Goenawan Mohamad Puji Penari Muda di Pesta Kesenian Bali
Sendratari Kolosal di Pesta Kesenian Bali Dwipa
Facing Challenges – Budayawan kenamaan Goenawan Mohamad memberikan apresiasi terhadap generasi muda yang aktif dalam rangkaian acara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Ia menyoroti kehadiran mereka dalam pawai pembukaan atau Peed Aya, yang menurutnya menjadi bukti keberlanjutan nilai-nilai budaya di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berubah. Dalam video viral di media sosial Facebook, Goenawan melihat para siswa dari Manca Academy menggelar tarian Bungan Jaja selama pawai, yang menjadi perwujudan dari semangat kreativitas dan kepedulian terhadap warisan leluhur.
“Tapi ajaib, melihat gadis-gadis di Bali menari dengan lugas, luwes, dan leluasa, saya jadi paham bahwa ‘panggulawentah’ adalah proses menjadi manusia yang matang dan merdeka,” tulis Goenawan dalam artikel yang diterima Tempo pada Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Goenawan, kecewaan terhadap para pemimpin Indonesia tidak membuatnya kehilangan semangat dalam memperjuangkan kehidupan budaya. Ia menegaskan bahwa kehadiran para pemuda dan pemudi di acara ini menunjukkan harapan baru bagi masa depan. “Saya pernah merasa kehilangan harapan, tapi keberadaan mereka memberi gambaran bahwa budaya masih hidup dan relevan,” jelasnya. Ayahnya dulu pernah mengingatkannya bahwa Indonesia adalah ‘panggulawentah’—tempat untuk menjadi manusia yang utuh, sebuah konsep yang kini lebih ia pahami setelah melihat tarian yang dipertunjukkan oleh para penari muda.
Ruang Kesetaraan Perempuan dalam Pesta Kesenian Bali ke-47
Dalam penyelenggaraan PKB XLVIII, yayasan Naluri Manca ditunjuk sebagai salah satu wadah representatif dari Denpasar. Sebagai lembaga pendidikan berbasis budaya, yayasan ini aktif dalam menanamkan nilai-nilai tradisional kepada berbagai kalangan. Mereka telah mempersiapkan peserta pawai selama 1,5 hingga 2 bulan sebelum acara berlangsung. Menurut Direktur Eksekutif Manca Academy, Mira Adnyaswari, pelatihan ini tidak hanya fokus pada kemampuan teknis tari, tetapi juga pada pemahaman tentang makna dan pesan yang ingin disampaikan.
“Biasanya prosesnya tak hanya penguasaan gerak tari melainkan nilai budaya tarian yang dibawakan,” kata Mira saat diwawancara Tempo pada Kamis, 18 Juni 2026.
Menyesuaikan tema PKB tahun ini, yaitu Tattwa Parisuda Basudewa Kutumbhakam, Manca Academy merancang materi tarian yang lebih kontemporer. Tema tersebut menggambarkan kesadaran diri, penyucian jiwa, serta hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan alam semesta sebagai spirit kehidupan masyarakat Bali. “Jadi kami buat materi baru berdasarkan judul PKB tahun ini,” tambah Mira. Dalam video yang beredar, ia mengatakan bahwa anak-anak dari yayasan ini membawakan bagian Bungan Jaja, yang dianggap sebagai wujud kemurnian hati dan kepolosan generasi muda.
Penampilan tersebut, menurut Mira, tidak hanya menampilkan gerakan tari, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, budaya, alam, dan nilai-nilai spiritual. “Kami ingin menyebarkan kebahagiaan dan ketulusan yang mereka miliki sebagai energi positif dalam kehidupan masyarakat,” terangnya. Dengan alur cerita yang disesuaikan, tarian ini menjadi sarana komunikasi antara generasi muda dan warisan budaya.
Di samping Bungan Jaja, penampilan di PKB juga menyertakan unsur-unsur lain seperti Bapang Barong dan Legong Manca, yang dipadukan dengan iringan Semar Pegulingan. Kombinasi ini mencerminkan keanggunan, keharmonisan, serta semangat budaya Bali yang terus berkembang di tengah perubahan zaman. “Ini menggambarkan betapa budaya tidak pernah stagnan, tetapi selalu beradaptasi seiring kemajuan teknologi dan kehidupan sosial,” tambah Mira.
Kehadiran Manca Academy di PKB XLVIII juga menjadi contoh bagaimana lembaga pendidikan bisa berperan aktif dalam melestarikan seni tradisional. Dengan pendekatan yang kreatif dan inklusif, mereka mampu menarik minat berbagai kalangan, termasuk anak-anak dari latar belakang yang beragam. Hal ini menunjukkan bahwa budaya tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan tradisional, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan aspirasi dan nilai-nilai sosial yang relevan.
Menurut Mira, penyelenggaraan PKB menjadi ajang penting untuk menggali potensi para pemuda dalam menghidupkan seni. “Budaya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, apalagi dalam konteks kehidupan yang semakin modern,” katanya. Dengan menampilkan tarian yang menggabungkan tradisi dan inovasi, Manca Academy berharap mampu menjadi jembatan antara generasi muda dengan warisan budaya. Ia juga menekankan bahwa pawai ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebagai upaya membangun kesadaran akan pentingnya budaya dalam identitas nasional.
Nilai-nilai yang disampaikan melalui tarian Bungan Jaja, kata Mira, berfokus pada kejernihan hati dan keharmonisan antara individu dengan lingkungan sekitarnya. “Mereka memperlihatkan kemurnian batin, sekaligus menjelaskan bahwa budaya adalah cerminan dari kehidupan manusia,” imbuhnya. Dengan begitu, peserta pawai tidak hanya menari, tetapi juga menjadi pembawa pesan yang lebih luas tentang persatuan dan perjuangan untuk menjaga identitas budaya di tengah tuntutan globalisasi.
Keberhasilan Manca Academy dalam memadukan seni tradisional dengan konsep modern menunjukkan bahwa budaya Indonesia masih relevan dan bisa tetap berkembang. Dalam konteks PKB XLVIII, kehadiran para penari muda tidak hanya memperkaya acara, tetapi juga menunjukkan bahwa budaya tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan masa kini. Goenawan Mohamad, dalam tulisannya, menilai hal ini sebagai bentuk harapan baru bagi Indonesia yang semakin dinamis.
