Demo PMII Usung Lima Tuntutan di DPR Sudah Bubar
Demo PMII Usung Lima Tuntutan di DPR Sudah Bubar Peristiwa Aksi Unjuk Kekuatan Special Plan - Aksi unjuk kekuatan yang diselenggarakan oleh Pergerakan

Demo PMII Usung Lima Tuntutan di DPR Sudah Bubar
Peristiwa Aksi Unjuk Kekuatan
Tempatdonasi.com – Aksi unjuk kekuatan yang diselenggarakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di depan Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, telah berakhir pada Senin sore, 22 Juni 2026. Ribuan peserta aksi yang sebelumnya berkumpul di sekitar lokasi kegiatan kini telah kembali ke kendaraan masing-masing, meninggalkan ruang publik setelah menyelesaikan serangkaian protes. Sebagai penutup, mereka mempersembahkan nyanyian lagu Indonesia Raya yang menjadi simbol kesatuan dan kebangsaan.
Aksi tersebut diadakan dengan tema “Evaluasi Total Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran” dan dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Awalnya, massa PMII berkumpul di area Patung Kuda, Jakarta Pusat, sebelum bergerak menuju Gedung DPR RI di Senayan. Dalam perjalanannya, para peserta aksi mengungkapkan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintahan saat ini, yang mereka anggap belum memberikan dampak optimal bagi masyarakat.
Isu dan Tuntutan Utama
Peserta aksi membawa lima poin tuntutan utama yang menjadi fokus utama dari demonstrasi tersebut. Pertama, mereka mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai kurang efektif dalam menjangkau masyarakat yang terpinggirkan. Kedua, tuntutan meninjau kembali kinerja menteri-menteri yang dianggap tidak memenuhi standar kompetensi.
Ketiga, mahasiswa menuntut perubahan struktur Badan Gizi Nasional, menurut mereka lembaga ini perlu direformasi agar bisa lebih transparan dan akuntabel. Keempat, aksi juga menyasar penghentian Program Koperasi Desa Merah Putih, yang dianggap memperumit kinerja pemerintah daerah. Terakhir, peserta aksi meminta peningkatan kesejahteraan guru dan penjagaan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah.
Dari tuntutan tersebut, penekanan pada Pasal 33 UUD 1945 menjadi isu yang sangat penting. Pasal ini menyatakan bahwa pemerintah wajib menjamin kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Mahasiswa PMII menganggap penerapan pasal ini belum optimal, sehingga mereka menuntut adanya langkah konkret untuk memperkuat prinsip tersebut dalam kebijakan nasional.
Momen Kericuhan dan Simbol Politik
Pada saat aksi berlangsung, terjadi momen kericuhan kecil yang menarik perhatian. Mahasiswa memilih membakar replika keranda sebagai simbol matinya demokrasi di bawah pemerintahan saat ini. “Kita bakar keranda ini tanda kita sudah muak dengan pemerintahan saat ini, sahabat-sahabat,” kata seorang orator yang berada di mobil komando, sambil menyampaikan pesan kekecewaan mereka.
“Keranda ini merepresentasikan kehilangan harapan, krisis kepercayaan, dan kegagalan pemerintah dalam menjalankan amanat rakyat,” ujar orator tersebut.
Polisi yang segera datang untuk memadamkan api dari kayu yang dibakar, mengalami sedikit kesulitan karena mahasiswa sengaja berusaha menghambat upaya tersebut. Terjadi saling dorong antara anggota polisi dan peserta aksi, tetapi peristiwa tersebut tidak berlangsung lama. Meski demikian, aksi tersebut menggambarkan semangat perlawanan yang tumbuh di tengah ketidakpuasan masyarakat.
Dalam konteks politik, aksi ini juga mencerminkan penekanan PMII pada isu keadilan sosial dan transparansi. Pergerakan ini dikenal sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan yang aktif dalam memperjuangkan kebijakan publik, terutama dalam hal kesejahteraan sosial. Dengan membawa lima tuntutan yang jelas, mereka mencoba menghadirkan visi reformasi yang lebih kuat dan inklusif.
Perbandingan dengan Aksi Lain
Aksi PMII pada hari ini berbeda dengan demonstrasi yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Trisakti dan beberapa perguruan tinggi lain pada Jumat pekan lalu. Pada aksi sebelumnya, peserta langsung diterima oleh pimpinan DPR, yang menunjukkan respons yang lebih positif. Sementara itu, aksi PMII kali ini berlangsung tanpa adanya interaksi langsung dengan anggota DPR, meski mereka menunggu kehadiran para pemimpin.
Persoalan ini menimbulkan pertanyaan tentang alasan Gibran mengajak mahasiswa melakukan blusukan ke daerah. “Untuk Apa Gibran Mengajak Mahasiswa Blusukan ke Daerah?” menjadi salah satu topik yang menarik perhatian. Menurut analisis, tindakan tersebut mungkin bertujuan untuk mengamankan suara mahasiswa di luar lingkungan DPR, atau menghindari kesan aksi yang terlalu intens di kawasan pusat kota.
Berdasarkan latar belakang aksi, masyarakat dan akademisi mulai menyadari pentingnya dialog yang lebih aktif antara pemerintah dan kelompok pemuda. Meski aksi PMII telah berakhir, dampaknya tetap terasa, dengan pesan yang diharapkan mampu memicu refleksi lebih dalam terhadap kebijakan pemerintahan saat ini.
