Skip to content
Dunia

Iran-Oman Gelar Pertemuan Perdana Komite Selat Hormuz

Tegar Utami - tempatdonasi.com 4 mins read

Iran dan Oman Perkenalkan Komite Selat Hormuz, Masa Depan Pelayaran Diperdebatkan Key Discussion - Dunia kembali bergetar setelah Iran dan Oman memulai

Iran-Oman Gelar Pertemuan Perdana Komite Selat Hormuz

Iran dan Oman Perkenalkan Komite Selat Hormuz, Masa Depan Pelayaran Diperdebatkan

Tempatdonasi.com – Dunia kembali bergetar setelah Iran dan Oman memulai pertemuan perdana Komite Bersama untuk Selat Hormuz di Muscat, seperti diumumkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, pada Senin, 29 Juni 2026. Pertemuan ini menjadi titik penting dalam upaya mengatur pengelolaan jalur laut strategis yang menjadi pintu masuk utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Namun, situasi pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya stabil setelah serangkaian kejadian konflik yang mengguncang hubungan antara Iran dan negara-negara pesisir.

Komite untuk Masa Depan Pelayaran

Pertemuan pertama Komite Bersama Hormuz di Muscat berlangsung dalam suasana yang berbeda dibandingkan kesepakatan sebelumnya. Menurut pernyataan Gharibabadi, para peserta mengupas isu-isu terkini, termasuk mekanisme pengelolaan selat tersebut. “Kami saling bertukar pandangan mengenai bagaimana jalur laut ini bisa dikelola secara berkelanjutan, terutama dalam konteks Pasal 5 Memorandum Islamabad,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran dan Oman sedang membangun kerangka kerja baru untuk menjaga keamanan dan stabilitas selat yang sering dijadikan target serangan militer.

“Dalam kunjungan saya ke Muscat, pertemuan perdana komite bersama untuk Selat Hormuz telah berlangsung. Kami membahas isu-isu terkini terkait jalur laut ini, serta perencanaan pengelolaan di masa depan,” kata Gharibabadi.

Konteks Tegangan yang Berkelanjutan

Sebelumnya, Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz telah terbuka untuk pelayaran bebas selama beberapa tahun. Namun, situasi mulai berubah setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang fasilitas militer Iran. “Situasi di jalur laut tersebut tidak akan sama lagi setelah aksi militer AS dan Israel,” ujarnya. Otoritas Iran menekankan bahwa mereka berencana mengenalkan sistem biaya layanan untuk keamanan kapal yang melewati selat tersebut, meski bukan dalam bentuk tarif resmi.

“Kami mengenalkan mekanisme biaya layanan untuk memastikan keamanan pelayaran, meski ini tidak dianggap sebagai pengenaan pajak,” tambah Gharibabadi.

Kontrol Teheran atas Selat Hormuz telah menimbulkan ketegangan yang memuncak kembali. Insiden terbaru terjadi pada Ahad, 28 Juni 2026, ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) mengungkapkan serangan terhadap 10 target militer Iran sebagai respons atas “agresi berkelanjutan Iran terhadap pelayaran komersial.” Serangan ini ditembakkan dari udara dan berdampak langsung pada jalur distribusi energi global.

Reaksi Iran dan Pendekatan Diplomatik

Serangan terhadap kapal tanker minyak mentah Panama, M/T Kiku, yang diserang oleh pesawat nirawak Iran pada Sabtu, 27 Juni 2026, menjadi pemicu utama. Iran menyatakan telah melakukan balasan terhadap pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Targetnya termasuk Armada Kelima AS di Pelabuhan Salman, Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Meski tindakan tersebut dianggap sebagai upaya mengamankan jalur laut, Kuwait dan Bahrain mengecam serangan Iran sebagai gangguan terhadap kestabilan regional.

“Kami menargetkan markas militer AS sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz,” tulis Gharibabadi dalam media sosial X.

Menlu Iran juga memberi respons terhadap laporan media AS yang menyebutkan kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk menghentikan serangan. “Meskipun konsultasi dengan Qatar berjalan normal, laporan dari sejumlah media mengenai pertemuan teknis di Doha belum terkonfirmasi,” jelasnya. Gharibabadi menegaskan bahwa putaran pertama pembicaraan teknis akan diadakan setelah semua persyaratan terpenuhi, serta jadwal dan lokasi disepakati oleh kedua belah pihak.

Kompromi dan Tantangan Diplomasi

Presiden AS Donald Trump memberikan respons singkat beberapa jam setelah pertemuan di Muscat. Melalui platform Truth Social, ia menyatakan bahwa Iran “telah meminta pertemuan” dan pertemuan “akan berlangsung besok di Doha.” Pernyataan Trump bertolak belakang dengan sikap Teheran yang sebelumnya menyangkal adanya kesepakatan untuk menghentikan konflik. “Pertemuan itu akan tetap berlangsung, meski Iran memilih untuk menyembunyikan kebijakan mereka,” kata Trump dengan huruf kapital.

“Kami mengambil langkah tegas untuk melindungi keamanan pelayaran, tetapi ini tidak berarti kita menyerah pada tekanan eksternal,” tegas Gharibabadi.

Komite Selat Hormuz terbentuk sebagai bagian dari upaya mengatasi ketegangan yang terus memanas. Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengumumkan pada 23 Juni 2026 bahwa dua negara sepakat membentuk komite tersebut untuk memfasilitasi dialog antara kedua pihak. “Kami berkomitmen pada dialog yang terbuka, meski situasi di Selat Hormuz belum sepenuhnya aman,” katanya. Gharibabadi menegaskan bahwa komite ini akan menjadi fondasi penting dalam menyeimbangkan kepentingan kedua negara.

Keberlanjutan Perjanjian dan Aksi Militer

Memorandum perdamaian Iran dengan AS, yang ditandatangani pada 18 Juni 2026, memberi ruang bagi komitmen Iran untuk tidak memungut biaya pelayaran selama 60 hari. Namun, otoritas Iran mengungkapkan bahwa mereka berencana menetapkan tarif layanan untuk keamanan jalur laut, yang dianggap sebagai langkah berkelanjutan. “Kami tidak ingin melibatkan kapal-kapal dalam konflik, tapi ini adalah bentuk perlindungan terhadap keamanan negara,” kata Gharibabadi.

“Kami percaya bahwa pelayaran bebas harus tetap dipertahankan, tetapi dengan tata kelola yang lebih ketat untuk mencegah gangguan serangan militer,” tambahnya.

Menurut hukum internasional, Selat Hormuz dianggap sebagai jalur laut yang memiliki hak kedaulatan bersama oleh Iran dan Oman. Namun, ketegangan terbaru membuat kedua pihak harus kembali menegaskan posisi mereka. “Meskipun perjanjian yang ada berlaku, situasi di Selat Hormuz masih berpotensi memicu kekacauan,” tulis Gharibabadi dalam postingannya. Serangan terhadap kapal tanker Kiku, serta tindakan balasan Iran, menjadi contoh nyata dari perdebatan mengenai tanggung jawab pengelolaan dan perlindungan jalur laut ini.

Keterlibatan Qatar dan Respon Global

Pertemuan teknis antara Iran dan AS yang dijadwalkan di Qatar pada 30 Juni 2026 menambah

Join the discussion