Tekno

Fenomena Upwelling Terdeteksi di Perairan Selatan Indonesia

Upwelling Terdeteksi di Perairan Selatan Indonesia Fenomena Upwelling Terdeteksi di Perairan Selatan - Pertama kali terdeteksi, fenomena upwelling mulai

Desk Tekno
Published Juni 11, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Fenomena Upwelling Terdeteksi di Perairan Selatan Indonesia

Fenomena Upwelling Terdeteksi di Perairan Selatan – Pertama kali terdeteksi, fenomena upwelling mulai teramati di wilayah perairan selatan Indonesia. Dalam pernyataannya, Widodo Setiyo Pranowo, Ahli Utama di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyebutkan bahwa sinyal awal dari proses ini sudah muncul. Menurutnya, upwelling adalah fenomena yang melibatkan pengangkatan massa air bawah laut ke permukaan, yang berperan penting dalam meningkatkan produktivitas perairan dan potensi sumber daya perikanan.

Hasil kajiannya menunjukkan bahwa, berdasarkan prediksi parameter oseanografi untuk periode 1–7 Juni 2026, upwelling mulai terlihat di sejumlah daerah perairan Indonesia. Intensitasnya berada pada tingkat lemah hingga sedang, namun belum merata. Indikasi fenomena ini terdeteksi di wilayah selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, serta Laut Timor. Pada titik ini, proses upwelling masih dalam tahap awal, namun terus berkembang.

Penyebab dan Mekanisme Fenomena

Widodo menjelaskan bahwa upwelling ditandai oleh arus vertikal yang naik dari kedalaman laut ke permukaan, membawa massa air bersuhu lebih dingin. “Di dalamnya terdapat nutrien seperti fosfat, nitrat, silikat, dan besi terlarut,” katanya kepada Tempo, Rabu, 10 Juni 2026. Nutrien ini berperan krusial dalam menggerakkan siklus biologis laut, termasuk pertumbuhan fitoplankton.

Proses ini juga menyebabkan peningkatan konsentrasi klorofil di permukaan air laut, yang menjadi indikator keberadaan fitoplankton. Fitoplankton memanfaatkan nutrien tersebut untuk menghasilkan biomassa yang lebih besar. Menurut Widodo, peningkatan biomassa ini terjadi dengan bantuan energi dari sinar matahari, yang diperoleh dari fotosintesis di dalam fitoplankton.

Lebih lanjut, upwelling juga berdampak pada produksi oksigen terlarut. Proses ini memicu rantai makanan laut, di mana fitoplankton menjadi makanan untuk zooplankton. Zooplankton kemudian dikonsumsi oleh ikan kecil, dan secara bertahap menjadi bagian dari diet ikan besar. “Dunia usaha perikanan, termasuk nelayan, bisa mendapatkan manfaat pertama dari fenomena ini,” imbuhnya.

Berdasarkan data dari model global, BRIN menggunakan informasi satelit, serta pengukuran langsung di laut melalui instrumen robotic autonomous float yang tersebar di Samudra Hindia dan Pasifik. Selain itu, stasiun pasang surut regional di sepanjang pantai beberapa negara juga turut membantu memantau fenomena ini. Kombinasi data dari berbagai sumber memungkinkan prediksi yang lebih akurat tentang intensitas dan area upwelling.

Waktu dan Proyeksi Upwelling

Menurut Widodo, saat ini upwelling sudah dalam tahap awal, dan waktu terjadinya masih dalam rentang normal. Puncak fenomena biasanya terjadi pada bulan Juli hingga Agustus, namun kondisinya perlu terus diperhatikan. Hal ini karena pertumbuhan fitoplankton bisa berubah lebih cepat atau lebih luas, tergantung pada kondisi lingkungan.

El Nino menjadi faktor yang bisa memengaruhi durasi upwelling. Jika fenomena ini berlangsung lebih lama, maka upwelling mungkin berlanjut hingga September atau Oktober. Namun, Widodo juga mengingatkan bahwa terdapat risiko jika pertumbuhan fitoplankton pesat melibatkan spesies beracun. Keanekaragaman hayati laut bisa terganggu, terutama jika konsentrasi plankton beracun meningkat.

Fenomena upwelling adalah bagian dari proses alami yang penting bagi ekosistem laut. Ketika massa air dingin dari lapisan dalam naik ke permukaan, nutrien yang terbawa akan merangsang pertumbuhan fitoplankton, yang merupakan dasar rantai makanan laut. Kenaikan klorofil dan penurunan suhu permukaan laut menjadi ciri khas dari proses ini.

Kondisi Perairan Lain dan Pemantauan

Di luar wilayah selatan Indonesia, BRIN juga mengamati indikasi peningkatan produktivitas di beberapa daerah. Contohnya, Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatera hingga Laut Andaman, serta kawasan selatan Selat Makassar menuju Laut Flores. Menurut Widodo, peningkatan produktivitas di Laut Arafura diduga dipengaruhi oleh proses pencampuran air laut akibat angin dan pasang surut di wilayah dangkal.

Namun, tidak semua wilayah perairan Indonesia menunjukkan tanda-tanda upwelling yang signifikan. Wilayah seperti Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Jawa, bagian selatan Laut China Selatan, Laut Halmahera, Laut Sulawesi, serta perairan Pasifik barat di utara Papua hingga timur Filipina masih didominasi oleh air laut yang relatif hangat. Di sini, konsentrasi klorofil laut tetap rendah hingga sedang, sehingga belum terjadi perubahan signifikan.

Menurut BRIN, fenomena upwelling terdeteksi berdasarkan penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, keberadaan arus vertikal ke atas, dan kenaikan konsentrasi klorofil. Kombinasi faktor-faktor ini menunjukkan bahwa massa air kaya nutrien mulai terangkat dari lapisan dalam ke permukaan, yang kemudian terpapar sinar matahari. Proses ini memicu dinamika biologis yang bisa berdampak jangka panjang pada ekosistem laut.

Untuk memastikan kelangsungan proses ini, pemantauan terus dilakukan oleh BRIN. Dengan memahami pola upwelling, para ilmuwan dapat memberikan prediksi yang lebih tepat untuk kegiatan perikanan. Selain itu, data ini juga penting dalam merancang strategi pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Dampak positif dan negatif dari upwelling harus diimbangi dengan langkah mitigasi yang efektif.

Potensi Dampak dan Peringatan

Widodo menegaskan bahwa meski upwelling membawa manfaat bagi perikanan, ada potensi risiko yang harus diwaspadai. Jika pertumbuhan fitoplankton pesat dan melibatkan spesies beracun, maka kesehatan ikan bisa terganggu. Proses ini bisa mengubah komposisi plankton di permukaan laut, sehingga berisiko pada kehidupan ikan dan ekosistem laut secara keseluruhan.

Proses alami ini menjadi indikator penting bagi perubahan iklim dan dinamika laut. Dengan menganalisis upwelling, ilmuwan bisa memprediksi bagaimana perubahan iklim akan memengaruhi produktivitas perairan. Menurut Widodo, pengamatan terus dilakukan untuk memantau perkembangan fenomena ini, terutama di wilayah yang rentan terhadap dampak ekstrem.

Kondisi laut yang stabil merupakan kunci untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Jika upwelling berlangsung lebih intens, mungkin terjadi peningkatan populasi plankton yang tidak terkendali. Namun, jika berjalan normal, fenomena ini bisa memberikan manfaat bagi nelayan dan industri perikanan. Dengan demikian, pemantauan berkelanjutan menjadi penting untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan peluang di masa depan.

“Dunia usaha perikanan termasuk nelayan berpotensi mendapat manfaat pertama dari upwelling,”

kata Widodo. Perluasan konsentrasi klorofil dan peningkatan nutrien di permukaan laut menunjukkan adanya dinamika alami yang bisa dimanfaatkan secara optimal.

Leave a Comment