Skip to content
Tekno

Dinding Kawah Gunung Ijen Longsor

Wahyu Santoso - tempatdonasi.com 3 mins read

dalam Laporan Harian Dinding Kawah Gunung Ijen Longsor - Pos Pengamatan Gunung Ijen mengonfirmasi adanya longsor pada dinding kawah vulkanik yang menjulang

Dinding Kawah Gunung Ijen Longsor

Longsor Dinding Kawah Gunung Ijen Tercatat dalam Laporan Harian

Tempatdonasi.com – Pos Pengamatan Gunung Ijen mengonfirmasi adanya longsor pada dinding kawah vulkanik yang menjulang setinggi 2.386 meter di atas permukaan laut. Peristiwa ini resmi dicatatkan dalam laporan pengamatan harian yang mencakup periode 24 jam pada hari Selasa, tanggal 14 Juli tahun 2026. Informasi tersebut memberikan gambaran awal mengenai dinamika aktivitas geologis di kawasan tersebut.

Data Seismik dan Observasi Visual

Nur Hudha, seorang petugas yang bertugas di Pos Pengamatan Gunung Ijen yang berlokasi di Dusun Punggung, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, menyampaikan rincian lengkap mengenai peristiwa longsor tersebut. Menurut catatan yang ia sampaikan, terjadi satu kali longsoran dinding kawah dengan nilai amplitudo sebesar 6 dan durasi gempa tercatat selama 17 detik.

Dari sisi pengamatan visual, Nur Hudha menjelaskan bahwa kondisi gunung api dapat terlihat dengan jelas pada beberapa waktu, namun terkadang juga tertutup oleh awan atau kabut. Ia menambahkan bahwa asap yang keluar dari kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis dan tingginya berkisar antara 50 hingga 100 meter dari puncak gunung. Laporan visual ini disampaikan pada Kamis pagi, 16 Juli 2026, dengan himbauan agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi longsor.

“Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak,” ujar Hudha dalam laporannya Kamis pagi, 16 Juli 2026.

Klasifikasi Gempa dan Tingkat Aktivitas

Berdasarkan data seismik yang dikumpulkan, tercatat adanya dua kali gempa embusan dengan amplitudo berkisar antara 3 hingga 6 milimeter, serta lama gempa antara 19 hingga 59 detik. Selain itu, terdeteksi pula tiga kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 2 hingga 5 milimeter dan durasi 7 hingga 11 detik. Untuk gempa tektonik jauh, tercatat sebanyak tiga kali kejadian dengan amplitudo 2 hingga 8 milimeter, nilai S-P antara 20 hingga 38 detik, dan lama gempa mencapai 54 hingga 215 detik.

Pos pengamatan juga mencatat satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 0,5 hingga 2 milimeter, dengan nilai dominan sebesar 1 milimeter. Berdasarkan seluruh data tersebut, Nur Hudha menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Ijen masih berada di level I atau normal.

“Tingkat aktivitas Gunung Ijen tetap di level I atau normal,” ujar Hudha.

Himbauan Keamanan bagi Masyarakat dan Pengunjung

Dalam kondisi status normal atau level I ini, terdapat beberapa himbauan penting yang perlu dipatuhi oleh masyarakat dan pengunjung. Pertama, masyarakat diminta untuk tidak turun dan mendekati dasar kawah Gunung Ijen. Kedua, aktivitas bermalam atau berkemah di kawasan kawah dalam radius 500 meter dari pusat kawah juga perlu dihindari. Ketiga, wisatawan dan penduduk setempat diminta untuk mewaspadai potensi aliran gas CO2 yang dapat terjadi di sepanjang Sungai Banyupait-Banyuputih. Keempat, potensi gas beracun di sekitar kawah Ijen juga perlu menjadi perhatian utama bagi setiap pengunjung yang berada di kawasan tersebut.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi yang keluar mengenai penyebab pasti longsornya dinding kawah Ijen serta dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan sekitar. Media Tempo telah berusaha mengonfirmasi informasi ini kepada salah satu ketua tim dari Pusat Vulkanologi dan Bencana Geologi (PVMBG). Namun, hingga laporan ini disusun, belum diperoleh klarifikasi resmi dari pihak PVMBG terkait peristiwa tersebut.

Gunung Ijen merupakan salah satu destinasi wisata alam yang populer di Jawa Timur, dikenal dengan fenomena api biru dan danau kawah asam sulfat yang unik. Aktivitas vulkanik yang terus dipantau oleh pos pengamatan membantu memastikan keselamatan para pengunjung dan masyarakat sekitar. Dengan sistem pemantauan yang komprehensif, termasuk seismograf dan kamera pengamatan visual, perubahan aktivitas gunung dapat dideteksi secara dini.

Para ahli geologi dan vulkanologi terus mempelajari pola aktivitas Gunung Ijen untuk memahami mekanisme internal yang memicu longsor dinding kawah. Data historis menunjukkan bahwa longsor dinding kawah dapat terjadi akibat erosi, tekanan gas, atau aktivitas seismik yang terjadi di bawah permukaan. Pemantauan berkelanjutan menjadi kunci untuk memprediksi dan mengantisipasi potensi bahaya di masa depan.

Join the discussion