Skip to content
Nasional

Kata DPR Soal Dugaan Penyebab Ribuan Calon Mahasiswa Tak Daftar Ulang

Andi Permata - tempatdonasi.com 4 mins read

Kata DPR Soal Dugaan Penyebab Ribuan Calon Mahasiswa Tak Daftar Ulang New Policy - Di tengah perdebatan tentang tingkat partisipasi pendidikan tinggi di

Kata DPR Soal Dugaan Penyebab Ribuan Calon Mahasiswa Tak Daftar Ulang

Kata DPR Soal Dugaan Penyebab Ribuan Calon Mahasiswa Tak Daftar Ulang

Tempatdonasi.com – Di tengah perdebatan tentang tingkat partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia, WAKIL Ketua Komisi X DPR Kurniasih Mufidayati mengungkapkan kemungkinan penyebab mengapa ribuan calon mahasiswa yang telah lolos seleksi SNBT atau SNBP 2026 tidak melanjutkan proses pendaftaran ulang ke perguruan tinggi. Menurutnya, beberapa faktor menjadi alasan utama di balik fenomena ini.

Faktor Ekonomi Dominan dalam Penyebab Tak Daftar Ulang

Dalam wawancara di Kompleks DPR, MPR, dan DPD pada Kamis, 2 Juli 2026, Kurniasih menyebutkan bahwa keterbatasan kemampuan ekonomi keluarga adalah salah satu penyebab utama. Ia menyoroti bahwa biaya pendidikan, seperti UKT (Uang Kuliah Tunggal), sering kali menjadi penghalang bagi calon mahasiswa untuk melanjutkan studi.

“Kebanyakan calon mahasiswa tidak melanjutkan proses daftar ulang karena UKT yang diharapkan melebihi kemampuan finansial keluarga,” ujar politikus PKS tersebut.

Dia menjelaskan, dalam tahun sebelumnya, kebanyakan siswa yang tak daftar ulang berasal dari keluarga dengan pendapatan terbatas. Situasi ini menunjukkan bahwa biaya kuliah menjadi beban signifikan, terutama bagi mereka yang memilih jurusan dengan tarif UKT tinggi.

Pilihan Program Studi dan Proses Seleksi

Kurniasih juga menyebutkan bahwa pola pilihan program studi berpengaruh terhadap keputusan calon mahasiswa. Ia mengungkapkan, banyak siswa memilih program yang buka di perguruan tinggi yang dituju sebagai opsi kedua, karena kurang tertarik dengan jurusan utama yang ditawarkan.

“Beberapa calon mahasiswa menunda daftar ulang karena tidak menemukan program yang sesuai dengan minat mereka, meski telah lolos seleksi,” tutur Kurniasih.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa proses seleksi yang memakan waktu dan membutuhkan komitmen jangka panjang membuat calon mahasiswa ragu. Tidak semua siswa merasa siap mengambil langkah definitif setelah melalui tahapan tes dan pendaftaran sebelumnya.

Kebimbangan Calon Mahasiswa terhadap Biaya Pendidikan

Kurniasih menekankan bahwa kebimbangan terhadap biaya pendidikan tinggi masih menjadi hambatan utama bagi calon mahasiswa. Ia menjelaskan, meskipun telah dinyatakan lolos seleksi, banyak siswa mengalami kekhawatiran tentang kemampuan keluarga untuk membiayai studi mereka.

“Beberapa calon mahasiswa merasa kurang percaya diri karena UKT yang tertera tidak sesuai dengan harapan mereka, terutama untuk program yang dianggap ‘terbaik’ di suatu institusi,” kata politikus PKS itu.

Menurutnya, situasi ini memperlihatkan bahwa kebijakan pemerintah dalam menentukan besaran UKT perlu diperiksa kembali. Kurniasih menyarankan bahwa ada kebutuhan untuk menyesuaikan biaya pendidikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat, agar lebih banyak siswa bisa melanjutkan studi.

Reaksi dari Pihak Kementerian Pendidikan Tinggi

Sementara itu, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, membantah angka 60 ribu calon mahasiswa yang tak daftar ulang. Ia menjelaskan bahwa jumlah tersebut berasal dari akumulasi semua jalur seleksi, bukan hanya SNBP.

“Angka 60 ribu itu mencakup semua jalur penerimaan mahasiswa baru, termasuk SNBT dan SNBP. Tidak ada satu jalur pun yang menyebabkan angka partisipasi turun signifikan secara terpisah,” ujar Eduart.

Ia menambahkan bahwa sistem SNPMB 2026 dirancang untuk meningkatkan transparansi dan akurasi dalam proses penerimaan. Eduart juga mengatakan bahwa keputusan calon mahasiswa tidak selalu berkorelasi langsung dengan biaya pendidikan, karena ada faktor lain seperti preferensi jurusan atau kesesuaian dengan minat.

Kebutuhan Analisis untuk Memahami Fenomena

Kurniasih menyoroti pentingnya studi lebih lanjut untuk mengetahui akar masalah ini. Menurutnya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi perlu melakukan riset komparatif atau survei untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi calon mahasiswa.

“Kita perlu memahami secara jelas mengapa ribuan calon mahasiswa memutuskan tidak melanjutkan studi, agar bisa menyusun strategi peningkatan partisipasi,” ujar Kurniasih.

Dia berharap semua pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan lembaga pendidikan, dapat bekerja sama untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang berkuliah. Menurutnya, angka partisipasi kuliah yang masih di bawah 40 persen menjadi indikasi bahwa ada celah besar yang perlu diisi.

Kesiapan dan Perbandingan Program Studi

Kurniasih juga memaparkan bahwa keputusan tidak melanjutkan studi bisa dipengaruhi oleh pilihan program yang lebih menarik. Ia menyebut, ada kasus di mana calon mahasiswa justru memilih institusi lain yang menawarkan program lebih sesuai dengan harapan mereka, meski tidak termasuk dalam jalur utama seleksi.

“Beberapa calon mahasiswa lebih memilih mengikuti jalur di kementerian/lembaga atau bahkan melanjutkan pendidikan ke luar negeri, karena fasilitas dan peluang yang lebih menarik,” ujar Kurniasih.

Menurutnya, ini mencerminkan bahwa sistem pendidikan tinggi perlu lebih fleksibel dalam menyesuaikan kurikulum dan fasilitas agar bisa menarik minat lebih banyak siswa. Kurniasih menegaskan bahwa pendidikan tinggi adalah kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan fenomena ini perlu diperhatikan sebagai tantangan serius.

Peran Sosial dan Kebijakan dalam Meningkatkan Partisipasi

Kurniasih menekankan bahwa masalah ini tidak hanya bersifat individu, tetapi juga melibatkan faktor sosial dan kebijakan. Ia menyarankan bahwa pemerintah perlu melakukan sosialisasi lebih intensif mengenai keuntungan pendidikan tinggi, terutama bagi calon mahasiswa dari latar belakang ekonomi yang kurang stabil.

Menurutnya, angka partisipasi kuliah yang rendah bisa diatasi dengan kebijakan yang lebih inklusif. Kurniasih menambahkan bahwa pemerintah harus bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan masyarakat untuk menciptakan sistem yang memungkinkan semua lapisan masyarakat mengakses pendidikan tinggi.

Kesimpulan dan Harapan

Kurniasih berharap bahwa dengan pemahaman yang lebih baik, pihak terkait dapat mengambil langkah konkret untuk meningkatkan jumlah calon mahasiswa yang mendaftar ulang. Menurutnya, ini adalah langkah penting menuju pendidikan tinggi yang lebih merata dan bermakna.

“Jika kita tidak memperbaiki sistem penerimaan dan memahami kebutuhan calon mahasiswa, maka potensi pendidikan nasional akan terus terhambat,” pungkas Kurniasih.

Join the discussion