Gaya

Nyeri Lutut tak Kunjung Hilang – Kapan Harus Operasi?

asi? Kasus Vera, Atlet Renang yang Mengalami Gangguan Sendi Nyeri Lutut tak Kunjung Hilang - Vera, seorang lansia berusia 66 tahun, baru-baru ini memutuskan

Desk Gaya
Published Juni 12, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Nyeri Lutut tak Kunjung Hilang, Kapan Harus Operasi?

Kasus Vera, Atlet Renang yang Mengalami Gangguan Sendi

Nyeri Lutut tak Kunjung Hilang – Vera, seorang lansia berusia 66 tahun, baru-baru ini memutuskan untuk menjalani operasi pada kedua lututnya. Awalnya, nyeri yang mengganggunya bermula dari lutut kanan, kemudian berpindah ke lutut kiri. Kondisi ini menyebabkan keterbatasan dalam kegiatan sehari-hari, termasuk kesulitan berpindah dari posisi duduk ke berdiri. Tidak hanya itu, nyeri juga memengaruhi kualitas tidurnya, dengan lutut yang sering terasa kaku dan sakit.

“Ketika kontrol terakhir oleh Prof Lubis, dia menyarankan operasi pada lutut kanan terlebih dahulu, lalu lutut kiri dua bulan kemudian. Namun, setelah memeriksa kembali, ia menyetujui untuk melakukan operasi pada kedua lutut secara bersamaan,” ujar Vera, yang kini masih aktif mengikuti lomba renang untuk lansia.

Sebelum memilih operasi, Vera telah mencoba berbagai metode pengobatan. Termasuk suntikan pada lutut, yang ia terima secara berkala, mulai dari dua tahun sekali hingga setengah tahun sekali. Menurut Vera, nyeri lutut sudah menghimpit hidupnya sejak 15 tahun lalu, sehingga ia bergantung pada pengobatan yang diminumkan secara rutin.

Berkunjung ke Penang, Malaysia, Vera memperoleh informasi tentang alternatif terapi, termasuk konsultasi dengan dokter spesialis ortopedi subspesialis cedera olahraga, Andri Lubis. Setelah evaluasi, Andri menyarankan untuk mengganti lutut melalui operasi total knee replacement. Proses ini dilakukan di akhir 2025, dengan rencana untuk menyembuhkan kedua sendi secara bersamaan.

Kapan Operasi Lutut Diperlukan?

Dokter ortopedi yang memiliki pengalaman di bidang cedera olahraga, Andri Lubis, menjelaskan bahwa operasi penggantian lutut biasanya dipertimbangkan ketika kerusakan sendi mulai mengganggu kualitas hidup pasien. “Tujuan utama operasi adalah memulihkan kembali kehidupan seorang pasien, bukan sekadar menyelamatkan nyawanya,” katanya.

Andri menekankan bahwa rehabilitasi pascaoperasi sangat penting untuk memastikan pemulihan optimal. Ia menyatakan nyeri setelah operasi sering terjadi, terutama pada prosedur yang kompleks. Dengan adopsi protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS), pasien bisa lebih cepat bangkit dan kembali aktif.

Sebaliknya, dokter spesialis ortopedi subspesialis traumatologi, I Made Yudi Mahardika, mengingatkan bahwa nyeri pada tubuh harus diperhatikan sejak dini. “Nyeri adalah indikator bahwa ada perubahan di dalam tubuh, terutama ketika gejala bertahan selama satu hingga dua minggu, disertai bengkak meskipun sudah mengonsumsi obat,” tambahnya.

Yudi menjelaskan bahwa nyeri lutut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk cedera ligamen. “Fase awal pengapuran lutut terjadi karena ketidakstabilan sendi, seperti saat ligamen ACL robek tetapi tidak segera diatasi. Aktivitas berlebihan maka menurunkan stabilitas tubuh secara keseluruhan,” ujarnya.

Risiko dan Strategi Penanganan Cedera ACL

Menurut Yudi, penggantian lutut bukan solusi pertama yang harus diambil. Pasien umumnya disarankan untuk mengecek penyebab nyeri melalui pemeriksaan medis seperti x-ray dan MRI. “Diagnosis akurat menjadi kunci, karena banyak kasus nyeri lutut berakar dari cedera tertentu, termasuk ACL yang tidak teratasi,” kata Yudi.

Cedera ACL, atau ligamen anterior kruciate lutut, sering terjadi pada atlet, terutama saat bergerak dengan intensitas tinggi. Jika cedera ini tidak diperbaiki, sendi bisa menjadi tidak stabil, memicu degenerasi lebih lanjut. Yudi menyoroti bahwa penderita di bawah 65 tahun biasanya memilih metode lain, seperti fisioterapi, karena aktivitas mereka masih dinamis.

Di sisi lain, Andri Lubis menyebutkan bahwa usia pasien menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu operasi. “Implant pada lutut memiliki masa pakai yang lebih tahan lama jika digunakan oleh pasien di atas 65 tahun, karena aktivitas mereka bisa diprediksi dan diukur,” jelas Andri.

Proses Pemulihan Pascaoperasi

Menurut Andri, keberhasilan operasi tidak hanya bergantung pada teknik bedah, tetapi juga pada kolaborasi tim medis. “Kita perlu tim multidisiplin yang terdiri dari dokter anestesi, rehabilitasi medik, dan tenaga kesehatan lainnya untuk memastikan hasil optimal,” ujarnya.

Protokol ERAS, yang diterapkan di banyak rumah sakit, menjadi pendekatan modern dalam mengurangi rasa nyeri pascaoperasi. Metode ini mengombinasikan pengendalian nyeri, percepatan pemulihan, dan pengaturan aktivitas pasien secara terstruktur. “Dengan ERAS, pasien bisa berjalan lebih cepat, beraktivitas kembali, dan mengurangi risiko komplikasi,” tambah Andri.

Bagi Vera, operasi lutut bukan hanya perawatan fisik, tetapi juga memperbaiki kembali kemampuan bergerak. “Saya senang bisa kembali berenang, meskipun di bawah kondisi yang lebih ringan. Ini memberi harapan bahwa kehidupan aktif tetap bisa terjaga,” katanya.

Peran Pasien dalam Proses Pemulihan

Andri menambahkan bahwa pemulihan pascaoperasi bergantung pada keterlibatan pasien. “Dukungan dari pasien itu sendiri sangat penting, karena rehabilitasi membutuhkan konsistensi dalam menjalani terapi dan mengikuti instruksi medis,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengobatan nyeri lutut telah mengalami evolusi. Selain ERAS, ada pendekatan lain seperti penggunaan teknologi canggih dalam pembedahan dan pemantauan pasien secara real-time. “Kombinasi antara teknik bedah, pemeriksaan akurat, dan kerja sama tim menjadi aset utama untuk mengoptimalkan hasil operasi,” tutur Andri.

Vera menjelaskan bahwa proses pemulihan membutuhkan kesabaran, tetapi ia merasa nyaman dengan metode yang diterapkan. “Kini, setiap hari lebih ringan karena lutut tidak lagi sakit. Saya masih menikmati berenang, meski dengan batasan yang lebih ketat,” ujarnya.

Dengan adanya protokol seperti ERAS, harapan pasien untuk kembali beraktivitas pun lebih tinggi. Namun, penting bagi pasien untuk tidak menunda perawatan hingga nyeri menjadi kronis. “Setiap gejala harus direspons cepat, karena nyeri yang terlambat diperbaiki bisa menyebabkan kerusakan irreversibel,” kata Yudi.

Kedua dokter sepakat bahwa operasi lutut adalah pilihan terbaik ketika nyeri sudah mengganggu fungsi sendi secara signifikan. “Tujuan utama adalah memberikan kualitas hidup yang lebih baik, karena nyeri tidak lagi menjadi penghalang untuk melakukan aktivitas yang dicintai,” pungkas Andri.

Leave a Comment