Skip to content
Nasional

Prabowo Sindir Orang yang Gaduh, Ribut, dan Suka Bakar-bakar

Tegar Ananda - tempatdonasi.com 4 mins read

Bakar-bakar New Policy - Di tengah suasana politik yang terus memanas, Presiden Prabowo Subianto memilih menyampaikan kritik tajam terhadap sejumlah pihak

Prabowo Sindir Orang yang Gaduh, Ribut, dan Suka Bakar-bakar

Prabowo Sindir Orang yang Gaduh, Ribut, dan Suka Bakar-bakar

Tempatdonasi.com – Di tengah suasana politik yang terus memanas, Presiden Prabowo Subianto memilih menyampaikan kritik tajam terhadap sejumlah pihak yang dinilainya sering menciptakan kegaduhan. Dalam pidatonya di Jakarta International Convention Center pada Jumat, 26 Juni 2026, ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia seharusnya lebih fokus pada pengembangan kesejahteraan rakyat dibandingkan terus-menerus berselisih dan berdebat tanpa tujuan jelas.

Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia yang menjadi tempat penyampaian pandangan Prabowo ini dihadiri oleh ribuan rektor, dekan, serta dosen dari berbagai institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Pada kesempatan tersebut, ia menyoroti pentingnya kesatuan dan kerja sama dalam mencapai tujuan nasional. “Negara kita adalah Indonesia, dan kita harus bisa mencari jalan bersama,” ujarnya dalam pidato yang disampaikan secara terbuka.

Kritik Terhadap Perbedaan yang Berlebihan

Prabowo mengingatkan bahwa meskipun demokrasi memungkinkan perbedaan pendapat, kegaduhan yang berlebihan justru bisa menghambat kemajuan bangsa. Ia menyoroti bagaimana perbedaan partai atau ideologi seringkali diubah menjadi sumber konflik. “Mengapa setiap kali pemilihan selesai, yang kalah selalu merasa terpuruk dan ingin mendominasi? Kapan kita bisa bergerak maju untuk kebaikan rakyat?” tanya Prabowo, yang menghadiri acara bertajuk “Sarasehan Kebangsaan.”

Apa kita mau gaduh? Setiap habis pemilihan gaduh, yang kalah ribut? Kapan kita mau maju untuk kesejahteraan rakyat kita?

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung tentang bagaimana orang-orang yang terlibat dalam kegaduhan sering kali mengabaikan tanggung jawab mereka terhadap kemajuan nasional. Ia menekankan bahwa kecerdasan dan kewajiban sebagai pemimpin seharusnya digunakan untuk mensejahterakan masyarakat, bukan malah memicu konflik. “Segala kepintaran kita, harus kita abdikan ke yang paling miskin, yang paling lemah,” tambahnya.

Prabowo memandang bahwa kegaduhan, seperti aksi bakar-bakar atau penyebaran kebencian, tidak produktif. Ia menyindir pihak yang menganggap perbedaan pandangan bisa menjadi alasan untuk menimbulkan ketidakstabilan. “Kalau ada yang berpendapat bahwa gaduh, ribut, bakar-bakar, anarki, kebencian, permusuhan, atau maki-memaki itu bisa membawa manfaat, silakan hak mereka. Tapi saya yakin, justru kita perlu meminimalkan hal-hal yang mengganggu keharmonisan,” ujarnya dengan nada tajam.

Kritik Prabowo ini dianggap sebagai respons terhadap isu-isu politik yang belakangan marak. Ia menyoroti bahwa negara lain justru fokus pada inovasi dan kemajuan, sementara Indonesia masih sering terjebak dalam perdebatan yang tidak menghasilkan solusi. “Sementara negara lain menuju kesejahteraan, menuju terobosan, menuju kekayaan, kita malah sering berdansa di antara kegaduhan,” lanjutnya.

Forum dan Peserta Kebangsaan

Acara “Sarasehan Kebangsaan” yang diadakan dalam rangka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Hadirnya mereka menunjukkan pentingnya dialog kebijakan antara pemimpin dan para akademisi.

Dalam suasana yang dinamis, Prabowo juga memberikan pesan bahwa kegaduhan bukan hanya menjadi kebiasaan, tetapi juga bisa melahirkan kebijakan yang tidak berpijak pada kebutuhan rakyat. Ia meminta para pemimpin untuk lebih bijak dalam menyampaikan visi dan misi, serta tidak membiarkan emosi mengatur jalannya negara.

Penegasan Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab

Prabowo menekankan bahwa tugas seorang pemimpin adalah membangun, bukan merusak. Ia menyoroti bahwa orang-orang yang diberi mandat harus mampu menjadi pilar kestabilan, bukan penyebab ketidakpastian. “Jika kita tidak bisa bersatu, maka keberhasilan pembangunan akan selalu terancam,” ujarnya.

Kata-kata Prabowo ini memicu reaksi dari sejumlah peserta konvensi. Beberapa dosen menilai bahwa kritiknya terhadap kegaduhan adalah upaya untuk mengingatkan masyarakat pada pentingnya konsensus. Namun, ada pihak lain yang menanggapi dengan tegas bahwa kegaduhan bisa menjadi sarana untuk menegaskan aspirasi rakyat.

Silakan kalau ada yang berpendapat lain, hak. Saya katakan kita berbeda. (Silakan) kalau ada yang berpendapat bahwa gaduh, ribut, bakar-bakar, anarki, kebencian, permusuhan, maki-memaki itu produktif.

Di sisi lain, Prabowo mengkritik cara berpikir yang menganggap perbedaan adalah keharusan, tetapi kegaduhan adalah bentuk ekspresi. “Jika kita tidak bisa mengelola perbedaan dengan bijak, maka kegaduhan akan menjadi musuh utama kita,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa kesejahteraan rakyat hanya bisa tercapai jika seluruh lapisan masyarakat mampu bekerja sama dan berpikir jernih.

Sebagai mantan menteri pertahanan, Prabowo mengingatkan bahwa kekuasaan harus diarahkan ke arah kemakmuran, bukan konflik. Ia menggambarkan bahwa sejarah menunjukkan bahwa negara yang berhasil adalah yang mampu mengatasi ketegangan dengan kebijakan yang berimbang. “Kita harus belajar dari kegagalan masa lalu, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ujarnya.

Pilihan Editor: Untuk Apa Gibran Mengajak Mahasiswa Blusukan ke Daerah

Editor menyatakan bahwa pidato Prabowo ini menjadi titik fokus perdebatan tentang ke

Join the discussion