Calon Manajer Kopdes Hanya Boleh Akses Ponsel Sekali Sepekan
Calon Manajer Kopdes Hanya Boleh Akses Ponsel Sekali Sepekan Yang Luput dari Cek Kesehatan Calon Manajer Koperasi Latest Program - Dalam tiga minggu terakhir

Calon Manajer Kopdes Hanya Boleh Akses Ponsel Sekali Sepekan
Yang Luput dari Cek Kesehatan Calon Manajer Koperasi
Tempatdonasi.com – Dalam tiga minggu terakhir, Gina, seorang calon manajer koperasi merah putih, baru dua kali berkesempatan berkomunikasi dengan keluarga yang berada di Kota Pekanbaru, Riau. Setelah mengikuti latihan dasar militer di Satuan Pusat Pendidikan Kesehatan TNI Angkatan Darat, Jakarta Timur, perempuan berusia 23 tahun itu mengatakan bahwa interaksi dengan sanak saudara menjadi hal yang terbatas. Awalnya, selama masa pendidikan yang berlangsung selama 45 hari, peserta tidak diperbolehkan menggunakan ponsel pribadi secara bebas. Mereka harus bergantung pada alat komunikasi milik pembina di satuan pelatihan.
Saat ini, nomenklatur latihan militer yang sebelumnya disebut latsarmil telah diubah menjadi latihan bela negara dan manajerial. Gina menjelaskan bahwa selama periode ini, akses ke gawai sangat dipandu ketat. “Sampai sekarang, handphone kami dikumpulkan,” ujarnya saat ditemui di Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026. Meski demikian, Gina menyebutkan bahwa kebijakan ini memberikan kelegaan setelah panitia memperbolehkan peserta mengakses ponsel selama satu jam setiap akhir pekan.
“Baru mulai hari Minggu kemarin bisa pegang HP dari jam delapan sampai sembilan malam, setelah apel malam,” ujarnya.
Kebijakan tersebut berlaku sejak Ahad, 28 Juni 2026, sebagai upaya memberikan kelonggaran. Gina menyatakan bahwa komunikasi intens dengan keluarga sangat penting untuk mengurangi kecemasan orang tua. Alasannya, kondisi kesehatannya memang tidak terlalu baik. Sejak tahun 2025, ia terdiagnosis menderita skoliosis, yang menyebabkan sesak napas saat kelelahan berlebih.
Bagi Gina, pembatasan akses ponsel selama tiga pekan pertama menjadi tantangan. “Saya harus beradaptasi dengan rutinitas pelatihan yang padat,” katanya. Namun, ia memahami bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menjaga fokus peserta. “Tanpa ponsel, kami lebih mudah menjaga waktu istirahat, sehingga bisa mengikuti seluruh aktivitas esok hari,” tambah Gina.
Menurut Komandan Satuan Pendidikan SPPI Pusdikkes TNI AD, Letnan Kolonel Korps Kesehatan Militer Said Jauhari, pembatasan penggunaan gawai adalah hasil evaluasi panitia setelah terjadi insiden kematian sejumlah calon manajer koperasi. Ia menjelaskan bahwa kebijakan ini diterapkan berdasarkan instruksi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, yang memperhatikan keluhan keluarga peserta.
“Setiap minggu kita berikan handphone selama sekitar satu jam untuk komunikasi dengan keluarga,” kata Jauhari di Jakarta pada Selasa.
Jauhari menyebutkan bahwa jadwal penggunaan ponsel dibuat fleksibel sesuai kebutuhan kegiatan, tetapi tetap dijadwalkan setiap pekan. “Kebijakan ini juga bertujuan mengurangi risiko peserta terlalu terbawa oleh kebiasaan menggawai, sehingga lebih fokus pada belajar,” ujarnya. Ia menekankan bahwa peserta yang dominan dari generasi muda, atau Gen Z, rentan terganggu oleh penggunaan ponsel.
Masih menurut Jauhari, pembatasan akses ponsel dilakukan untuk memastikan peserta bisa beradaptasi dengan intensitas latihan yang tinggi. “Kalau ada handphone, takutnya siswa tidur kemalaman, nanti bangunnya telat,” katanya. Dengan demikian, kebijakan ini diharapkan mampu mengoptimalkan disiplin dan konsentrasi peserta selama masa pendidikan.
Sebagai lulusan Teknik Lingkungan dari Universitas Riau, Gina merasa kebijakan ini bisa menjadi pelajaran berharga. Ia mengakui bahwa kebiasaan menggawai sering kali mengganggu fokus belajar, terutama dalam situasi yang membutuhkan konsentrasi maksimal. Meski demikian, Gina tetap bersyukur karena adanya pengaturan waktu yang memungkinkan komunikasi dengan keluarga setiap akhir pekan.
Kebijakan tersebut juga menjadi perhatian masyarakat terkait kesehatan peserta. Jauhari menyebutkan bahwa insiden kematian calon manajer koperasi sebelumnya memicu evaluasi kebijakan. “Pihak panitia ingin memastikan peserta tidak mengalami kelelahan berlebihan, yang bisa memicu risiko kesehatan,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya fokus pada aspek manajerial, tetapi juga kesehatan fisik dan mental peserta.
Dengan adanya pengaturan waktu akses ponsel, Gina berharap kebijakan ini bisa diimbangi dengan pemeriksaan kesehatan yang lebih menyeluruh. Ia menegaskan bahwa kondisi fisik dan mental peserta perlu diperhatikan agar tidak terabaikan selama masa pendidikan. “Kita butuh kebijakan yang tidak hanya mengatur komunikasi, tetapi juga memastikan peserta bisa berkembang secara optimal,” ujarnya.
Jauhari juga memaparkan bahwa kebijakan ini tidak berlaku secara mutlak. “Selama masa latihan, peserta tetap bisa menggunakan ponsel jika diperlukan, asalkan dalam batas waktu yang telah ditentukan,” jelasnya. Ia berharap kebijakan ini menjadi model yang dapat diterapkan di berbagai program pelatihan serupa, sehingga peserta tidak hanya dibina secara manajerial, tetapi juga dalam aspek kesehatan dan kedisiplinan.
