Mahasiswa Unair Atasi Limbah Nikel dengan Kulit Singkong
Isu Pencemaran Logam Berat di Kawasan Pertambangan
Special Plan – Permasalahan pencemaran logam berat Cr(VI) semakin mendesak di tengah meningkatnya intensitas aktivitas tambang nikel, yang menjadi bahan baku utama untuk produksi baterai elektronik dan kendaraan listrik. Logam berat ini dikenal sebagai salah satu polutan yang berbahaya, baik bagi kesehatan manusia maupun ekosistem. Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) mencoba menemukan solusi inovatif dengan menggabungkan sumber daya lokal dan teknologi ramah lingkungan.
Metode Adsorpsi Magnetik Berbasis Kulit Singkong
Tim peneliti yang lolos pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta ini mengusulkan pendekatan adsorpsi magnetik untuk mengatasi limbah Cr(VI) yang tercemar. Mereka memanfaatkan campuran kulit singkong, zeolit alam, dan Fe3O4 dari slag besi sebagai bahan adsorben. Metode ini dirancang untuk mengoptimalkan efisiensi penyerapan logam berat tanpa merusak lingkungan.
Kombinasi tiga bahan tersebut membentuk komposit yang memiliki kemampuan unik untuk menyerap polutan secara efektif. Zeolit alam, sebagai mineral umum digunakan dalam adsorpsi, membantu menyerap Cr(VI) dengan baik. Sementara Fe3O4 yang berasal dari limbah tambang besi memberikan sifat magnetis, sehingga memudahkan proses pemisahan dan pembersihan. Kulit singkong, yang sering dianggap sebagai limbah, diubah menjadi bahan karbon aktif yang bisa digunakan untuk menyerap berbagai jenis polutan.
Inspirasi dari Dosen dan Kolaborasi Interdisipliner
Tim peneliti yang terdiri dari lima anggota, yaitu Sulaiman Fadhli, Muhammad Haris Afta Firdaus, Ahmad Soleh, Ahmad Zaydan Taqiyuddin, dan Layla Lubna Irwandy, mendapat ide awal dari pelajaran dosen mereka, Ganden Supriyanto. Dosen tersebut menjelaskan dampak dari limbah cair tambang nikel yang mengandung Cr(VI), yang berpotensi merusak kesehatan dan lingkungan.
“Pak Ganden bercerita mengenai aktivitas penghasil limbah cair yang mengandung logam berat Cr(VI) dari tambang nikel yang mengandung racun berbahaya bagi manusia dan lingkungan,” ujar Sulaiman melalui keterangan tertulis, Selasa, 16 Juni 2026.
Sulaiman menjelaskan bahwa kulit singkong yang biasanya dibuang dalam industri olahan sering diabaikan manfaatnya. Mereka menyulapnya menjadi bahan karbon aktif yang bisa digunakan untuk menyerap berbagai polutan. “Zeolit alam merupakan mineral yang sering digunakan sebagai adsorben yang berkontribusi dalam penyerapan Cr(VI). Kemudian slag besi merupakan limbah yang mengandung Fe3O4 yang memberi sifat magnetis pada adsorben,” tambah Sulaiman.
Proses Penelitian dan Harapan untuk Implementasi
Riset ini saat ini berada dalam tahap pengujian di laboratorium. Setelah menguji adsorben di larutan Cr(VI) skala kecil, tim akan melanjutkan uji coba dengan sampel limbah asli dari tambang nikel. Tujuannya adalah memastikan apakah ada polutan lain yang dapat memengaruhi efektivitas adsorben mereka.
Sulaiman berharap inovasi ini bisa diaplikasikan secara luas untuk menangani masalah lingkungan. “Kita ingin menunjukkan bahwa limbah yang biasanya dianggap sebagai sisa bisa diubah menjadi bahan berharga yang ramah lingkungan,” katanya. Menurutnya, penggunaan kulit singkong juga mendukung beberapa tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk SDGs 6 (air bersih dan sanitasi layak), SDGs 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab), SDGs 13 (penanganan perubahan iklim), SDGs 15 (ekosistem daratan), serta SDGs 17 (kemitraan untuk mencapai tujuan).
Kontribusi Lingkungan dan Potensi Perluasan
Kulit singkong, yang merupakan limbah dari industri pengolahan singkong, memiliki keuntungan tambahan karena mudah ditemukan dan ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan bahan ini, tim Unair mengusahakan pengurangan limbah organik sekaligus mengatasi polusi logam berat. Selain itu, kombinasi bahan adsorben ini juga lebih ekonomis dibandingkan metode konvensional yang sering memakan biaya tinggi.
Metode ini berpotensi diterapkan di berbagai industri yang menghasilkan limbah nikel, seperti pabrik baterai dan tambang. Sulaiman menjelaskan bahwa penelitian ini bisa menjadi langkah awal untuk membangun kemitraan antar sektor, seperti antara industri pertambangan dan pengolahan makanan. “Dengan memanfaatkan limbah dari industri satu dan dua, kita bisa menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan,” tegasnya.
Prospek Aplikasi dan Tantangan di Depan
Selain keuntungan ekonomis dan lingkungan, Sulaiman menyebutkan bahwa metode ini juga memiliki potensi dalam mempercepat proses pemurnian air. “Limbah Cr(VI) bisa dihilangkan secara efisien dalam waktu singkat, sehingga cocok untuk diaplikasikan di daerah-daerah yang rentan terhadap polusi,” tambahnya. Ia juga menyoroti pentingnya edukasi masyarakat dalam pengelolaan limbah industri.
Meski demikian, tantangan masih ada. Tim perlu memastikan bahwa komposit adsorben ini stabil dalam kondisi lingkungan berubah dan efektif dalam skala besar. Selain itu, pengembangan teknologi ini memerlukan kerja sama antar lembaga, termasuk pemerintah, perusahaan tambang, dan peneliti dari bidang lain. “Kita perlu kolaborasi untuk memastikan solusi ini bisa diproduksi secara massal,” ujarnya.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Penelitian ini menunjukkan bagaimana kreativitas mahasiswa bisa menjadi penggerak perubahan dalam menangani isu lingkungan. Dengan memadukan ilmu pengetahuan dan sumber daya lokal, mereka menciptakan inovasi yang ramah ekologi dan ekonomis. Sulaiman berharap, setelah uji coba lanjutan, metode ini bisa direalisasikan
