Kena OTT KPK – Bupati Sukoharjo Sempat Diperiksa di Solo
Bupati Sukoharjo Kena OTT KPK: Lima Pejabat Terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan Kena OTT KPK - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali membuktikan

Bupati Sukoharjo Kena OTT KPK: Lima Pejabat Terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan
Tempatdonasi.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali membuktikan komitmen dalam memberantas korupsi dengan menangkap tangan lima pejabat di wilayah Solo Raya, Jawa Tengah. Dalam operasi yang berlangsung intensif, Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, menjadi salah satu tokoh utama yang Kena OTT KPK. Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa operasi ini merupakan kelanjutan dari penyelidikan tertutup yang telah berlangsung lama di kawasan tersebut.
Menurut keterangan resmi yang disampaikan Budi pada Jumat, 10 Juli 2026, tim penyidik berhasil mengamankan sejumlah lima orang dalam peristiwa tangkap tangan ini. Salah satu dari mereka adalah kepala daerah Sukoharjo yang sedang menjalani masa bakti keduanya. Kasus ini menunjukkan bahwa KPK tidak ragu untuk menindak pejabat daerah yang diduga terlibat dalam praktik korupsi.
“Dalam peristiwa tertangkap tangan ini, tim mengamankan sejumlah lima orang, salah satunya Bupati Sukoharjo,” ujar Budi saat dihubungi pada Jumat, 10 Juli 2026. Ia menambahkan bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya KPK dalam menangani kasus Kena OTT KPK yang melibatkan pejabat daerah.
Proses Pemeriksaan di Solo Setelah Kena OTT KPK
Para pejabat yang terjaring dalam operasi tersebut menjalani pemeriksaan awal di Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta) Surakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Solo. Proses pemeriksaan ini dilakukan secara tertutup oleh para penyidik KPK di lounge lantai dua Gedung 1 Polresta Surakarta sejak Kamis petang. Bagi mereka yang Kena OTT KPK, proses ini menjadi momen penting untuk menjelaskan keterlibatan mereka.
Kepala Polresta Surakarta, Komisaris Besar Catur Cahyono Wibowo, tampak mengawal langsung jalannya proses pemeriksaan oleh KPK. Meskipun hadir di lokasi, ia tidak memberikan pernyataan apapun saat dimintai konfirmasi oleh para wartawan yang menunggu di sekitar markas. Kehadirannya menunjukkan koordinasi yang baik antara KPK dan kepolisian dalam menangani kasus Kena OTT KPK ini.
Pada sekitar pukul 04.20 WIB pagi ini, terlihat sejumlah petugas membawa masuk beberapa koper berwarna hijau menuju lantai dua menggunakan lift gedung. Kemudian pada pukul 05.42 WIB, Etik Suryani terlihat keluar dari lift di lantai satu gedung tersebut. Sementara itu, beberapa pejabat Sukoharjo lainnya turun dari lantai dua melalui tangga. Momen ini menjadi saksi bisu bagi mereka yang Kena OTT KPK dalam kasus pemerasan.
Pergerakan dan Keberangkatan ke Jakarta
Etik tampak mengenakan baju putih berbalut rompi hitam, kerudung hitam, dan masker hitam. Sejumlah wartawan yang telah menunggu selama proses pemeriksaan sejak Kamis malam mencoba mewawancarainya. Namun, Etik tidak memberikan tanggapan ataupun menjawab pertanyaan yang diajukan awak media. Ia juga sempat menghindari dan bergegas menuju sebuah bus di depan Gedung 1 Markas Polresta Surakarta. Peristiwa ini semakin memperkuat narasi bahwa Etik Kena OTT KPK dalam kasus serius.
Etik bersama sejumlah pejabat lainnya itu kemudian naik ke dalam bus tersebut dengan pengawalan aparat. Rombongan meninggalkan Markas Polresta Surakarta sekitar pukul 05.50 WIB menuju Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Para pihak kemudian akan dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait perkara ini. Bagi mereka yang Kena OTT KPK, perjalanan ke Jakarta menandai babak baru dalam proses hukum.
“Adapun perkara ini terkait dugaan pemerasan oleh bupati kepada para perangkat daerah di Kabupaten Sukoharjo,” tulis Budi. Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa kasus Kena OTT KPK yang melibatkan Bupati Etik Suryani memiliki dasar kuat dari penyelidikan yang telah dilakukan.
Profil Etik Suryani dan Dampak Kena OTT KPK
Etik Suryani merupakan Bupati Sukoharjo dua periode yakni 2021-2025 untuk periode pertama dan 2025–2030 untuk periode kedua. Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu terpilih sebagai bupati bersama wakilnya, Eko Sapto Purnomo dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pasangan tersebut berhasil unggul dari kotak kosong dengan meraih 319.923 suara atau 66,76 persen. Kini, setelah Kena OTT KPK, masa jabatannya menghadapi tantangan besar.
Operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Kamis, 9 Juli 2026 ini menjadi perhatian publik. Selain Etik, sejumlah pejabat lain di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dikabarkan ikut ditangkap dalam operasi tersebut dan diperiksa di Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta) Surakarta atau Solo. Kasus Kena OTT KPK ini menjadi sorotan media nasional.
Peristiwa ini menambah daftar kasus korupsi yang melibatkan pejabat daerah di Indonesia. Dugaan pemerasan terhadap para perangkat daerah menjadi fokus utama dalam penyelidikan KPK. Para penyidik akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut di Jakarta untuk memperkuat bukti-bukti yang telah dikumpulkan selama penyelidikan tertutup. Bagi mereka yang Kena OTT KPK, proses hukum akan berlangsung intensif.
Proses hukum akan berlanjut setelah para tersangka menjalani pemeriksaan di Jakarta. Masyarakat menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai hasil penyelidikan KPK dan apakah akan ada tindakan hukum lebih lanjut terhadap Bupati Etik Suryani dan pejabat lainnya yang terjaring dalam operasi ini. Kasus Kena OTT KPK ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pejabat daerah lainnya untuk menjaga integritas dalam menjalankan tugas.
