Skip to content
Nasional

Main Agenda: Menjaga Jejak Bung Karno

Andi Permata - tempatdonasi.com 4 mins read

Menjaga Jejak Bung Karno Main Agenda - Bulan Bung Karno 2026 menjadi momentum penting untuk mengeksplorasi bagaimana peran Soekarno tetap relevan di tengah

Main Agenda: Menjaga Jejak Bung Karno

Menjaga Jejak Bung Karno

Tempatdonasi.com – Bulan Bung Karno 2026 menjadi momentum penting untuk mengeksplorasi bagaimana peran Soekarno tetap relevan di tengah tantangan zaman sekarang. Warisan beliau tidak hanya diabadikan dalam sejarah, tetapi juga diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk ekspresi modern, mulai dari seni, budaya, hingga kuliner. Pameran seni, film, festival makanan, dan upacara ziarah menjadi cara untuk menyampaikan nilai-nilai kebangsaan dan perjuangan beliau ke generasi muda, membangkitkan semangat nasionalisme sekaligus mengajak masyarakat merenungkan kontribusi besar yang telah diberikan oleh sang proklamator.

Pada 6 Juni 2026, Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP dan mantan presiden kelima, mengunjungi Le Gareca Space di Bantul, Yogyakarta, untuk melihat karya seni yang menampilkan kembali sosok Bung Karno. Dalam acara pembukaan pameran bertajuk “Mata Hati Soekarno,” beliau didampingi seniman Butet Kartaredjasa. Pameran ini menampilkan 47 karya dari berbagai generasi, termasuk lukisan, grafis, dan seni kontemporer yang menggambarkan Bung Karno bukan hanya sebagai pendiri bangsa, tetapi juga sebagai sosok ideolog, pemikir seni, dan inspirator yang abadi.

Seni sebagai Medium Peringatan

Karya-karya dalam pameran ini mengajak pengunjung menggali kembali aspek-aspek yang sering terabaikan dalam kisah Bung Karno. Salah satu lukisan yang menarik perhatian Megawati adalah “Ku Antar ke Seberang” karya Agus Noor, yang menggambarkan Soekarno mengayuh sepeda sambil membawa Megawati kecil. Karya ini memicu kenangan pribadi sang presiden kelima tentang masa kecilnya bersama ayah. Tidak hanya itu, Megawati juga menyaksikan karya yang menginterpretasi Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966 melalui karya visual bertajuk “Supermemar” dan lukisan yang mengisahkan kehangatan restu dari Ibu Bung Karno, Ida Ayu Nyoman Rai.

“Bayangkan, 56 tahun saya menunggu namun tidak pernah diproses apakah beliau punya hukuman atau tidak,”

ucap Megawati saat membicarakan pencabutan TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 yang selama bertahun-tahun menggantungkan nama Bung Karno. Pencabutan ini menandai akhir dari penantian panjang yang sebelumnya menyelimuti peran beliau sebagai tokoh yang diasingkan dan ditahan selama 22 tahun demi kemerdekaan bangsa.

Dalam berbagai kegiatan Bulan Bung Karno, seperti festival kuliner Nusantara dan renovasi Istana Gebang serta Patung Bung Karno, Megawati berharap masyarakat tidak hanya menikmati wisata, tetapi juga merenungkan makna kebangsaan dari pemikiran dan tindakan Soekarno. Di Blitar, ia memimpin ziarah ke makam sang proklamator, sebelum mengakhiri hari dengan peresmian renovasi Istana Gebang, tempat masa kecil Bung Karno dihabiskan. Dalam pidato tanpa teks, Megawati menekankan bahwa bangunan bersejarah harus menjadi tempat memahami gagasan besar, bukan sekadar objek untuk dikunjungi.

Kehadiran Megawati di Le Gareca Space menunjukkan peran aktifnya dalam memperkuat jejak Bung Karno. Ia menyoroti bagaimana seni bisa menjadi jembatan antara generasi, membawa kembali figur Bung Karno ke depan mata masyarakat. Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya menggambarkan wajah sang proklamator, tetapi juga mengungkap kisah-kisah yang menggabungkan kehidupan politik dengan personal. Misalnya, lukisan “Supermemar” menciptakan dialog visual antara dokumen historis dan makna aktualnya, sementara karya lain mengisahkan hubungan antara Bung Karno dengan keluarga, termasuk peran sang istri, Fatmawati, sebagai seniman.

Keluarga sebagai Penjaga Warisan

Keluarga Soekarno, terutama Megawati, memandang seni sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan nasional. Sejak usia lima tahun, anak-anak di lingkungan Istana diberi pelatihan tari dan dikenalkan pada para maestro seperti Basoeki Abdullah, Affandi, serta Nashar. Atmosfer ini menciptakan pengalaman hidup yang berbeda, di mana seni bukan hanya hiburan, tetapi juga alat untuk membentuk karakter. Megawati menegaskan perlunya melanjutkan tradisi ini dengan memperluas sanggar-sanggar seni sebagai ruang pembelajaran kebangsaan.

Di samping itu, Megawati juga menyoroti isu-isu aktual yang terus menggerogoti bangsa. Dalam pidato di Istana Gebang, ia menyebut kenaikan harga kebutuhan pokok sebagai tantangan besar yang membutuhkan solusi kolektif. Ia menekankan pentingnya kritik yang etis melalui mekanisme demokrasi, serta kebutuhan memperkuat ketahanan pangan dengan mengembangkan tanaman pendamping beras. “Kita harus bergerak untuk mengamankan pangan bangsa, karena kedaulatan pangan adalah salah satu gagasan yang ditinggalkan Bung Karno,” tegas Megawati.

Pameran “Mata Hati Soekarno” dan kegiatan lainnya memperlihatkan bagaimana warisan Bung Karno bisa terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggabungkan sejarah, budaya, dan seni, pesta peringatan ini diharapkan menciptakan kesadaran kolektif akan nilai-nilai yang mengakar dalam kehidupan bangsa. Megawati yakin, melalui pendekatan yang menyentuh, generasi muda bisa merasakan keberadaan Bung Karno seolah beliau masih berada di tengah mereka, menginspirasi setiap langkah menuju kemerdekaan dan persatuan.

Sementara itu, ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar menjadi momen untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan beliau. Megawati mengingatkan bahwa peran Soekarno sebagai proklamator bukan hanya tentang kebebasan politik, tetapi juga tentang keinginan untuk membentuk bangsa yang tangguh. “Beliau memberi kita konsep bangsa yang tidak hanya merdeka secara fisik, tetapi juga memiliki identitas dan semangat kebangsaan yang kuat,” lanjut Megawati.

Peringatan Bulan Bung Karno tahun ini diharapkan menjadi pengingat bahwa pemikiran dan nilai-nilai beliau masih relevan. Dengan memadukan seni, budaya, serta isu-isu aktual, kegiatan ini tidak hanya memperingati masa lalu, tetapi juga menciptakan koneksi antara generasi yang lalu dan yang akan datang. Megawati berharap masyarakat bisa melihat Bung Karno bukan hanya sebagai tokoh historis, tetapi sebagai contoh nyata tentang semangat nasionalisme yang bisa dipelajari dan diwariskan dalam bentuk apapun.

Join the discussion