Lantunan Doa Warnai Hari Kedua Rangkaian Pemakaman Khamenei
amenei di Teheran What Happened During - Pemakaman Ali Khamenei, mantan Pemimpin Tertinggi Iran yang meninggal pada Ahad 5 Juli 2026, terus berlangsung dengan

Hari Kedua Upacara Pemakaman Ali Khamenei di Teheran
Tempatdonasi.com – Pemakaman Ali Khamenei, mantan Pemimpin Tertinggi Iran yang meninggal pada Ahad 5 Juli 2026, terus berlangsung dengan kehadiran massa yang membludak di Teheran. Hari tersebut menjadi hari kedua dari rangkaian seremoni pemakaman panjang, yang dihadiri oleh ribuan pengunjung untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh yang telah memimpin negara selama lebih dari tiga dekade. Prosesi ini menjadi momen penting bagi Republik Islam, dengan perayaan yang dipadu oleh rasa sakit dan semangat perlawanan, menurut laporan The Japan Times.
Doa sebagai Bagian dari Upacara
Doa-doa yang dipanjatkan di hadapan peti jenazah Khamenei akan dilakukan pada pukul 08.00 pagi, dengan pihak berwenang belum mengungkap siapa yang akan memimpin acara tersebut. Mossadegh, tokoh agama yang bertugas mengelola upacara, menyatakan bahwa rite ini bertujuan untuk menyembahyangkan jenazah sang pemimpin yang dianggap sebagai syuhada. Seruan “mati untuk Amerika” dan “balas dendam, balas dendam” terdengar mengisi udara di lokasi pemakaman, sementara para pelayat memukul dada mereka sebagai tanda duka.
Kehadiran Massa dan Tanda Kehilangan
Kehadiran ribuan warga Teheran menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam atas kepergian Khamenei. Seorang ulama, Mohammad Mirsalehi, berusia 38 tahun, mengungkapkan bahwa bagi masyarakat Iran, sang pemimpin adalah seperti ayah mereka. “Dengan kepergiannya, kami semuanya kini menjadi yatim piatu,” katanya dalam pidato yang menyentuh. Tampilan emosional ini terlihat jelas di antara khalayak yang datang dari berbagai penjuru kota, dengan bendera merah darah yang dikibarkan sebagai simbol pembalasan dan keadilan.
Keluarga dan Prosesi Selanjutnya
Di bagian depan panggung yang ditinggikan, peti jenazah Khamenei dan empat anggota keluarganya—termasuk cucu perempuannya yang masih bayi—ditempatkan bersama. Serangan udara yang menewaskan mereka terjadi pada 28 Februari, dalam peristiwa yang menimbulkan ketegangan antara Iran dan AS-Israel. Penerus Khamenei, Mojtaba Khamenei, belum terlihat di depan umum sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi, meski dilaporkan terluka dalam serangan tersebut.
Sebagai persiapan untuk prosesi arak-arakan melintasi ibu kota, jenazah akan dibawa keluar dari Grand Mosalla pada malam hari, tempat semayamkan jenazah sejak pemakaman diumumkan. Ahad 5 Juli ditetapkan sebagai hari libur nasional, memberikan waktu bagi rakyat Iran untuk berkumpul dan mengucapkan selamat tinggal. Pihak berwenang memperkirakan lebih dari 10 juta orang akan turut serta dalam acara ini, menurut pengumuman resmi.
Konteks Politik dan Perlawanan
Pemakaman Khamenei dianggap sebagai pesan perlawanan setelah terjadinya perang dengan AS dan Israel yang berlangsung selama lima pekan. Meski gencatan senjata telah diteken, kedua pihak tetap menyatakan kemungkinan memulai konflik kembali kapan saja. Di luar Iran, upacara ini menjadi ujian dukungan terhadap pemerintah, terutama setelah protes massal di Januari lalu yang diduga diredam dengan tindakan keras, menewaskan ribuan orang meski bukti pasti masih kurang.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan pidato pada Sabtu, menggambarkan peran Khamenei sebagai simbol kebebasan. “Umat Muslim telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan tunduk pada penindasan dan intimidasi,” tambahnya, menyalahkan Israel sebagai faktor utama ketidakstabilan di Timur Tengah. Media pemerintah mengingatkan hadirin mengenai risiko antrean di tengah kerumunan, sementara langkah-langkah pengamanan ketat diterapkan untuk menjaga keamanan selama acara.
Partisipasi Kelompok Bersenjata
Para delegasi dari kelompok-kelompok bersenjata seperti Hamas Palestina, Hizbullah Lebanon, dan Houthi Yaman turut serta dalam upacara pemakaman. Mereka hadir sebagai bentuk dukungan terhadap Iran, yang selama bertahun-tahun terus mendukung organisasi-organisasi anti-AS dan anti-Israel. Pada Sabtu, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bertemu dengan perwakilan dari kedua kelompok tersebut, sementara upacara juga dihadiri oleh anggota Jihad Islam Palestina.
Jadwal Prosesi dan Kepulangan ke Qom
Setelah prosesi Senin 6 Juli, jenazah Khamenei akan dipindahkan ke Qom, kota pusat keagamaan di Iran, pada Selasa 7 Juli. Kemudian, jenazah akan diteruskan ke Irak pada Rabu 8 Juli, sebelum akhirnya dimakamkan di Mashhad, kampung halaman Khamenei, pada Kamis 9 Juli. Prosesi ini diharapkan menjadi momen puncak perayaan, memperkuat kohesi nasional dalam menghadapi krisis politik dan militer.
Pemakaman Khamenei menggambarkan hubungan yang kompleks antara Iran dan negara-negara Barat. Meski ada kesepakatan awal dengan AS untuk gencatan senjata, kebencian terhadap kekuasaan asing tetap menggelegar di antara massa. Ucapan “balas dendam” yang bergema di lokasi acara mencerminkan semangat perjuangan yang tak mudah dipadamkan. Selain itu, upacara ini menjadi pertunjukan kekuatan spiritual dan politik, menunjukkan bahwa kepergian Khamenei tidak hanya mengubah pemandangan dalam negeri, tetapi juga memengaruhi persepsi internasional terhadap Iran.
Peran Ali Khamenei dalam Sejarah Iran
Sejak 1989, Ali Khamenei menjadi roh penggerak bagi kebijakan luar negeri Iran, yang selama ini bersifat konfrontatif terhadap Barat. Kehadiran Massa yang setia pada rangkaian pemakaman mengingatkan pada jasa-jasa sang pemimpin dalam mengarahkan negara menuju kekuatan politik dan militer. Di sisi lain, prosesi ini juga menjadi cerminan dari perang yang berkepanjangan, di mana Iran dan sekutunya bertempur melawan kekuatan-kekuatan asing, termasuk AS dan Israel.
Dalam konteks global, pemakaman Khamenei dipandang sebagai perayaan bagi nilai-nilai kebebasan dan anti-imperialisme. Para pelayat yang mengenakan pakaian hitam serta membawa bendera merah darah menjadi simbol keteguhan. Selama lima pekan perang, kota-kota di Timur Tengah mengalami kerusakan, tetapi kehadiran rakyat Iran yang memadati Teheran menunjukkan keberlanjutan semangat perlawanan mereka. Meski ada harapan gencatan senjata, bencana dan ketegangan masih menjadi perhatian utama, terutama bagi negara-negara yang terlibat dalam konflik tersebut.
Khamenei, yang menghabiskan usia 86 tahun, meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah Republik Islam. Kepergiannya menjadi momen refleksi, terutama bagi generasi muda yang sekarang menempati posisi penting. Pemakaman ini bukan hanya sebuah acara keagamaan, tetapi juga upacara nasional yang menggabungkan rasa duka, kebanggaan, dan tekad untuk melanjutkan perjuangan. Dengan bantuan petugas keamanan dan pengelolaan acara yang rapi, prosesi ini berhasil memperlihatkan kemampuan Iran dalam menyatukan rakyatnya dalam satu tujuan.
