Skip to content
Nasional

Anggota DPR Soroti Asesmen Kesehatan Calon Manajer Kopdes Merah Putih

Maya Rahman - tempatdonasi.com 3 mins read

Pilihan Editor: Politikus PKS Usul Moratorium Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih Kritik DPR terhadap Proses Asesmen Topics Covered - Seorang anggota

Anggota DPR Soroti Asesmen Kesehatan Calon Manajer Kopdes Merah Putih

Pilihan Editor: Politikus PKS Usul Moratorium Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih

Kritik DPR terhadap Proses Asesmen

Tempatdonasi.com – Seorang anggota Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, menyoroti kelemahan dalam prosedur evaluasi kesehatan para calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih sebelum mengikuti pelatihan dasar kemiliteran. Menurutnya, jika skrining kesehatan telah dilakukan secara menyeluruh, tidak ada alasan untuk terjadi kecelakaan fatal dalam kegiatan tersebut.

“Dalam situasi seperti jantung berhenti, ini seharusnya bisa terdeteksi jika asesmen kesehatan berjalan efektif,” ujar Hasanuddin saat dihubungi, Sabtu, 27 Juni 2026.

Politikus PDIP ini mendesak pemerintah melakukan peninjauan yang lebih ketat terhadap metode evaluasi sebelum peserta melanjutkan pelatihan. Ia menekankan pentingnya objektivitas dan kedalaman dalam skrining, agar kondisi fisik calon manajer bisa diketahui secara akurat.

Dalam hal latihan fisik militer, Hasanuddin menilai beberapa komponen tidak relevan. Ia menyarankan fokus pelatihan ditujukan pada peningkatan kapasitas organisasional dan penguatan keterampilan manajerial, bukan pada aktivitas seperti lari atau push-up yang berisiko tinggi.

Peristiwa Kecelakaan dalam Latsarmil

Dalam penyelenggaraan pelatihan dasar kemiliteran (latsarmil), empat orang calon manajer dinyatakan meninggal dunia. Mereka adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.

Novia Rahmadhani Sihotang mengikuti latsarmil di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta. Ia meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026, atau hari keenam setelah pelatihan dimulai pada 17 Juni 2026.

Anisa Muyassaroh berpulang satu hari setelahnya, tepatnya 18 Juni 2026, akibat terkena stroke panas. Kejadian ini terjadi saat ia mengikuti program pelatihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Komando Daerah Militer Mulawarman Balikpapan, Kalimantan Timur.

Yonanda Muhammad Taufiq dinyatakan wafat akibat henti jantung pada 17 Juni 2026, selama mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Kota Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Sementara itu, Rifki Renaldi Gunawan mengalami sesak nafas sebelum meninggal. Ia mengikuti latsarmil di Satuan Pendidikan Batalyon Pasukan Para Komando atau Parako 465, Jakarta Timur. Ketiga korban meninggal lainnya juga mengalami kondisi serupa selama pelatihan.

Respons dari Kementerian Pertahanan

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Rico Sirait, menyampaikan rasa dukanya atas insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa seluruh peserta telah melewati berbagai tahap evaluasi, termasuk pemeriksaan kesehatan, sebelum dinyatakan siap mengikuti pelatihan militer.

“Berdasarkan hasil seleksi, Rifki dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti Program SPPI,” kata Rico dalam keterangan tertulis, Jumat, 26 Juni 2026.

Rico menambahkan, instansinya bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pelatihan akan melakukan tinjauan menyeluruh terhadap pelaksanaan Program SPPI. Evaluasi ini bertujuan memperkuat proses seleksi kesehatan, memastikan deteksi dini kondisi medis peserta, serta meningkatkan pengawasan oleh tenaga medis selama pendidikan.

Dalam rangka mencegah kejadian serupa, pihaknya juga akan menyelidiki penyebab kecelakaan pada peserta yang mengalami keluhan serupa di seluruh satuan pendidikan. Evaluasi ini dilakukan untuk memastikan standar kesehatan calon manajer diutamakan sebelum mengikuti pelatihan kemiliteran.

Rekomendasi untuk Peningkatan Kualitas Pelatihan

Hasanuddin menyarankan perubahan struktur pelatihan agar lebih sesuai dengan tujuan pengembangan manajerial. Ia menekankan bahwa pelatihan koperasi harus menjadi inti program, bukan hanya latihan fisik.

Menurut Hasanuddin, penyelenggaraan latsarmil yang terlalu berat dapat memperburuk kondisi kesehatan peserta. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa metode pelatihan yang digunakan tidak memperhatikan risiko yang mungkin terjadi selama kegiatan.

Politikus PDIP ini juga mengingatkan bahwa evaluasi kesehatan harus mencakup pemeriksaan lebih rinci, termasuk pengukuran daya tahan tubuh dan riwayat medis. Dengan demikian, pelatihan militer bisa menjadi alat untuk memperkuat disiplin dan mental, tanpa mengorbankan kesehatan peserta.

Sebagai langkah tambahan, Hasanuddin merekomendasikan penerapan moratorium terhadap latsarmil calon manajer Kopdes Merah Putih selama sementara waktu. Hal ini dilakukan untuk meninjau ulang prosedur dan memastikan keamanan peserta.

Para ahli menyatakan bahwa perubahan dalam sistem pelatihan sangat penting agar kecelakaan seperti ini tidak terulang. Evaluasi terhadap metode dan intensitas pelatihan, serta pemantauan kondisi peserta, harus menjadi prioritas utama dalam program pengembangan manajerial koperasi.

Join the discussion