Skip to content
Dunia

JD Vance: Jeffrey Epstein Punya Hubungan dengan Kubu Israel

Andi Permata - tempatdonasi.com 3 mins read

Vance Ungkap Koneksi Epstein dengan Jaringan Intelijen Israel dan Amerika JD Vance - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyampaikan pernyataan penting

JD Vance: Jeffrey Epstein Punya Hubungan dengan Kubu Israel

Vance Ungkap Koneksi Epstein dengan Jaringan Intelijen Israel dan Amerika

Tempatdonasi.com – Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyampaikan pernyataan penting pada hari Rabu, 15 Juli 2026, yang menyoroti keterkaitan mendiang Jeffrey Epstein dengan berbagai lapisan kekuasaan. Menurut Vance, Epstein tidak hanya berinteraksi dengan kalangan elit Amerika, tetapi juga memiliki ikatan kuat dengan elemen-elemen deep state Israel serta tingkat tertinggi lembaga intelijen di kedua negara tersebut.

Pernyataan ini disampaikan saat Vance menjadi tamu dalam podcast populer “The Joe Rogan Experience”. Ketika ditanya mengenai persepsi publik yang menghubungkan Epstein dengan Mossad, badan intelijen Israel, Vance memberikan respons yang cukup komprehensif. Ia menegaskan bahwa keterkaitan Epstein tidak terbatas pada satu organisasi saja.

“Ya, Mossad atau CIA atau deep state lainnya, baik di Amerika, Israel, maupun negara lain,” jawab Vance.

Vance lebih lanjut menjelaskan bahwa Epstein memiliki akses ke tingkat tertinggi dalam struktur intelijen kedua negara. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa Epstein mungkin terlibat dalam jaringan informasi dan politik yang lebih luas daripada yang selama ini diketahui publik.

Koneksi dengan Netanyahu dan Deep State Israel

Salah satu aspek menarik dari klaim Vance adalah keterkaitan Epstein dengan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Vance menyebutkan bahwa Epstein tampaknya terhubung dengan elemen-elemen deep state Israel yang cenderung berhaluan kiri-tengah, bukan kubu kanan-tengah yang lebih dominan dalam politik Israel.

“Dia jelas memiliki hubungan dengan tingkat atas, tingkat tertinggi intelijen Amerika. Dia jelas memiliki hubungan dengan tingkat tertinggi intelijen Israel,” ujar Vance seperti dilansir Anadolu.

Vance menambahkan bahwa meskipun Netanyahu saat ini tidak terlalu populer di Amerika Serikat, keterkaitan Epstein dengan Israel tetap signifikan. Di sisi lain, Epstein dikenal memiliki jaringan pertemanan yang luas di Amerika, mencakup kedua partai politik utama, yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat.

Kritik Terhadap Penanganan Kasus oleh Pemerintahan Trump

Dalam kesempatan yang sama, Vance juga mengakui bahwa pemerintahan Trump kurang tepat dalam merespons kasus Epstein. Ia secara terbuka mengakui kesalahan dalam komunikasi publik terkait rilis dokumen-dokumen penting.

“Jika orang ingin mengatakan kami salah menangani masalah rilis dokumen Epstein, ya kami memang bersalah. Kami memang salah menanganinya, terutama terkait komunikasinya,” kata Vance.

Vance menjelaskan bahwa seharusnya dokumen-dokumen tersebut dirilis lebih cepat sejak awal. Meskipun proses peninjauan materi dan penyuntingan bagian tertentu diperlukan untuk melindungi korban, Vance berpendapat bahwa keterlambatan tersebut tidak perlu terjadi.

“Kami benar-benar kacau dalam hal komunikasi mengenai berkas-berkas Epstein,” ujarnya. “Menurut saya, seharusnya kami langsung merilis semuanya sejak awal. Tentu saja butuh waktu untuk meninjau materi tersebut, menemukannya, dan menyunting bagian-bagian tertentu demi melindungi korban dan sebagainya. Namun, seharusnya kami melakukannya secepat mungkin.”

Rilis Dokumen dan Latar Belakang Kasus Epstein

Baru-baru ini, Departemen Kehakiman Amerika Serikat melakukan langkah besar dalam transparansi kasus Epstein. Berdasarkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein yang disahkan pada November tahun lalu, pemerintah telah merilis lebih dari 3 juta halaman dokumen, 2.000 video, dan 180.000 gambar pada bulan Januari.

Jeffrey Epstein ditemukan tewas di sel penjaranya di New York City pada tahun 2019. Saat itu, ia sedang menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Sebelumnya, pada tahun 2008, Epstein telah mengaku bersalah di pengadilan negara bagian Florida dan divonis bersalah karena mempekerjakan anak di bawah umur untuk prostitusi.

Kritikus menyebut vonis yang dijatuhkan kepada Epstein sebagai “kesepakatan istimewa” atau sweetheart deal, mengingat beratnya tuduhan yang dihadapi. Para korban Epstein menuding bahwa ia telah menjalankan jaringan perdagangan seks berskala besar yang dimanfaatkan oleh kalangan elite kaya dan politisi dari berbagai negara.

Klaim Vance ini menambah dimensi baru dalam pemahaman publik tentang lingkaran kekuasaan yang mungkin melibatkan Epstein selama bertahun-tahun. Keterkaitan dengan deep state Israel dan Amerika membuka kemungkinan adanya jaringan pengaruh yang lebih kompleks daripada yang selama ini terungkap.

Pilihan Editor: Bill Gates Akui Epstein Gunakan Perselingkuhan untuk Memeras

Join the discussion