Pameran Seniman Asia Tenggara di Bandung: Kreativitas sebagai Jawaban atas Tantangan
Facing Challenges adalah tema utama pameran seni akal-akalan yang diadakan di Galeri ArtSociates Bandung dari 12 Juni hingga 24 Juli 2026. Konsep ini mengeksplorasi bagaimana seniman dari Indonesia dan negara-negara tetangga menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari melalui inovasi kreatif. “Akal-akalan” dalam konteks seni bukan hanya sekadar kelicikan, tetapi merupakan strategi adaptasi yang memadukan kecerdasan praktis, ilmu pengetahuan, dan kejelian memanfaatkan sumber daya terbatas. Pameran ini menghadirkan karya dari berbagai medium, seperti instalasi, video, kerajinan, mekanik, serta transformasi suara, yang menggambarkan kehidupan kontemporer secara mendalam.
Kurasi yang Menyelaraskan Budaya dan Teknologi
Dibawah kurasi oleh Gunalan Nadarajan dan Roopesh Sitharan, pameran ini menjadi wadah untuk menggambarkan bagaimana seni bisa menjadi alat menghadapi tantangan melalui keterampilan teknis dan imajinasi. “Akal-akalan” di sini merujuk pada upaya menciptakan solusi inovatif, baik dalam bentuk seni maupun kehidupan sosial. Tim kurator menyatakan, “Akal-akalan adalah cara untuk memecahkan masalah dan membangun kehidupan yang lebih baik, dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada.”
Karya Seniman Indonesia dan Tetangga
Dalam pameran ini, seniman Indonesia seperti Abshar Plastiza, Jompet Kuswidananto, dan Mira Rizki Kurnia menampilkan karya yang menggambarkan peran seni dalam menghadapi tantangan lingkungan dan sosial. Abshar Plastiza, misalnya, menggunakan kolom dan sampel air dari Waduk Saguling dalam karya *Stirena*, menunjukkan bagaimana mikroorganisme bisa bertahan di lingkungan tercemar. Jompet Kuswidananto, dengan instalasi *Don’t Let the Song Play*, menjelaskan jejak jejak kecil dari objek sejarah, sementara Mira Rizki Kurnia memilih suara sebagai media untuk menyampaikan pesan tentang perubahan iklim.
Seniman dari Malaysia, Fendi Mazalan, Haris Abadi, dan Hoo Fan Chon, juga turut menghadirkan karya yang memadukan teknologi dengan budaya lokal. Fendi Mazalan mengubah hasil cetak 3D menjadi lagu kebangsaan dalam *Negaraku*, menggambarkan bagaimana industri bisa menjadi simbol identitas nasional. Haris Abadi, seorang seniman muda, menyoroti dampak kehidupan digital dalam karyanya, menantang audiens untuk berpikir kritis tentang ketergantungan pada teknologi.
Eksperimen Seni yang Menginspirasi
Kurasi pameran ini memastikan bahwa setiap karya memiliki pertanyaan filosofis, seperti “Akal-akalan” sebagai respons terhadap tantangan yang dihadapi masyarakat modern. Karya dari Singapura, seperti *AI Race* oleh Margaret Tan dan Frank Liaw, mengkritik sistem pengenalan wajah berbasis algoritma, menyoroti bagaimana kecerdasan buatan mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia digital.
Seniman dari Vietnam, Giang Nguyen Hoang, menampilkan video *Human Learning* yang menantang konsep robotik, menggambarkan adaptasi manusia terhadap teknologi. Sementara itu, Witaya Junma dari Thailand mengeksplorasi siklus kehidupan dan kehancuran melalui instalasi *Second Live*, di mana cangkir dan teko dihancurkan, lalu dibentuk kembali. Karya ini menggambarkan bagaimana seniman Asia Tenggara menggunakan bahan-bahan sehari-hari untuk menciptakan makna mendalam dalam menghadapi tantangan hidup.
Keterlibatan Budaya dalam Karya Kontemporer
Seniman Filipina, Corrine de San Jose, memadukan suara jangkrik dengan radio transistor dalam *59:59*, menciptakan pengalaman multisensorik yang memicu refleksi tentang hubungan antara alam dan teknologi. Karya ini menunjukkan bagaimana “akal-akalan” bisa menjadi alat untuk menjembatani tradisi dan inovasi. Dengan menempatkan benda-benda kecil dalam konteks yang baru, para seniman mengubah tantangan menjadi peluang untuk menciptakan sesuatu yang berarti.
Pameran ini juga menyoroti bagaimana seni bisa menjadi cermin dari masyarakat yang sedang menghadapi tantangan struktural. Misalnya, karya Abshar Plastiza yang mengeksplorasi biologis mikroorganisme menjadi simbol kehidupan di lingkungan tercemar. Sementara itu, Margaret Tan dan Frank Liaw menunjukkan bagaimana algoritma memengaruhi identitas manusia, menggambarkan tantangan kebebasan dalam dunia digital yang semakin berkembang.
Kurator berharap pameran ini mampu memicu dialog tentang bagaimana seniman Asia Tenggara menghadapi tantangan melalui kreativitas. Dengan memadukan medium seni yang beragam, pameran ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang perubahan sosial dan lingkungan. “Akal-akalan” sebagai tema menjadi jembatan antara seni dan kehidupan, menantang audiens untuk melihat masalah dari perspektif yang baru.
