Abu Vulkanik Letusan Gunung Semeru Dinihari Capai 1,2 Km
i, Kolom Abu Mencapai 1,2 Kilometer Abu Vulkanik Letusan Gunung Semeru Dinihari - Pada Senin dini hari tanggal 13 Juli 2026, aktivitas vulkanik Gunung Semeru

Gunung Semeru Meletus Dini Hari, Kolom Abu Mencapai 1,2 Kilometer
Tempatdonasi.com – Pada Senin dini hari tanggal 13 Juli 2026, aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Letusan besar terjadi dan menyemburkan material abu vulkanik ke atmosfer dengan ketinggian mencapai 1,2 kilometer di atas puncak gunung tersebut. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat sekitar dan otoritas terkait.
Kolom abu yang terbentuk memiliki warna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Arah pergerakan abu mengarah ke sektor barat daya, yang dapat mempengaruhi wilayah-wilayah di sekitarnya. Pengamatan visual dilakukan secara terus-menerus oleh petugas pos pengamatan untuk memantau perkembangan aktivitas gunung berapi tersebut.
Data Seismik dan Jumlah Letusan
Liswanto, petugas yang bertugas di Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru di Lumajang, menyampaikan bahwa erupsi pertama kali tercatat pada pukul 00.49 WIB. Hingga berita ini disusun pada Rabu siang tanggal 13 Juli 2026, telah terjadi lebih dari 18 kali letusan setelah kejadian utama tersebut.
Hasil laporan pengamatan kegempaan yang dilakukan sejak pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB menunjukkan berbagai jenis gempa yang terjadi. Terdapat 33 kali gempa letusan dengan amplitudo berkisar antara 12 hingga 22 milimeter, serta durasi gempa antara 95 hingga 132 detik. Selain itu, tercatat pula 12 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-3 milimeter dan lama gempa 45-73 detik.
Data lebih lanjut menunjukkan adanya 3 kali gempa harmonik dengan amplitudo 10-13 milimeter dan durasi 77-221 detik. Gempa embusan tercatat sebanyak 5 kali dengan amplitudo 3-8 milimeter dan lama gempa 37-94 detik. Sementara itu, gempa tektonik jauh tercatat sebanyak 3 kali dengan amplitudo 5-43 milimeter, nilai S-P antara 16-35 detik, dan lama gempa 37-144 detik.
Sementara itu, hasil pengamatan kegempaan selama 24 jam pada hari Minggu tanggal 12 Juli 2026 mencatat total 89 kali gempa. Komposisinya meliputi 58 gempa letusan, 12 kali gempa guguran, 15 kali gempa embusan, dan 4 kali gempa tremor. Angka-angka ini menunjukkan peningkatan aktivitas yang cukup signifikan dalam periode singkat.
Status Siaga dan Rekomendasi PVMBG
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa status aktivitas Gunung Semeru masih berada di level III atau Siaga. Pernyataan beliau disampaikan pada Senin, 13 Juli 2026, dengan penekanan pada potensi erupsi yang masih ada.
“Masih ada potensi erupsi berupa awan panas guguran,” ujar Isnugroho pada Senin, 13 Juli 2026.
Pada status Siaga ini, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat. Pertama, tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Larangan ini bertujuan untuk menghindari bahaya langsung dari letusan.
Kedua, di luar jarak 13 kilometer tersebut, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 17 kilometer dari puncak. Langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi aliran lahar yang dapat terjadi kapan saja.
Rekomendasi ketiga adalah tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru. Area ini rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang dapat meluncur dengan kecepatan tinggi. Masyarakat juga diminta untuk selalu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
Peningkatan aktivitas vulkanik ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari otoritas terkait. Evakuasi dan persiapan tanggap darurat perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk meminimalkan risiko bencana.
Pilihan Editor: Kondisi Kekeringan di Jawa Barat
Di sisi lain, berita pilihan editor menyoroti kondisi cuaca di wilayah Jawa Barat. Bekasi Bagian Barat termasuk dalam daerah yang mengalami kekeringan terpanjang di Jawa Barat. Kondisi ini terjadi akibat minimnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir, yang berdampak pada ketersediaan air bagi masyarakat dan pertanian.
Kedua berita ini menunjukkan dinamika alam yang terjadi di Indonesia, baik dari aktivitas vulkanik maupun perubahan cuaca. Masyarakat diharapkan tetap memantau informasi terkini dari sumber resmi untuk mendapatkan data yang akurat dan terpercaya.
