Skip to content
Nasional

Main Agenda: Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Bertambah Jadi 5

Intan Kurniawan - tempatdonasi.com 4 mins read

Pilihan Editor: Politikus PKS Usul Moratorium Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih Main Agenda - Dalam rangkaian kegiatan pelatihan bela negara

Main Agenda: Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal Bertambah Jadi 5

Pilihan Editor: Politikus PKS Usul Moratorium Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih

Tempatdonasi.com – Dalam rangkaian kegiatan pelatihan bela negara, tercatat lima orang calon manajer dari Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal dunia. Hal ini menambah daftar korban kecelakaan kesehatan yang terjadi selama program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia. Dengan demikian, jumlah calon manajer koperasi yang meninggal dalam kegiatan pelatihan telah mencapai lima orang.

Pelatihan Militer dan Kesulitan Kesehatan

Kementerian Pertahanan, panitia seleksi nasional, serta penyelenggara program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia menyampaikan duka cita atas wafatnya kelima almarhum. Mereka sedang menjalani pendidikan bela negara dan manajerial, sebelum diangkat menjadi manajer koperasi. Dalam pernyataannya, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemhan, Mayor Jendral Ketut Gede Wetan Pastia, mengungkapkan rasa sakit yang dalam untuk keluarga para almarhum.

“Kami menyampaikan bela sungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga almarhum-almarhumah,” ujar Ketut di kantor kementerian, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.

Dari lima korban, satu di antaranya adalah Nola Dya Sari. Peserta pelatihan dari Kalimantan ini meninggal setelah mengalami krisis pernapasan. Menurut laporan yang disampaikan oleh Ketut, Nola sebelumnya mengikuti pembelajaran sosiologi dan teknik perkebunan di dalam kelas tanpa gejala penyakit. Kecelakaan terjadi sekitar pukul 18.45 Waktu Indonesia Barat, saat almarhumah mengeluhkan sesak napas dan tubuh terasa panas. Tim medis Satuan Pendidikan Bela Negara langsung memberikan pertolongan pertama sebelum mengantarkan Nola ke IGD Rumah Sakit Singkawang.

Kemudian, pada pukul 19.20, Nola tiba di ruang gawat darurat dan segera diberi pemeriksaan medis. Namun, kondisi almarhumah memburuk, sehingga ia dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Aziz Singkawang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Selama proses penanganan, jantung Nola berhenti, memicu tindakan resusitasi jantung dan kardioversi. Meski upaya medis berlanjut, nyawa almarhumah tidak dapat dipulihkan, dan ia dinyatakan meninggal pada pukul 21.03 Waktu Indonesia Barat.

Deteksi Dini dan Perbaikan Sistem Kesehatan

Ketut menjelaskan bahwa Nola telah lulus seleksi kesehatan, yang memastikan ia memenuhi standar untuk mengikuti pendidikan. Namun, catatan kelebihan berat badan dalam hasil pemeriksaan kesehatan menjadi perhatian khusus. Pihak penyelenggara menyatakan evaluasi medis terhadap Nola masih terus dilakukan untuk memperjelas penyebab kematian.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan telah mengonfirmasi tiga kasus kematian lainnya. Salah satu korban adalah Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dari Kodam III/Siliwangi. Rifki meninggal akibat infeksi paru-paru yang diiringi komplikasi media, sekaligus memiliki riwayat hipertensi dan obesitas. Dalam catatan medis, kondisi kesehatan almarhum juga menjadi fokus evaluasi.

Korban Lain dari Berbagai Wilayah

Di hari yang sama, Novia Rahmadhani Sihotang, calon manajer yang mengikuti pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026. Ia memiliki riwayat tuberkulosis atau TBC. Sementara itu, Anisa Muyassaroh, yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur, meninggal akibat heat stroke pada 18 Juni 2026.

Kasus terakhir adalah Yonanda Muhammad Taufiq, yang dinyatakan wafat karena cardiac arrest atau henti jantung pada 17 Juni 2026. Ia mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Seluruh kejadian ini memicu perdebatan mengenai kesiapan peserta dan kehati-hatian dalam program pelatihan.

Respons dari Pihak Penyelenggara

Kementerian Pertahanan menggandeng Kementerian Kesehatan untuk memperkuat aspek kesehatan peserta. Langkah ini dilakukan berdasarkan arahan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Fokus utama adalah pencegahan, deteksi dini, serta penanganan penyakit paru dan menular di lingkungan pendidikan. Dengan tambahan korban yang meninggal, pihak terkait menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelatihan dan kesehatan peserta.

Pengelola program juga menyoroti risiko yang mungkin terjadi selama latihan dasar militer. Dalam beberapa hari terakhir, mereka telah menerima laporan mengenai kecelakaan kesehatan yang memengaruhi kondisi peserta. Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa perbaikan program akan dilakukan, termasuk penambahan fasilitas medis dan pengawasan lebih ketat. Mereka juga sedang meninjau ulang protokol pelatihan untuk memastikan keselamatan peserta.

Menurut Ketut, peristiwa ini mengingatkan bahwa kegiatan pelatihan bela negara harus diimbangi dengan pertimbangan kesehatan yang matang. “Kami memperkuat penguasaan aspek kesehatan peserta sebagai langkah preventif,” tuturnya. Dengan kejadian-kejadian ini, Kementerian Pertahanan berharap dapat mengurangi risiko kematian di masa depan.

Para politisi dan masyarakat awam mulai menyoroti kebijakan moratorium pelatihan militer untuk calon manajer koperasi. Usulan ini dianggap sebagai respons cepat terhadap kasus kematian yang terus terjadi. Meski demikian, pihak penyelenggara tetap menegaskan bahwa program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia memiliki peran penting dalam pengembangan sumber daya manusia dan kebutuhan pendidikan bela negara yang harus terus dijalankan.

Perjalanan Pendidikan Bela Negara

Kemarin, Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa program ini bertujuan menghasilkan calon manajer koperasi yang mandiri dan siap memimpin. Namun, kejadian-kejadian yang terjadi selama pelatihan menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan peserta dan kemampuan staf medis. Dalam upaya meningkatkan kualitas pelatihan, mereka berencana memperbaiki sistem pemantauan kesehatan, termasuk penggunaan alat pemantau vital selama kegiatan.

Kasus kematian kelima peserta dalam pelatihan militer menggarisbawahi bahwa program ini tidak hanya mencakup aspek kebugaran fisik, tetapi juga kebugaran kesehatan secara menyeluruh. Pihak penyelenggara berharap, dengan evaluasi dan perbaikan, program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia tetap dapat mencapai tujuannya sambil meminimalkan risiko bagi peserta.

Join the discussion