Iran Tangguhkan MoU dengan AS Usai 50 Tewas dalam Serangan
Pemerintah Teheran secara resmi mengumumkan bahwa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang disepakati bersama Washington telah

Iran Menggantung Kesepakatan dengan Amerika Serikat Pasca Serangan yang Menewaskan 50 Warga
Tempatdonasi.com – Pemerintah Teheran secara resmi mengumumkan bahwa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang disepakati bersama Washington telah ditangguhkan pelaksanaannya. Keputusan ini diambil menyusul serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat ke berbagai wilayah di Iran. Hingga saat ini, pihak berwenang Iran telah mencatat sedikitnya 50 korban jiwa serta lebih dari 500 orang terluka sejak dimulainya operasi militer pada tanggal 6 Juli lalu.
Pengumuman Resmi dan Dampak Serangan
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh jaringan berita Al Jazeera, Kementerian Kesehatan Iran pada hari Sabtu, 18 Juli 2026, resmi merilis data korban tersebut. Pengumuman ini dilakukan beberapa jam setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau CENTCOM melaksanakan gelombang serangan udara untuk malam ketujuh secara berturut-turut. Target yang diserang mencakup berbagai lokasi strategis di dalam negeri Iran.
Selain menargetkan fasilitas militer, serangan tersebut juga menghantam infrastruktur sipil yang vital. Salah satu dampak paling signifikan adalah kerusakan pada fasilitas desalinasi air. Kerusakan ini menyebabkan sekitar 10.000 warga setempat kehilangan akses terhadap sumber air bersih mereka. Kondisi ini memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah yang terdampak.
Kesepakatan Islamabad yang Dilanggar
Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melanggar seluruh komitmen yang tercantum dalam MoU Islamabad. Kesepakatan ini ditandatangani oleh kedua negara pada bulan sebelumnya. Dalam pernyataannya, Gharibabadi menekankan bahwa Washington tidak hanya melanggar tetapi juga secara efektif menangguhkan seluruh kewajiban mereka dalam kerangka MoU tersebut.
“Amerika Serikat telah melanggar dan menangguhkan seluruh komitmennya dalam kerangka MoU Islamabad,” kata Gharibabadi pada Sabtu, 18 Juli.
Merespons tindakan tersebut, Iran juga memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan seluruh kewajibannya dalam kesepakatan yang sama. Gharibabadi menjelaskan bahwa saat ini prioritas utama negara adalah mempertahankan kedaulatan dan keamanan wilayahnya.
“Sebagai balasannya, kami juga menangguhkan seluruh komitmen kami dan pelaksanaan kesepakatan itu. Saat ini kami sedang fokus mempertahankan negara,” ujarnya. Gharibabadi diketahui turut terlibat dalam perundingan teknis mengenai MoU tersebut pada awal Juli.
Tuduhan dan Respons dari Berbagai Pihak
Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menuduh Washington telah melanggar setiap aspek MoU dalam sepekan terakhir. Ia menegaskan bahwa Iran tidak menghendaki perang dan hanya mempertahankan diri dalam konflik yang disebutnya sebagai perang yang dipaksakan oleh pihak lain.
Mohammad Reza Aref, Wakil Presiden Pertama Iran, juga memberikan penilaian kritis terhadap tindakan Amerika Serikat. Menurut Aref, serangan udara justru dilancarkan bahkan sebelum MoU benar-benar mulai dijalankan secara penuh. Serangan tersebut dilakukan meskipun dalam kesepakatan tersebut Iran diberi tanggung jawab untuk mengelola lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Kedua negara kini saling menuduh telah melanggar isi MoU, terutama Pasal 5 yang menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam KTT NATO di Ankara sekitar 10 hari lalu menyatakan MoU yang diteken pada pertengahan Juni telah “berakhir” setelah Iran menyerang kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.
Eskalasi Konflik dan Serangan Balasan
Setelah Trump menyatakan MoU berakhir, Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan mencabut pengecualian sanksi bagi ekspor minyak Iran. Konflik di Selat Hormuz terus meningkat dengan intensitas yang semakin tinggi. Stasiun pemompaan air laut dan transformator listrik di fasilitas desalinasi Bunji di Jask, Iran selatan, hancur akibat serangan terbaru Amerika Serikat.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat. Kuwait menutup wilayah udaranya setelah dua fasilitas listrik dan desalinasi air menjadi sasaran serangan. Sirene serangan udara juga kembali berbunyi di Bahrain, sedangkan otoritas Yordania menyatakan berhasil mencegat 10 rudal balistik Iran.
Sementara itu, menurut laporan Anadolu, Amerika Serikat kembali menyerang wilayah Sirik dan Hajiabad di Provinsi Hormozgan pada Ahad dini hari, 19 Juli. CENTCOM menyatakan serangan terbaru dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump. Dalam pernyataan yang diunggah di X, militer Amerika menyebut operasi tersebut bertujuan “mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz” serta “menghukum pasukan Garda Revolusi Iran yang menyerang personel militer Amerika di Yordania.”
Pilihan Editor: Iran Klaim Serang Fasilitas Militer AS di Kuwait dan Bahrain
