Imigrasi Deportasi Buron Narkoba – Angelo Pandeli
Imigrasi Deportasi Buron Narkoba, Angelo Pandeli Imigrasi Deportasi Buron Narkoba - Badan Imigrasi mengambil tindakan deportasi terhadap Angelo Pandeli, warga

Imigrasi Deportasi Buron Narkoba, Angelo Pandeli
Tempatdonasi.com – Badan Imigrasi mengambil tindakan deportasi terhadap Angelo Pandeli, warga negara Australia yang dicari oleh Interpol dalam kasus narkotika, psikotropika, serta zat adiktif lainnya. Penangkapan terhadap Angelo terjadi pada 6 Juni 2026, dan sejumlah hari setelahnya, ia langsung dideportasi. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, saat berbicara di kantornya, Jakarta Selatan, pada Senin, 22 Juni 2026. “Sudah, dua minggu lalu kalau enggak salah,” jelas Hendarsam. Menurutnya, proses deportasi dilakukan tepat pada hari penangkapan.
Deteksi di Bali dan Rencana Perjalanan ke Mozambik
Sebelum ditangkap, Angelo Pandeli sempat terdeteksi berada di Pulau Bali. Ia berencana meninggalkan Indonesia menuju Mozambik melalui Bandara Internasional Gusti Ngurah Rai, Bali. Dalam perjalanan tersebut, ia turut naik pesawat privet CAPA JET dengan nomor penerbangan N917CJ. Buronan dalam kasus narkoba ini, bersama tiga penumpang lainnya, terlibat dalam rencana perjalanan yang mencurigakan.
Dalam penerbangan, Angelo menyamar sebagai warga negara Brasil dengan nama George Anderson Mota Correia. Langkah ini dilakukan untuk menghindari pemeriksaan ketat oleh petugas imigrasi. Namun, saat dilakukan pemeriksaan, petugas memperhatikan beberapa kejanggalan. Angelo tidak memiliki data perlintasan masuk atau izin tinggal di Indonesia, yang menjadi alasan utama keraguan petugas terhadapnya.
Proses Pemeriksaan dan Upaya Kabur
Keberangkatan Angelo dan tiga penumpang lainnya sempat ditunda oleh pihak imigrasi setelah petugas memeriksa dokumen mereka. Meski tiga penumpang lain dinyatakan tidak mempunyai masalah, Angelo tetap menjadi fokus perhatian. Dalam proses pemeriksaan, ia dan rekan-rekannya mencoba menyusup kembali ke dalam pesawat tanpa izin. Mereka berusaha lepas landas sebelum pesawat benar-benar memasuki runway.
Pihak imigrasi segera berkoordinasi dengan otoritas bandara untuk menghentikan keberangkatan tersebut. Pesawat kemudian dipaksa kembali ke terminal VIP. Proses ini memakan waktu beberapa menit, tetapi berhasil menghentikan rencana penyelundupan Angelo. Dengan keberhasilan ini, tim imigrasi dapat mengamankan buronan yang berencana membawa barang bukti ke luar negeri.
Koordinasi dengan Bareskrim Polri
Penangkapan Angelo Pandeli tidak hanya terjadi karena kejelian petugas imigrasi, tetapi juga karena kerja sama yang intens dengan Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia atau Bareskrim Polri. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Eko Hadi Santoso, menyebutkan bahwa Angelo adalah salah satu tokoh penting dalam jaringan kejahatan terorganisir lintas negara. “Ia diduga terlibat dalam pengendalian pengiriman prekursor narkotika ke Australia,” tegas Eko.
Dari informasi yang dihimpun, Angelo diduga menjadi pengendali logistik dalam distribusi narkoba. Ia menggunakan jasa pesawat privet CAPA JET untuk mempercepat pengiriman barang ilegal. Keberhasilan penangkapan ini menunjukkan efektivitas kerja sama antara lembaga imigrasi dan polisi dalam menggagalkan rencana penyelundupan. Bareskrim Polri juga mengungkap bahwa Angelo memiliki jaringan luas yang memanfaatkan titik transit seperti Bali untuk mengirimkan narkoba ke negara-negara lain.
Implikasi Penangkapan dan Aksi Selanjutnya
Penangkapan Angelo Pandeli tidak hanya menjadi kemenangan kecil dalam perang melawan narkoba, tetapi juga memberi petunjuk tentang keberadaan jaringan kejahatan internasional yang aktif di Indonesia. Bali, yang kerap menjadi jalur penting bagi pengedar narkoba, kembali menjadi fokus pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran barang ilegal. Peran Angelo dalam mengendalikan pengiriman prekursor narkotika ke Australia menunjukkan bahwa kejahatan ini melibatkan banyak lapisan, termasuk pelaku dan pembantu di luar negeri.
Dalam beberapa bulan terakhir, Bali menjadi destinasi utama bagi pelaku penyelundupan narkoba. Banyak pelaku kejahatan berlindung di daerah ini karena kebijakan lalu lintas yang relatif longgar. Angkutan udara, terutama pesawat privet, menjadi alat utama bagi mereka untuk mengirimkan barang bukti. Angelo Pandeli, yang beroperasi dengan nama palsu, menjadi contoh bagaimana kejahatan narkoba terus berkembang di bawah radar.
Proses Deportasi dan Kewarganegaraan Palsu
Deportasi Angelo Pandeli dilakukan setelah ia berhasil ditangkap. Dalam pemeriksaan, petugas menemukan bahwa ia menggunakan identitas warga negara Brasil sebagai cara mengelabui sistem keimigrasian. Langkah ini menunjukkan upaya Angelo untuk menghindari ketahuan sebagai pelaku kejahatan narkoba dari Australia. Meski begitu, keberadaannya di Bali memberi petugas kesempatan untuk mengamankan dirinya.
Proses deportasi ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus narkoba lintas batas. Selain menangkap Angelo, pihak imigrasi juga menyita beberapa dokumen yang digunakan untuk mempercepat proses keberangkatan. Barang bukti yang ditemukan selama pemeriksaan kemungkinan besar terkait dengan transaksi narkoba besar. Kebijakan koordinasi dengan Bareskrim Polri memastikan bahwa penangkapan ini tidak hanya berhenti pada penggagalan keberangkatan, tetapi juga membuka peluang investigasi lebih lanjut.
“Sudah, dua minggu lalu kalau enggak salah,” kata Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko di kantornya, Jakarta Selatan pada Senin, 22 Juni 2026. Pernyataan tersebut menggambarkan sejauh mana keberhasilan tim imigrasi dalam menangani kasus Angelo. Dengan cepat, pihak berwenang dapat mengambil tindakan tegas, termasuk deportasi, untuk menghentikan keberlanjutan aksinya. Hendarsam menekankan bahwa kecepatan respons menjadi kunci dalam mencegah kejahatan narkoba.
Kasus Angelo Pandeli menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap warga negara asing yang tinggal di Indonesia. Meski ia tidak langsung dijatuhi hukuman, deportasi menjadi langkah paling efektif untuk memutus hubungan jaringannya. Selain itu, penangkapan ini juga menjadi pelajaran bagi para pelaku kejahatan lainnya, bahwa setiap pergerakan mereka tidak luput dari pengawasan lembaga pemerintah.
Bali, yang sering dianggap sebagai “surga” bagi pelaku narkoba, kembali menjadi pusat perhatian. Penangkapan Angelo menunjukkan bahwa operasi penyelundupan tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga di kota-kota besar seperti Den
