Diduga Mobil TNI Singgah di Kafe Gontran Cherrier Senopati
Mobil Logistik TNI Terlihat di Kafe Senopati Seiring Penggeledahan Kafe Terkait Kasus Korupsi Special Plan - Sebuah mobil boks yang membawa stiker Dukungan

Mobil Logistik TNI Terlihat di Kafe Senopati Seiring Penggeledahan Kafe Terkait Kasus Korupsi
Tempatdonasi.com – Sebuah mobil boks yang membawa stiker Dukungan Logistik Tentara Nasional Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai Duklog TNI sempat singgah di kawasan kafe Gontran Cherrier Senopati, Jakarta Selatan. Kedatangan kendaraan tersebut terjadi pada hari Rabu, tanggal 8 Juli 2026. Kejadian ini berlangsung bersamaan dengan operasi penggeledahan yang dilakukan di Cafe de’Clan Signature, sebuah kafe yang terletak di Jalan Cilandak Tengah, Cipete, Jakarta Selatan. Operasi ini dipimpin oleh Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kepolisian RI atau Kotastipidkor Polri, bekerja sama dengan Direktur Reserse Kriminal Khusus dari Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya.
Komisaris Besar Budi Hermanto, yang menjabat sebagai Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, menjelaskan bahwa penggeledahan dilakukan di berbagai lokasi pada hari tersebut. Ia menyebutkan bahwa wilayah Jakarta Selatan menjadi salah satu fokus utama dengan empat hingga lima titik yang diperiksa. “Sementara di wilayah Jakarta Selatan ada empat sampai lima titik (yang digeledah),” ujar Budi saat memberikan keterangan di Jakarta Selatan pada hari Rabu tersebut.
Tiga Kasus Korupsi Menjadi Fokus Penggeledahan
Operasi penggeledahan kali ini berkaitan erat dengan tiga perkara korupsi yang sedang ditangani. Pertama, adalah tindak pidana pencucian uang atau TPPU serta kasus suap yang melibatkan PT Asabri. Kedua, terdapat kasus korupsi terkait pasokan batu bara yang sempat menyebabkan blackout di wilayah Sumatera. Ketiga, adalah perkara korupsi yang menyangkut PT Krakatau Steel. Ketiga kasus ini menjadi alasan utama mengapa berbagai kafe dan lokasi terkait diperiksa secara menyeluruh.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh Tempo di Gontran Cherrier Senopati, mobil Duklog TNI tersebut terparkir di area kafe selama kurang lebih satu jam. Kendaraan ini kemudian kembali beranjak sekitar pukul 17.05 WIB. Terpantau jelas, seorang pengemudi yang mengemudikan mobil tersebut berpakaian sipil. Selain pengemudi, terdapat satu penumpang lain yang juga mengenakan pakaian sipil, menunjukkan bahwa kehadiran mobil tersebut mungkin bersifat informal atau tidak terlalu mencolok.
Keterkaitan Kafe dan Kasus Penguntitan
Gontran Cherrier Senopati dan Cafe de’Clan Signature diduga memiliki hubungan yang erat. Cafe de’Clan Signature dulunya dikenal dengan nama Gontran Cherrier Cipete. Kafe yang menyajikan masakan khas Prancis ini menjadi saksi peristiwa penguntitan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, oleh anggota Densus 88 pada tanggal 19 Mei 2024. Febrie dikabarkan sering menghabiskan waktu untuk makan di kafe tersebut.
Dalam kejadian dugaan penguntitan tersebut, pengawal Febrie yang berasal dari polisi militer berhasil memergoki dan menangkap anggota Densus 88 yang sedang membuntuti. Febrie kemudian menghubungi Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI saat itu, Komisaris Jenderal Wahyu Widada, untuk menanyakan alasan dirinya diikuti oleh anggota Densus 88. Namun, Wahyu mengklaim bahwa ia tidak mengetahui soal penugasan tersebut dan meminta agar anggota Densus 88 yang membuntuti Febrie dilepaskan.
Cafe de’Clan bukan kali pertama menjadi sasaran penggeledahan oleh pihak berwajib. Pada tahun 2025, polisi juga telah berencana untuk menggeledah kafe tersebut. Kafe ini dikelola oleh Ferry Yanto Hongkiriwang, yang diduga memiliki keterkaitan dengan Febrie Adriansyah. Dalam rangkaian peristiwa yang terjadi, muncul dugaan penguntitan jilid kedua yang menyasar Ferry Yanto.
Pada hari Jumat, 25 Juli 2025, Ferry yang sedang menikmati makan siang di Bogor Cafe, Hotel Borobudur, Jakarta, dibuntuti oleh anggota Densus 88 bernama Briptu Faisal Faizurrahman. Sadar bahwa dirinya sedang diikuti, Ferry segera menghubungi seorang perwira tinggi TNI. Tidak lama kemudian, beberapa prajurit yang diduga berasal dari BAIS TNI datang ke lokasi dan menahan Briptu Faisal.
Dalam laporan Majalah Tempo edisi 24 Agustus 2025, disebutkan bahwa penegak hukum yang saat itu ikut menyidik kasus penculikan anggota Densus 88 tersebut menyatakan bahwa Briptu Faisal berasal dari tim yang sama dengan personel Densus 88 yang pernah membuntuti Jampidsus Febrie. Berselang tiga hari dari kejadian di Hotel Borobudur, polisi meringkus Ferry Yanto. Ia ditangkap atas dugaan penculikan, penganiayaan terhadap Briptu Faisal, serta perintangan penyidikan. Atas perkara ini, polisi sempat berencana menggeledah Cafe de’Clan yang dikelola Ferry.
Saat dikonfirmasi bahwa restoran de’Clan masih memiliki keterkaitan dengan Febrie, seorang polisi yang ikut dalam penggeledahan hari ini mengatakan bahwa ia memang mendengar ada nama Febrie. “Iya kami dengar tapi kan itu harus dibuktikan dengan dokumen ya,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada indikasi keterkaitan, pembuktian secara dokumen tetap diperlukan untuk memperkuat hubungan tersebut.
Kehadiran mobil Duklog TNI di Gontran Cherrier Senopati menambah lapisan informasi baru dalam kasus-kasus yang sedang berlangsung. Kehadiran kendaraan militer di lokasi kafe yang juga menjadi pusat perhatian dalam kasus penguntitan dan korupsi ini menunjukkan bahwa berbagai pihak mungkin sedang melakukan koordinasi atau investigasi lebih lanjut. Para saksi mata dan petugas yang terlibat dalam penggeledahan memberikan gambaran bahwa proses pembuktian masih terus berlangsung, dengan dokumen-dokumen penting yang akan menjadi kunci dalam menentukan hubungan antara para pihak yang terlibat.
Kasus-kasus korupsi yang melibatkan PT Asabri, pasokan batu bara, dan PT Krakatau Steel semakin kompleks dengan adanya keterkaitan kafe-kafe di Jakarta Selatan. Ferry Yanto Hongkiriwang, sebagai pengelola Cafe de’Clan, menjadi salah satu figur penting yang menghubungkan berbagai peristiwa, mulai dari penguntitan Febrie Adriansyah hingga penculikan Briptu Faisal. Kehadiran mobil TNI di Gontran Cherrier Senopati pada hari Rabu, 8 Juli 2026, menjadi penanda bahwa investigasi dan koordinasi antar lembaga masih terus berlangsung untuk mengungkap seluruh benang merah dalam kasus-kasus ini.
