Skip to content
Dunia

Iran: Dialog dengan AS di Swiss Lanjut meski Diancam Trump

Joko Purnama - tempatdonasi.com 4 mins read

Iran Terus Lanjutkan Perundingan dengan AS di Swiss Meski Terima Ancaman Trump Topics Covered - Setelah sejumlah hari yang penuh tensi, pihak Iran menyatakan

Iran: Dialog dengan AS di Swiss Lanjut meski Diancam Trump

Iran Terus Lanjutkan Perundingan dengan AS di Swiss Meski Terima Ancaman Trump

Tempatdonasi.com – Setelah sejumlah hari yang penuh tensi, pihak Iran menyatakan bahwa proses negosiasi dengan Amerika Serikat di Swiss tetap berjalan lancar meskipun menghadapi ancaman dari mantan Presiden Donald Trump. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, pada Senin 22 Juni 2026. Menurut Baghaei, kehadiran delegasi Iran tidak terganggu oleh pernyataan Trump yang menegaskan keinginan untuk menyerang negara itu jika tidak ada kesepakatan politik yang muncul dari sengketa di Timur Tengah.

Konteks Perundingan di Burgenstock

Perundingan teknis antara Iran dan AS berlangsung di resor Burgenstock, Swiss, pada Ahad 21 Juni 2026. Kehadiran Pakistan dan Qatar sebagai mediator menjadi bagian penting dari upaya mencapai kesepakatan yang selama ini terus mengalami hambatan. Dalam konteks ini, para peserta diskusi menyatakan bahwa dialog tetap terjaga meskipun ada tekanan dari luar.

Pembicaraan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk meredam konflik yang telah berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Dalam penjelasannya, Baghaei menekankan bahwa situasi terkini memperlihatkan upaya Iran untuk tetap fokus pada tujuan utama, yaitu mencapai perdamaian yang diharapkan sejak perjanjian nuklir di tahun 2015. Meskipun ancaman Trump menggema di berbagai media, pihak Iran menyatakan bahwa tidak akan mengalami gangguan besar dalam kemajuan perundingan.

Tragedi Ancaman dari Trump

Di hari yang sama dengan pembicaraan di Swiss, Trump mengeluarkan pernyataan tajam melalui akun Truth Socialnya. Ia mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran jika Teheran tidak memaksa sekutunya di Libanon, yakni Hizbollah, untuk berhenti memicu konflik. Ancaman ini langsung menimbulkan reaksi tajam dari delegasi Iran yang menyatakan bahwa mereka akan mengakhiri pertemuan empat pihak.

“Namun, para perantara terus bertukar pernyataan,” kata Baghaei. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada keputusan untuk berhenti, negosiasi tidak sepenuhnya terhenti. Kedua belah pihak tetap bersikap terbuka dan menunggu respons dari pihak AS.

Sebelumnya, sejumlah media melaporkan bahwa delegasi Iran meninggalkan ruangan diskusi karena menganggap ancaman Trump sebagai tanda kegagalan perundingan. Baghaei menyatakan bahwa keputusan untuk keluar dari pertemuan dibuat setelah media mengabarkan ancaman tersebut pada jam 16.30 waktu setempat, sekitar pukul 20.00 WIB. Ia menambahkan bahwa para delegasi akan kembali ke meja negosiasi hanya jika Trump mengungkapkan rasa penyesalan atas ucapan yang dilontarkannya.

Pernyataan Baghaei berbeda dengan ucapan Wakil Presiden AS JD Vance yang mengatakan bahwa delegasi Iran tidak meninggalkan perundingan. Vance menegaskan bahwa diskusi tetap berjalan dengan baik, meskipun ada tekanan dari luar. Ini menimbulkan polemik karena perbedaan antara pernyataan pribadi dan publik dari pihak AS. Baghaei mengakui bahwa ancaman Trump memang memicu reaksi, tetapi tidak sampai menghentikan seluruh proses negosiasi.

Langkah Penyelesaian Konflik Militer

Dalam rangka memperkuat kepercayaan antara kedua negara, Iran dan AS telah menandatangani memorandum secara jarak jauh pada malam 18 Juni 2026. Dokumen ini menandai akhir dari konflik militer yang berlangsung sejak 28 Februari lalu, ketika operasi udara AS di wilayah Iran memicu reaksi tajam dari pemerintah Teheran. Pihak Iran mengharapkan bahwa penandatanganan ini akan menjadi titik balik dalam hubungan bilateral yang kian memburuk sejak Trump menjabat sebagai presiden.

Memo tersebut juga menetapkan tenggat waktu bagi AS untuk mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran, yang telah menghambat operasional pelayaran nasional. Di sisi lain, Iran diminta untuk menjamin kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, jalur laut vital yang sering menjadi target serangan dari kelompok-kelompok militer di wilayah itu. Penyelesaian ini dilihat sebagai langkah signifikan untuk mengurangi risiko eskalasi konflik, terutama di tengah tekanan dari Trump yang berulang kali memicu ketegangan.

Perundingan ini sekaligus menjadi contoh keberhasilan dalam membawa pemimpin kawasan Timur Tengah ke meja dialog. Meski ada ancaman dan perbedaan pendapat, kedua belah pihak tetap berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan konsesi. Baghaei mengatakan bahwa pengakuan terhadap keinginan AS untuk mengakhiri blokade dan memperbaiki hubungan akan menjadi fondasi yang kuat untuk perdamaian jangka panjang.

Kesiapan Iran dan AS dalam Masa Pemulihan

Dalam wawancara dengan kantor berita Iran, IRNA, Baghaei mengungkapkan bahwa negosiasi tersebut tidak hanya berfokus pada ancaman Trump, tetapi juga pada strategi jangka panjang untuk memperkuat kemitraan antara Iran dan AS. Ia menekankan bahwa pihak Iran tidak ingin memperpanjang ketegangan yang bisa merugikan kepentingan ekonomi dan keamanan regional.

Pembicaraan di Burgenstock justru dianggap sebagai bukti bahwa hubungan kedua negara belum sepenuhnya rusak. Meski ada ancaman militer, keberhasilan menyelesaikan konflik militer dan mengakhiri blokade memberikan ruang bagi kepercayaan yang bisa terbangun kembali. Baghaei menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri pertemuan empat pihak bukanlah keputusan akhir, melainkan langkah sementara untuk menunggu respons dari Trump.

Pernyataan Trump yang memicu reaksi delegasi Iran sebenarnya menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara pihak mediator dan kedua negara. Meskipun Ancaman Trump menimbulkan tekanan, keberhasilan menyelesaikan konflik militer tetap menjadi fokus utama. Baghaei menegaskan bahwa penyelesaian ini akan memperkuat kemampuan Iran dalam menjaga kepentingan nasionalnya di tengah dinamika politik internasional yang terus berubah.

Dengan menyelesaikan perjanjian jarak jauh pada 18 Juni, Iran dan AS menunjukkan keinginan untuk memperbaiki hubungan yang sempat rusak. Memang, perjalanan menuju perdamaian tidak selalu mulus, tetapi keberhasilan negosiasi di Swiss menjadi bukti bahwa kedua pihak masih memiliki kemampuan untuk menyelesaikan sengketa. Ancaman Trump memang menjadi bumerang yang menggoyahkan, tetapi tidak sampai menghentikan seluruh upaya diplomatik.

Join the discussion