Seleb

Key Discussion: Film 402 Rumah Sakit Angker Korea Angkat Ritual Jelangkung

irkan Ritual Jelangkung sebagai Identitas Budaya Key Discussion - Film 402, adaptasi dari film horor Korea "Gonjiam: Haunted Asylum," memilih ritual

Desk Seleb
Published Juni 19, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Film 402 Rumah Sakit Angker Korea Hadirkan Ritual Jelangkung sebagai Identitas Budaya

Key Discussion – Film 402, adaptasi dari film horor Korea “Gonjiam: Haunted Asylum,” memilih ritual Jelangkung sebagai bagian penting dalam alur cerita. Pilihan ini bertujuan untuk menunjukkan kekhasan budaya Indonesia dalam versi lokal dari film aslinya. Ritual Jelangkung, yang dikenal secara luas di masyarakat, dianggap sebagai elemen yang mampu menghadirkan kesan unik dan relevan bagi penonton Indonesia.

Editor’s Choice: Alasan Film Horor Tetap Menarik

Dalam proses pengembangan film, tim kreatif melalui diskusi intensif serta riset mendalam untuk memastikan elemen yang dipilih dapat menyentuh penonton. Kombinasi antara kesan menegangkan dan budaya lokal dianggap sebagai kunci sukses adaptasi ini. Pemilihan Jelangkung bukan sekadar usaha memperkaya cerita, tetapi juga untuk menciptakan pengalaman yang lebih personal bagi penonton.

Lele Laila, penulis naskah, menjelaskan bahwa penggunaan ritual tersebut bermula dari keinginan menawarkan hal baru dari versi asli. Menurutnya, adaptasi tidak cukup hanya menyalin cerita, tetapi harus memiliki identitas yang kuat. “Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda, tetapi tetap menyentuh keinginan masyarakat Indonesia yang mencari pengalaman horor,” katanya. Ia menambahkan bahwa inspirasi datang dari perbandingan antara ritual pemanggilan arwah di berbagai budaya. Dalam film Korea, anak muda mengunjungi rumah sakit angker untuk pengalaman seram. Maka, tim produksi berpikir, jika mereka datang dari Indonesia, apa yang akan dilakukan?

“Pertanyaan itu mendorong kami mencari ritual yang paling familiar di Indonesia,” ujar Lele. “Kami ingin memastikan cerita ini bisa terasa seperti kisah lokal, meskipun settingnya di Korea Selatan.”

Ritual Jelangkung, yang dipilih setelah riset, dinilai sebagai jawaban yang tepat. Lele menyebut bahwa data dan survei menunjukkan banyak orang langsung mengingat ritual ini saat membicarakan tentang pemanggilan arwah. “Jelangkung memiliki makna yang sangat melekat dalam budaya kita. Maka, kami merasa ini adalah pilihan yang paling cocok untuk menarik minat penonton,” ujarnya.

Editor’s Choice: Adaptasi Film Thailand dan Korea yang Ramai

Dalam film 402 Rumah Sakit Angker Korea, Jelangkung bukan hanya sebagai alat untuk menarik perhatian, tetapi juga sebagai jembatan antara dua budaya. “Kami ingin menggabungkan tradisi Indonesia dengan elemen thriller Korea,” kata Anggy Umbara, sutradara film tersebut. Ia menjelaskan bahwa keputusan ini dilakukan sejak awal produksi. “Ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa film ini memiliki identitas lokal, meskipun diadaptasi dari cerita Korea,” tambahnya.

“Kami tidak ingin sekadar memindahkan narasi ke lokasi baru, tetapi juga menambahkan unsur yang bisa membuat penonton merasa terhubung,” ujar Anggy. “Jelangkung adalah bagian yang bisa memberikan kesan khas Indonesia tanpa mengurangi esensi film aslinya.”

Kehadiran ritual ini juga memberikan dimensi baru dalam kisah misteri yang dihadirkan. Dalam film, sekelompok anak muda Indonesia melakukan penelusuran ke sebuah rumah sakit angker di Korea Selatan. Mereka menghadapi kejadian tak terduga yang dihubungkan dengan ritual Jelangkung. “Ini menjadi bagian yang membedakan film Indonesia dengan versi aslinya,” jelas Anggy. “Kami ingin menunjukkan bahwa adaptasi bisa lebih dari sekadar rencana produksi, tetapi juga cerita yang memiliki makna kultural.”

Proses riset yang dilakukan tim produksi memastikan ritual Jelangkung dipilih dengan tepat. Dari berbagai pilihan, Jelangkung dianggap sebagai ritual yang paling dikenal dan memiliki makna mendalam. “Banyak orang di Indonesia mengenal Jelangkung sebagai bagian dari kepercayaan lokal. Maka, ini menjadi elemen yang alami untuk diintegrasikan ke dalam alur cerita,” tutur Lele. Ia menjelaskan bahwa ritual ini dipilih karena kemampuannya menggambarkan atmosfer mistis yang khas, sekaligus menghadirkan kesan personal yang berbeda dari film asli.

Keputusan untuk menggabungkan dua budaya ini juga menghadirkan tantangan. “Kami harus memastikan bahwa ritual Jelangkung tidak hanya terasa asing, tetapi juga sesuai dengan suasana rumah sakit angker yang menegangkan,” kata Anggy. “Jelangkung menjadi bagian yang menyatukan dua dunia—pengalaman horor dari Korea dan tradisi Indonesia.”

Film 402 Rumah Sakit Angker Korea ini menampilkan kisah sekelompok anak muda yang terlibat dalam pencarian kebenaran di tempat yang dianggap angker. Ritual Jelangkung menjadi bagian kunci dalam misteri yang terjadi. “Kehadiran ritual ini memberikan kisah yang lebih menarik, karena menggabungkan elemen lokal dengan alur yang tetap mempertahankan ketegangan,” kata Anggy.

Adaptasi ini juga menunjukkan upaya menghadirkan kisah horor yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari penonton Indonesia. “Kami ingin menunjukkan bahwa horor bukan hanya tentang hantu, tetapi juga tentang perasaan takut yang muncul dari ritual-ritual yang dikenal masyarakat,” ujar Lele. “Ini adalah cara untuk menghadirkan identitas budaya Indonesia ke dalam format yang menarik.”

Dengan memilih Jelangkung, film 402 Rumah Sakit Angker Korea diharapkan bisa menjadi contoh adaptasi yang sukses. “Ini adalah tugas yang menantang, tetapi sangat berarti karena kita bisa menampilkan budaya Indonesia ke luar negeri,” kata Anggy. “Kami percaya ritual Jelangkung akan menjadi salah satu elemen yang membuat film ini berbeda dari yang lain.”

Film tersebut akan tayang di bioskop pada Kamis, 9 Juli 2026. Penonton diharapkan bisa merasakan campuran antara keseramahan horor Korea dan makna budaya Indonesia. “Kami yakin ritual Jelangkung akan menjadi daya tarik utama dalam film ini,” tutur Lele. “Ini adalah cara untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada penonton, sekaligus menghadirkan alur yang menegangkan.”

Keberhasilan adaptasi ini juga menjadi bukti bahwa film horor tetap diminati. Dengan memasukkan unsur lokal, tim produksi berharap bisa menciptakan kisah yang lebih personal dan mendalam. “Adaptasi film dari negara lain bisa menjadi kesempatan menampilkan budaya kita ke panggung internasional,” pungkas Anggy. “Jelangkung adalah salah satu langkah penting dalam usaha itu.”

Leave a Comment