakti Bung Karno: Berdaulat secara Politik, Berdikari dalam bidang Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan,” tegas Koster.
Pengembangan Produk Lokal Melalui Kompetisi
Dalam laporannya, Koster menyoroti beberapa program unggulan yang diadakan selama Bulan Bung Karno. Salah satu inisiatif yang mendapat perhatian adalah Lomba Miksologi Arak Bali, yang menurutnya menjadi sarana membangun nilai ekonomi dari produk lokal sekaligus menumbuhkan kreativitas generasi muda. “Kompetisi ini membantu mempromosikan Arak Bali sebagai komoditas yang memiliki potensi ekonomi tinggi,” ujarnya.
“Lomba Miksologi Arak Bali bertujuan untuk mendorong kreativitas generasi muda mengembangkan Arak Bali sebagai produk unggulan ekonomi kreatif. Saat ini sudah ada 54 merek Arak Bali yang masuk pasar internasional,” ungkapnya.
Program lainnya adalah Lomba Barista Kopi Bali, yang digunakan sebagai wadah menyebarluaskan keunggulan kopi lokal dari beberapa daerah seperti Kintamani, Pupuan, dan Banyuatis. “Kopi dari wilayah tersebut telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis, sehingga bisa dipasarkan secara lebih luas,” tambah Koster.
Dukungan untuk Kreativitas dan Inovasi
Koster menyampaikan rasa terima kasih kepada M. Prananda Prabowo, yang dinilai berkontribusi signifikan dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan kreatif selama Bulan Bung Karno. “Beliau terus mendorong lahirnya ide-ide baru dan inovatif yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif Bali,” katanya.
“Terima kasih kepada Bapak Prananda Prabowo yang terus mendorong lahirnya kegiatan kreatif dan inovatif. Beliau menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital,” kata Koster.
Kegiatan ini melibatkan 16 perlombaan yang mencakup seni pertunjukan tradisional, fashion, dan desain motif Endek Bali. Salah satu lomba yang sukses adalah Lomba Desain Kreatif Motif Endek Bali, yang menghasilkan 81 karya baru dari peserta mahasiswa serta perajin lokal. “Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital melakukan peran penting dalam menghadirkan berbagai inisiatif yang melibatkan beragam lapisan masyarakat,” lanjut Koster.
Partisipasi dan Dampak Kegiatan
Dalam acara penutupan tersebut, tercatat 14.569 peserta dari berbagai jenjang pendidikan yang aktif mengikuti kegiatan. Rangkaian acara juga menarik sekitar 27.000 penonton. Koster berharap capaian ini menjadi dasar untuk mengembangkan gerakan kebudayaan yang berkelanjutan.
“Mari kita jadikan Bulan Bung Karno bukan hanya sebagai kegiatan tahunan, tetapi sebagai gerakan permanen untuk membumikan Pancasila, membela wong cilik, merawat bumi pertiwi, dan memajukan kebudayaan bangsa,” pungkas Koster.
Di sisi lain, Eriko Sotarduga, Ketua DPP PDI Perjuangan, menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi kreatif tidak terlepas dari upaya memperkuat kedaulatan pangan. “Kita harus bangga terhadap pangan lokal, produk UMKM, dan kekayaan kuliner Nusantara,” ujarnya.
Strategi Berkelanjutan untuk Kemandirian Bangsa
Eriko menambahkan bahwa penguatan ekonomi daerah tidak hanya bergantung pada aspek politik, tetapi juga melalui pengembangan pangan lokal, kebudayaan, dan ekonomi kerakyatan. “Kedaulatan pangan adalah bagian dari perjuangan bangsa yang sejalan dengan semangat Trisakti Bung Karno,” katanya.
Menurut Eriko, pengembangan ekonomi kreatif memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. “Dengan menggali potensi lokal, kita bisa menciptakan ekosistem yang mandiri dan berdaya saing,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program ini agar bisa memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat Bali.
Kontribusi Terhadap Perekonomian dan Budaya
Koster juga menyoroti bagaimana kegiatan ekonomi kreatif di Bali telah meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Bulan Bung Karno menjadi wadah untuk menggali potensi kekayaan lokal dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat,” tuturnya. Ia menyebutkan bahwa program seperti Arak Bali dan kopi lokal telah membuka peluang ekspor yang signifikan, sekaligus mendorong pelestarian budaya tradisional.
Menurut Koster, keberhasilan ini bukan hanya hasil dari kerja sama internal, tetapi juga dukungan dari berbagai pihak. “Kami berharap kegiatan serupa dapat diulang setiap tahun, bahkan di tingkat nasional,” tambahnya. Dengan adanya kompetisi yang melibatkan banyak peserta, diharapkan bisa menciptakan pelaku ekonomi kreatif yang lebih banyak, serta memperkuat identitas Bali sebagai pusat budaya dan kreativitas Indonesia.
Masa Depan Ekonomi Kreatif Bali
Koster menilai Bulan Bung Karno 2026 menjadi momentum penting untuk menunjukkan kemampuan Bali dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif. “Kita perlu melanjutkan langkah ini dengan strategi yang lebih sistematis dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan serupa bisa menjadi referensi bagi daerah lain dalam membangun ekonomi berbasis budaya.
Dengan peningkatan partisipasi dan minat masyarakat, Koster optimis bahwa Bali bisa menjadi contoh sukses dalam menggabungkan kearifan lokal dengan inovasi modern. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bisa menjadi pilar utama dalam membangun kehidupan yang lebih sejahtera,” pungkasnya.
